Tuesday, January 17, 2017

Pesan Paus Fransiskus pada Hari Migran dan Pengungsi Sedunia 2017

Pesan Paus Fransiskus pada Hari Migran dan Pengungsi Sedunia 2017
(15 Januari 2017)
“Migran Anak-Anak, yang Rentan dan Tak Punya Suara”
Saudara-Saudari yang terkasih,
"Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku" (Mrk 9:37; bdk. Mat 18:5, Luk 9:48, Yoh 13:20). Melalui untaian kata tersebut, para Penginjil mengingatkan komunitas Kristiani akan ajaran Yesus yang memberi inspirasi dan sekaligus menantang. Frase tersebut menelusuri jalan setapak sejati menuju kepada Allah, yaitu jalan yang dimulai dengan yang paling kecil, dan melalui rahmat Penebus kita, bertumbuh menjadi praktik untuk menyambut orang lain. Menyambut adalah syarat yang diperlukan untuk membuat perjalanan tersebut menjadi kenyataan; bahwa Allah telah menyatukan diri-Nya dengan kita. Dalam diri Yesus, Allah menjadi seorang anak, dan keterbukaan iman akan Allah yang menumbuhkan harapan, diungkapkan dalam kedekatan yang penuh kasih dengan yang paling kecil dan paling lemah. Kasih, iman, dan harapan secara aktif hadir dalam karya-karya belas kasih rohani dan jasmani, yang telah kita temukan kembali selama Tahun Yubileum Luar Biasa Belas Kasih Allah yang lalu.
Namun, para Penginjil juga berefleksi tentang tanggung jawab orang yang bertindak melawan belas kasih: “Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut” (Mat 18:6; bdk. Mrk 9:42, Luk 17:2). Bagaimana kita dapat mengabaikan peringatan keras ini ketika menyaksikan eksploitasi yang dilakukan oleh orang-orang yang jahat itu? Eksploitasi ini membahayakan hidup remaja perempuan dan laki-laki yang dijerumuskan ke dalam prostitusi atau terperosok dalam lumpur pornografi; yang diperbudak sebagai buruh atau tentara anak-anak; yang terperangkap dalam perdagangan obat bius dan bentuk kriminalitas lainnya; yang terpaksa mengungsi dari konflik dan persekusi, yang berisiko menjadi terasing dan terabaikan.
Karena alasan tersebut, pada kesempatan peringatan tahunan Hari Migran dan Pengungsi Sedunia, saya merasa terdorong untuk menarik perhatian kita semua pada kenyataan migran anak-anak, khususnya mereka yang pergi sendirian. Untuk itu, saya meminta setiap dari kita untuk memperhatikan migran anak-anak, yang rentan dalam tiga hal, yaitu bahwa mereka anak-anak, mereka orang asing, dan mereka tidak punya cara untuk melindungi diri mereka sendiri. Saya memohon setiap orang untuk membantu mereka, yang karena berbagai alasan, terpaksa hidup jauh dari tanah air mereka dan terpisah dari keluarga mereka.
Dewasa ini, migrasi bukan hanya fenomena yang terbatas pada kawasan tertentu di planet ini. Migrasi mempengaruhi seluruh benua dan berkembang menjadi situasi tragis dalam skala global. Situasi ini tidak hanya mengenai mereka yang sedang mencari pekerjaan yang layak atau kondisi hidup yang lebih baik, tetapi juga dialami oleh laki-laki dan perempuan, serta kaum lansia dan anak-anak, yang terpaksa meninggalkan rumah mereka dalam pengharapan akan keselamatan, kedamaian, dan keamanan. Anak-anaklah yang pertama-tama harus membayar mahal emigrasi, yang hampir selalu disebabkan oleh kekerasan, kemiskinan, kondisi lingkungan hidup, dan aspek-aspek negatif dari globalisasi. Kompetisi tak terkendali demi keuntungan yang diraup dengan mudah dan cepat, menyebabkan menjalarnya bencana yang jahat seperti perdagangan anak, eksploitasi dan pelecehan terhadap anak-anak, dan secara umum, perampasan hak yang secara intrinsik dimiliki oleh anak-anak sebagaimana dikukuhkan oleh Konvensi Hak Anak.
Masa anak-anak, mengingat sifatnya yang rentan, memiliki kebutuhan yang khas dan tidak dapat dicerabut. Di atas segalanya, anak-anak memiliki hak atas lingkungan keluarga yang sehat dan aman, tempat anak dapat bertumbuh dalam pendampingan serta teladan ayah dan ibunya. Kemudian, ada hak dan kewajiban untuk menerima pendidikan yang memadai, pertama-tama di dalam keluarga dan juga di sekolah, tempat anak dapat bertumbuh sebagai pribadi dan pelaku bagi masa depan mereka sendiri, dan masa depan negara mereka masing-masing. Sungguh, di banyak tempat di dunia ini, membaca, menulis, dan aritmatika dasar masih menjadi privilese bagi sedikit anak saja. Selain itu, semua anak memiliki hak untuk bermain. Singkatnya, mereka memiliki hak untuk menjadi anak-anak.
Di kalangan migran, anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan, karena selagi menatap masa depan, mereka tidak tampak dan tidak punya suara. Situasi darurat dan berbahaya yang mereka alami telah merampas mereka dari kesempatan untuk mendapatkan dokumen-dokumen identitas yang penting dan menyembunyikan mereka dari mata dunia. Karena terpaksa pergi tanpa orang dewasa yang mendampingi, suara mereka tidak terdengar. Karena itu, migran anak-anak dengan mudah terpuruk pada tingkat yang paling rendah dalam degradasi kemanusiaan, di mana ilegalitas dan kekerasan menghancurkan masa depan begitu banyak anak yang tidak berdosa ini, sementara jaringan kejahatan terhadap anak-anak sulit dihentikan.
Bagaimana seharusnya kita merespons kenyataan ini?
Pertama-tama, kita perlu menyadari bahwa fenomena migrasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah keselamatan. Salah satu perintah Allah berkaitan dengan migrasi: "Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir” (Keluaran 22:21); “Sebab itu haruslah kamu menunjukkan kasihmu kepada orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir” (Ulangan 10:19). Fenomena ini merupakan tanda-tanda zaman, yakni tanda yang berbicara tentang karya penyelenggaraan Ilahi dalam sejarah dan komunitas umat manusia, dengan pandangan yang terarah pada persaudaraan universal. Sementara memahami betapa bernilai fenomena migrasi, kendati menyadari penderitaan dan tragedi yang terjadi di dalamnya, serta kesulitan-kesulitan yang terkait dengan desakan untuk menawarkan sambutan yang bermartabat bagi para migran, Gereja mendorong kita untuk mengenali rencana Allah. Gereja mengundang kita untuk menyadarinya, persis di tengah fenomena ini, dengan kepastian bahwa tidak ada seorang pun akan terasing di tengah komunitas Kristiani, yang merangkul “segala bangsa, dan suku, dan kaum, dan bahasa” (Wahyu 7:9). Setiap pribadi berharga; pribadi lebih penting daripada benda, dan nilai sebuah institusi diukur dari caranya memperlakukan hidup dan martabat manusia, khususnya mereka yang rentan, dalam hal ini adalah migran anak-anak.
Selanjutnya, kita perlu mengupayakan perlindungan, integrasi, dan solusi jangka panjang.
Kita pertama-tama perlu menggunakan segala langkah yang mungkin untuk menjamin perlindungan dan keamanan migran anak-anak, karena “anak-anak laki-laki dan perempuan ini seringkali telantar di jalanan, terabaikan, dan menjadi mangsa bagi para pengeksploitasi yang kejam, yang sering menjadikan mereka sebagai objek kekerasan fisik, moral, dan seksual” (Benedictus XVI, Pesan pada Hari Migran dan Pengungsi Sedunia, 2008).
Garis pemisah antara migrasi dan perdagangan manusia kadang amat tipis. Ada banyak faktor yang membuat migran rentan, khususnya jika mereka anak-anak, yaitu kemiskinan dan terbatasnya sarana untuk bertahan hidup – ditambah dengan tuntutan tidak realistis terhadap migran yang diangkat oleh media; rendahnya tingkat melek huruf; ketidakpedulian tatanan hukum negara penerima, serta kesulitan yang terkait dengan budaya dan bahasa negara penerima. Semua ini menyebabkan migran anak-anak tergantung secara fisik dan psikologis. Namun daya yang paling kuat mendorong terjadinya eksploitasi dan kekejaman terhadap anak-anak adalah permintaan pasar. Jika tidak diambil tindakan yang lebih keras dan efektif untuk melawan mereka yang mengambil keuntungan dari kejahatan semacam itu, kita tidak akan mampu menghentikan berlipatgandanya bentuk perbudakan yang membuat anak-anak menjadi korban.
Oleh karena itu, para imigran perlu bekerja sama lebih erat dengan komunitas-komunitas yang menyambut mereka, demi kebaikan anak-anak mereka sendiri. Kita amat bersyukur atas organisasi dan institusi, baik gerejani maupun sipil, yang mencurahkan waktu dan sumber daya untuk melindungi migran anak-anak dari aneka bentuk kejahatan. Penting bahwa kerja sama berkelanjutan yang efektif dan tepat dilaksanakan, tidak hanya kerja sama yang berdasar pada pertukaran informasi, tetapi juga pada penguatan jaringan-jaringan yang mampu memastikan campur tangan yang tepat waktu dan khas. Ini dilakukan tanpa mengabaikan kekuatan komunitas-komunitas gerejani yang nampak, khususnya ketika mereka berpadu dalam doa dan ikatan persaudaraan.
Kedua, kita perlu bekerja bagi integrasi migran anak-anak dan remaja. Mereka tergantung sepenuhnya pada komunitas orang dewasa. Seringkali langkanya sumber daya finansial menghalangi penerapan kebijakan yang memadai bagi migran, yang dimaksudkan untuk membantu mereka dan menuntun mereka untuk masuk dalam komunitas masyarakat. Akibatnya, alih-alih memberlakukan integrasi sosial bagi migran anak atau program repatriasi yang aman dan terdampingi, yang ada hanyalah upaya untuk membatasi masuknya migran, yang pada gilirannya menyuburkan jaringan-jaringan ilegal; atau imigran dipulangkan ke negara asalnya tanpa sedikit pun memperhatikan asas “kepentingan terbaik” mereka.
Kondisi migran anak memburuk ketika status mereka tidak diakui secara resmi atau ketika mereka direkrut oleh organisasi kriminal. Dalam kasus semacam ini, mereka biasanya dimasukkan ke pusat-pusat penahanan (detensi). Bukan hal yang baru bahwa mereka ditangkap, dan karena tidak punya uang untuk membayar denda atau untuk perjalanan pulang, mereka dapat ditahan untuk jangka waktu yang lama, mengalami berbagai bentuk pelecehan dan kekerasan. Dalam kejadian semacam itu, hak negara untuk mengendalikan gerak migrasi dan melindungi kepentingan negara harus dilihat dalam kaitannya dengan tanggung jawab untuk menuntaskan masalah dan mengakui status migran anak, menghormati sepenuhnya martabat mereka, dan mengupayakan pemenuhan kebutuhan mereka saat mereka sendirian, tetapi juga kebutuhan orangtua mereka, demi kepentingan seluruh keluarga.
Yang penting dan mendasar adalah penerapan prosedur nasional yang memadai dan rencana-rencana kerja sama yang disetujui oleh negara asal dan negara tujuan migran, dengan tujuan untuk menghapuskan hal-hal yang menyebabkan anak-anak terpaksa meninggalkan negaranya.
Ketiga, saya menyampaikan seruan yang tulus kepada semua pihak untuk mencari dan menerapkan solusi jangka panjang. Karena merupakan fenomena yang kompleks, masalah migran anak-anak harus diatasi pada sumbernya. Perang, pelanggaran hak asasi manusia, korupsi, kemiskinan, ketidakseimbangan lingkungan hidup, dan bencana adalah penyebab masalah tersebut. Anak-anak adalah yang pertama-tama menderita, entah menderita akibat penganiayaan dan kekerasan fisik lainnya, atau menderita akibat agresi moral dan psikologis, yang hampir pasti meninggalkan bekas luka yang tak terhapuskan.
Oleh karena itu, mutlak perlu mengurai sebab-sebab yang memicu migrasi di negara-negara asal migran. Sebagai langkah pertama, diperlukan komitmen komunitas internasional seluruhnya untuk menghapuskan konflik dan kekerasan yang memaksa orang mengungsi. Selain itu, dibutuhkan perspektif jauh ke depan yang mampu menawarkan program yang memadai di daerah-daerah yang terkena dampak ketidakadilan dan ketidakstabilan yang amat parah, supaya akses terhadap pembangunan yang otentik dapat dijamin bagi semua pihak. Pembangunan ini seharusnya meningkatkan kepentingan anak-anak laki-laki dan perempuan, yang merupakan harapan umat manusia.
Akhirnya, saya ingin menyampaikan sepatah kata bagi Anda yang berjalan di samping migran anak-anak dan remaja: mereka membutuhkan bantuan Anda yang begitu berharga. Gereja pun membutuhkan Anda dan mendukung Anda dalam pelayanan murah hati yang Anda tawarkan. Jangan lelah menghidupi Kabar Gembira dengan jiwa besar, yakni Kabar Gembira yang mengundang Anda untuk mengenali dan menyambut Tuhan Yesus di antara mereka yang paling kecil dan rentan.
Saya mempercayakan semua migran anak-anak, keluarga mereka, komunitas mereka, dan Anda yang dekat dengan mereka, pada perlindungan Keluarga Kudus Nazaret; semoga Keluarga Kudus melindungi dan menemani setiap pribadi dalam perjalanan mereka. Dalam doa-doa saya, dengan senang hati saya memberikan Berkat Apostolik.
Dari Vatikan, 8 September 2016
Fransiskus

MESSAGE OF HIS HOLINESS POPE FRANCIS
FOR THE WORLD DAY OF MIGRANTS AND REFUGEES 2017
[15 January 2017]
“Child Migrants, the Vulnerable and the Voiceless”
Dear Brothers and Sisters,
“Whoever receives one such child in my name receives me; and whoever receives me, receives not me but him who sent me” (Mk 9:37; cf. Mt 18:5; Lk 9:48; Jn 13:20). With these words, the Evangelists remind the Christian community of Jesus’ teaching, which both inspires and challenges. This phrase traces the sure path which leads to God; it begins with the smallest and, through the grace of our Saviour, it grows into the practice of welcoming others. To be welcoming is a necessary condition for making this journey a concrete reality: God made himself one of us. In Jesus God became a child, and the openness of faith to God, which nourishes hope, is expressed in loving proximity to the smallest and the weakest. Charity, faith and hope are all actively present in the spiritual and corporal works of mercy, as we have rediscovered during the recent Extraordinary Jubilee.
But the Evangelists reflect also on the responsibility of the one who works against mercy: “Whoever causes one of these little ones who believe in me to sin: it is better for him to have a great millstone fastened round his neck and be drowned in the depth of the sea” (Mt 18:6; cf. Mk 9:42; Lk 17:2). How can we ignore this severe warning when we see the exploitation carried out by unscrupulous people? Such exploitation harms young girls and boys who are led into prostitution or into the mire of pornography; who are enslaved as child labourers or soldiers; who are caught up in drug trafficking and other forms of criminality; who are forced to flee from conflict and persecution, risking isolation and abandonment.
For this reason, on the occasion of the annual World Day of Migrants and Refugees, I feel compelled to draw attention to the reality of child migrants, especially the ones who are alone. In doing so I ask everyone to take care of the young, who in a threefold way are defenceless: they are children, they are foreigners, and they have no means to protect themselves. I ask everyone to help those who, for various reasons, are forced to live far from their homeland and are separated from their families.
Migration today is not a phenomenon limited to some areas of the planet. It affects all continents and is growing into a tragic situation of global proportions. Not only does this concern those looking for dignified work or better living conditions, but also men and women, the elderly and children, who are forced to leave their homes in the hope of finding safety, peace and security. Children are the first among those to pay the heavy toll of emigration, almost always caused by violence, poverty, environmental conditions, as well as the negative aspects of globalization. The unrestrained competition for quick and easy profit brings with it the cultivation of perverse scourges such as child trafficking, the exploitation and abuse of minors and, generally, the depriving of rights intrinsic to childhood as sanctioned by the International Convention on the Rights of the Child.
Childhood, given its fragile nature, has unique and inalienable needs. Above all else, there is the right to a healthy and secure family environment, where a child can grow under the guidance and example of a father and a mother; then there is the right and duty to receive adequate education, primarily in the family and also in the school, where children can grow as persons and agents of their own future and the future of their respective countries. Indeed, in many areas of the world, reading, writing and the most basic arithmetic is still the privilege of only a few. All children, furthermore, have the right to recreation; in a word, they have the right to be children.
And yet among migrants, children constitute the most vulnerable group, because as they face the life ahead of them, they are invisible and voiceless: their precarious situation deprives them of documentation, hiding them from the world’s eyes; the absence of adults to accompany them prevents their voices from being raised and heard. In this way, migrant children easily end up at the lowest levels of human degradation, where illegality and violence destroy the future of too many innocents, while the network of child abuse is difficult to break up.
How should we respond to this reality?
Firstly, we need to become aware that the phenomenon of migration is not unrelated to salvation history, but rather a part of that history. One of God’s commandments is connected to it: “You shall not wrong a stranger or oppress him, for you were strangers in the land of Egypt” (Ex 22:21); “Love the sojourner therefore; for you were sojourners in the land of Egypt” (Deut 10:19). This phenomenon constitutes a sign of the times, a sign which speaks of the providential work of God in history and in the human community, with a view to universal communion. While appreciating the issues, and often the suffering and tragedy of migration, as too the difficulties connected with the demands of offering a dignified welcome to these persons, the Church nevertheless encourages us to recognize God’s plan. She invites us to do this precisely amidst this phenomenon, with the certainty that no one is a stranger in the Christian community, which embraces “every nation, tribe, people and tongue” (Rev 7:9). Each person is precious; persons are more important than things, and the worth of an institution is measured by the way it treats the life and dignity of human beings, particularly when they are vulnerable, as in the case of child migrants.
Furthermore, we need to work towards protection, integration and long-term solutions.
We are primarily concerned with adopting every possible measure to guarantee the protection and safety of child migrants, because “these boys and girls often end up on the street abandoned to themselves and prey to unscrupulous exploiters who often transform them into the object of physical, moral and sexual violence” (Benedict XVI, Message for the World Day of Migrants and Refugees, 2008).
Moreover, the dividing line between migration and trafficking can at times be very subtle. There are many factors which contribute to making migrants vulnerable, especially if they are children: poverty and the lack of means to survive – to which are added unrealistic expectations generated by the media; the low level of literacy; ignorance of the law, of the culture and frequently of the language of host countries. All of this renders children physically and psychologically dependent. But the most powerful force driving the exploitation and abuse of children is demand. If more rigorous and effective action is not taken against those who profit from such abuse, we will not be able to stop the multiple forms of slavery where children are the victims.
It is necessary, therefore, for immigrants to cooperate ever more closely with the communities that welcome them, for the good of their own children. We are deeply grateful to organizations and institutions, both ecclesial and civil, that commit time and resources to protect minors from various forms of abuse. It is important that evermore effective and incisive cooperation be implemented, based not only on the exchange of information, but also on the reinforcement of networks capable of assuring timely and specific intervention; and this, without underestimating the strength that ecclesial communities reveal especially when they are united in prayer and fraternal communion.
Secondly, we need to work for the integration of children and youngsters who are migrants. They depend totally on the adult community. Very often the scarcity of financial resources prevents the adoption of adequate policies aimed at assistance and inclusion. As a result, instead of favouring the social integration of child migrants, or programmes for safe and assisted repatriation, there is simply an attempt to curb the entrance of migrants, which in turn fosters illegal networks; or else immigrants are repatriated to their country of origin without any concern for their “best interests”.
The condition of child migrants is worsened when their status is not regularized or when they are recruited by criminal organizations. In such cases they are usually sent to detention centres. It is not unusual for them to be arrested, and because they have no money to pay the fine or for the return journey, they can be incarcerated for long periods, exposed to various kinds of abuse and violence. In these instances, the right of states to control migratory movement and to protect the common good of the nation must be seen in conjunction with the duty to resolve and regularize the situation of child migrants, fully respecting their dignity and seeking to meet their needs when they are alone, but also the needs of their parents, for the good of the entire family.
Of fundamental importance is the adoption of adequate national procedures and mutually agreed plans of cooperation between countries of origin and of destination, with the intention of eliminating the causes of the forced emigration of minors.
Thirdly, to all I address a heartfelt appeal that long-term solutions be sought and adopted. Since this is a complex phenomenon, the question of child migrants must be tackled at its source. Wars, human rights violations, corruption, poverty, environmental imbalance and disasters, are all causes of this problem. Children are the first to suffer, at times suffering torture and other physical violence, in addition to moral and psychological aggression, which almost always leave indelible scars.
It is absolutely necessary, therefore, to deal with the causes which trigger migrations in the countries of origin. This requires, as a first step, the commitment of the whole international community to eliminate the conflicts and violence that force people to flee. Furthermore, far-sighted perspectives are called for, capable of offering adequate programmes for areas struck by the worst injustice and instability, in order that access to authentic development can be guaranteed for all. This development should promote the good of boys and girls, who are humanity’s hope.
Lastly, I wish to address a word to you, who walk alongside migrant children and young people: they need your precious help. The Church too needs you and supports you in the generous service you offer. Do not tire of courageously living the Gospel, which calls you to recognize and welcome the Lord Jesus among the smallest and most vulnerable.
I entrust all child migrants, their families, their communities, and you who are close to them, to the protection of the Holy Family of Nazareth; may they watch over and accompany each one on their journey. With my prayers, I gladly impart my Apostolic Blessing.
From the Vatican, 8 September 2016
FRANCIS

Friday, January 6, 2017

MEMBERI SAMBIL MENEMPA DIRI

Lari Marathon?   Untuk apa?
Bolehkah Sahabat Insan mendapat prosentase? Kita juga membutuhkan donasi.
Apa bisa?


Semua mengejutkan. Benar banyak Sekolah – sekolah Dasar yang nyaris ditutup, entah karena kurang peminat ataupun bangunan sekolah yang terancam rubuh. Suatu pemandangan yang biasa di daerah Jawa Tengah dan mungkin demikian juga di daerah lain di bumi pertiwi. Biasa dan lalu biasa saja.

Ketika kita berhadapan dengan korban trafficking, bergelut untuk mendapatkan hak – hak mereka, bersitatap dengan kemiskinan dan batin….. bertemu dengan kebodohan. Ketika mendesak Pemerintah  untuk perlindungan, maju berjuang untuk mendapatkan keadilan bagi mereka, badan terusik dengan anak yang berkeliaran di jalan dan anak yang berhadapan dengan hukum. Bagaikan mata rantai yang tak berpangkal dan tak berujung. Profesimu pun tak dapat memotong tuk mengangkat sebagian. Tinta penamu habis tak mencukupi menulisi berlembar-lembar kertas gugatan, permohonan bahkan himbauan. Suaramu serak meninggalkan telinga-telinga tertutup dan langkahmu terseok nyaris melewati wajah-wajah yang berpaling.

Setelah itu dan saat itu, Sekolah-sekolah Dasar yang biasa itu menarik perhatianmu, diam dan menunggu. Seandainya mereka pernah di sana, jumlah korban trafficking akan meluncur turun. Seandainya mereka di sana, peluh buruh migran kan bersinar bak permata. Dan seandainya mereka di sana, bangsa ini akan menjadi tuan di rumahnya sendiri dan melanglang sebagai ahli atau paling tidak tenaga professional.

Ya ….. ini perjuangan yang harus dan perlu diperjuangkan. Membuka dompet atau pergi ke sentra ATM sangat mudah, mengeluarkan kertas – kertas berwarna biru atau merah tidaklah susah. Namun tidak itu maksudnya; perjuangan membutuhkan usaha, juga mengolah hidup dan menempa diri. Aku bukan pelari dan aku tidak pernah atau sangat  - sangat jarang berlari. Namun untuk anak – anak itu, untuk pekerja – pekerja perempuan di masa datang itu, untuk peluh dan air mata perempuan – perempuan di masa lalu dan masa kini, aku kan berlari. Berencana dan berlatih, memusatkan perhatian dan menguatkan tekad hanya untuk berlari di saat itu nanti.

Sangat sadar akan kekuatan cosmis, tekad dan perjuangan akan menyebar mempengaruhi manusia lainnya. Entah untuk menyemangati atau tersentuh tujuan mulia, donasi pun mengalir mengisi pundi – pundi tuk merenovasi Sekolah Dasar Murukan. Memang ada pepatah, untuk apa dibuat susah bila dapat diselesaikan dengan gampang? Namun sepertinya masyarakat menjelang jenuh dengan bermacam – macam keperluan dan kepentingan, sehingga mungkin sudah saatnya untuk menempuh cara yang sulit demi menggapai tujuan mulia.


Kami sudah mencoba; apakah dirimu berminat?

Friday, December 23, 2016

A safe house in the city

http://sjapc.net/content/safe-house-city

A safe house in the city

The Utama Safe House (USH) is not just a safe house. It is a community that seeks to provide a safe haven for survivors of trafficking and domestic violence, especially those who have no support and are in need of protection. The staff also assist survivors through outreach programmes. USH was initiated by Sahabat Insan, a Jesuit organisation for migrant workers in Indonesia, in collaboration with several other organisations including Pulih (a charity that provides free psychological counselling services) and MiLAP (Partnership for Children and Women Services), and individual women activists.
USH came about as a response to the closure of several institutions that had provided shelters for women in Jakarta. The closure left a void and created a great need for a place where survivors of trafficking and domestic violence could receive support. Many organisations in Jakarta focus on advocacy but few provide a safe house mainly because of high property costs and rents.
Survivors engaged in handicraft as part of trauma healing in the shelterSurvivors engaged in handicraft as part of trauma healing in the shelterIn December 2015, some women activists against trafficking and domestic violence met with Sahabat Insan’s director Fr Ignatius Ismartono SJ to share their concerns regarding the lack of space for trafficking victims. They wanted to start a shelter but had difficulty complying with the documentation required to open such a facility.  Fr Ismartono decided that Sahabat Insan could help by acting as the legal umbrella for USH.
USH opened its doors in January 2016 and has been serving trafficking survivors and conducting public awareness programmes.  Non-government organisations in Jakarta and overseas partners have referred many cases to it.  Interestingly, only a few survivors decide to stay in the safe house. In most cases, their families decide they should go home. They also do not want to make a police report because they are wrongly afraid that the survivors would be held in detention as part of the rehabilitation. They prefer to withdraw and try to forget, which is not only unfair to the survivors and also encourages a sense of impunity in the perpetrators. This is why USH is reaching out to the public, raising awareness in every possible way, such as through movie screenings, youth gatherings and campaigns during car free day events on Sundays in Jakarta.
Volunteerism and networking are a major part of USH’s daily activities. USH provides an opportunity for people between the ages of 19 and 30 to volunteer and a volunteer recruitment drive on social media in January received applications from 140 youths from across Indonesia. Only 60 applicants from Jakarta were selected. They were asked to write a motivation letter and were interviewed by a USH team. In the end, 14, all young women with diverse religious, ethnic and educational backgrounds, were chosen.  Until December, they participate in discussions, service provision and advocacy in USH.  In this way USH doubles as a space where young women have a chance to work with their peers for the marginalised and deprived in society.
In less than a year, USH has built up a strong network with several organisations, such as pro-bono legal aid institutions, institutes providing psychological counselling and anti-trafficking organisations, which facilitate the services it offers especially in sending survivors back to their families. In addition, USH is fortunate to have the support of benefactors who generously offer help and donations in various forms.
Although relatively new, USH has been able to offer real help to survivors, and touch the hearts of survivors and volunteers alike.  It is a place where differences do not matter and young women and victims of abuse can learn from each other.

Thursday, December 22, 2016

Seminar "Perlindungan Dari Kekerasan Bagi Keluarga Buruh Migran"

Hari Kamis, 15 Desember 2016, Sahabat Insan bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP-PA), menyelenggarakan seminar ”PERLINDUNGAN ANAK DARI KEKERASAN BAGI KELUARGA MIGRAN”. Seminar ini bertujuan untuk memperhatikan apa saja dampak-dampak yang diderita oleh anak pekerja migran, saat ditinggal bekerja oleh orang tuanya ke negeri orang. Di akhir seminar, dibagikan buku hasil riset mengenai kondisi anak-anak migran di berbagai negara Asia Pasifik, yang dilakukan dibawah koordinasi Romo Benny Juliawan SJ dari Jesuit Conference of Asia Pacific (JCAP).





registrasi peserta

Ketua Umum Sahabat Insan, Romo I. Ismartono,SJ dalam kata sambutannya mengucapkan selamat datang kepada para pejabat, para narasumber dan seluruh peserta yang hadir. Berlatar belakang dari Hari Buruh Migran Internasional pada tanggal 18 Desember dan Hari Ibu Indonesia tanggal 22 Desember merupakan kesempatan yang baik untuk mencermati bagaimana anak dari keluarga migran dilindungi dari kekerasan secara jasmani maupun rohani, karena secara jasmani ibu berada jauh untuk mencari nafkah. Bapak Ignatius Ismartono menyampaikan kekhawatirannya karena jumlah ibu yang berada jauh dari anaknya semakin besar.  Walaupun sudah banyak pihak yang memberikan solusi atas masalah tersebut, namun masih perlu banyak upaya dari berbagai pihak untuk memikirkan jalan terbaik bagaimana globalisasi yang terjadi saat ini menjadi globalisasi tanpa peminggiran dan globalisasi yang berkeadilan.



Dalam keynote speech-nya, Bapak Dr. Wahyu Hartomo sebagai Sekretaris Menteri (Sesmen) Pada Kementerian PP-PA, mengatakan, membimbing anak-anak yang orang tuanya masih di Indonesia saja, masih banyak permasalahan, apalagi ditinggal atau dibawa ke luar negeri, sehingga permasalahan anak-anak TKI pasti lebih banyak. KPPPA sudah berkiprah dalam hal-hal yang berhubungan dengan anak, yang ditandai dengan adanya Deputi Perlindungan Anak dan Deputi Tumbuh Kembang Anak. Bapak Sesmen mengharapkan dalam seminar ini akan dibahas tentang anak-anak migran di dalam dan di luar negeri, sehingga bisa memberikan input kepada KPPPA bagaimana cara memberikan perlindungan terhadap perempuan dan anak.



Mulai tahun 2016, KPPPA sadar bahwa masalah perempuan dan anak sangat kompleks dan banyak, sehingga membuat sebuah  program unggulan yang melindungi perempuan dan anak, yaitu Three Ends, atau 3-Akhiri, yaitu End Violence Against Women and Children (akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak), End Human Trafficking (akhiri perdagangan manusia) dan End Barriers To Economic Justice (akhiri kesenjangan akses ekonomi terhadap perempuan). Di dalam negeri sudah dikeluarkan berbagai kebijakan, misalnya membentuk P2TP2A di berbagai kota dan propinsi serta Satgas perlindungan anak untuk melakukan sosialisasi sampai tingkat RT RW. Selain itu juga di beberapa desa dan kabupaten didirikan sekolah ramah anak, sehingga diharapkan berbagai kekerasan terhadap anak di sekolah bisa dikurangi, bahkan diakhiri. Sosialisasi kepada masyarakat juga dilakukan sehingga mereka sadar akan masalah tersebut. Dengan diselenggarakan seminar ini, KPP PA berharap akan masukan dari pemerhati buruh migran sebagai input untuk menyusun program-program ke depan. Bapak Sesmen berharap nantinya semua pihak dapat bersama-sama meningkatkan kesadaran pada masyarakat serta mengurangi kekerasan pada anak migran.



Bapak Sesmen dan Ketua Umum Sahabat Insan kemudian secara resmi membuka seminar tersebut, dan dilanjutkan dengan pembacaan doa serta foto bersama.

           

            

Mengawali seminar, moderator Romo Benny Juliawan SJ mengupas apa yang akan didiskusikan hari ini, dua hal yang seringkali dibicarakan terpisah tapi sangat berdekatan. Yang pertama adalah tentang keluarga migran,  bagaimana konteks migrasi di jaman sekarang ini mengubah cara kita berkeluarga atau mengubah cara mengasuh anak, cara berkumpul sebagai suami istri ibu anak dan anak-anak. Hal kedua bahwa situasi yang baru ini membawa tantangan yang baru, yang seringkali berupa situasi yang kita sendiri tidak sungguh-sungguh paham bagaimana perlindungan terhadap anak harus diusahakan dalam konteks keluarga transnasional. Romo Benny kemudian mempersilahkan kedua narasumber menyampaikan paparannya.

Pembicara pertama adalah Ibu Mustaghfiroh Rahayu, MA. seorang dosen dan peneliti di FISIPOL Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Ia mempresentasikan hasil penelitian yang dilakukan bersama-sama dengan dua rekan lainnya yang kebetulan tidak bisa hadir, yang mengambil tema: “Keluarga dan Pengasuhan Anak Buruh Migran di Temon - Kulon Progo, Yogyakarta.”

Temon merupakan salah satu daerah yang saat ini ekonomi masyarakatnya sedang bergejolak karena sebagian besar wilayahnya menjadi program pemerintah untuk pembangunan bandara baru. 

Penelitian ini terjadi melihat adanya gap/bias dalam kajian-kajian mengenai migrasi terutama di Asia, karena kecenderungan bahwa mereka lebih melihat isu-isu ekonomi, atau malah kepada hal-hal yang lebih spesifik yaitu penelitian individu. Penelitian ini mencoba menjembatani antara kedua hal tersebut, yaitu isu mengenai keluarga dan apa akibatnya terhadap anak-anak. Kulon Progo merupakan daerah dengan jumlah pengiriman TKI terbesar kedua di DI Yogyakarta setelah Bantul. Perubahan gejolak sosial yang sedang terjadi akibat pembangunan bandara juga akan lebih berdampak pada keluarga. Obyek penelitian anak-anak SMP dengan metode kualitatif/wawancara serta wawancara sekunder pada pengasuh, yaitu ayah dan neneknya.

Migrasi adalah salah satu pekerjaan alternatif di saat di tempat asal tidak bisa memberikan mata pencaharian/tidak bisa menyelesaikan masalah sosial. Kadang malah jadi alternatif utama. Berdasar data PODES (Potensi Desa) tahun 2011, jumlah BMI di KP terdiri dari 992 BMI perempuan (61 persen) adan 642 BMI laki-laki (39 persen). Alasan bermigrasi: pertama, kondisi geografis, kedua, kondisi keluarga, yaitu berkaitan dengan jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungan ekonomi dalam satu rumah tangga, dan ketiga, lingkungan sosial, yakni adanya contoh atau praktik migrasi ke luar negeri yang dilakukan oleh tetangga di desa/ dusun lain atau pun oleh anggota keluarga besar. Dalam berbagai kajian migrasi disebutkan bahwa lingkungan sosial ini banyak berpengaruh terhadap jumlah orang yang tertarik melakukan migrasi, karena menular. Orang Indonesia banyak disukai oleh majikan di luar negeri karena karakteristiknya yang penurut dan tidak banyak menuntut. Persoalannya, saat sebuah keluarga harus menentukan siapa yang berangkat untuk bermigrasi, jawabannya adalah perempuan/ibu, karena pekerjaan yang tersedia itu untuk para ibu.

Penelitian terdiri dari 2 hal: keluarga dan pengasuhan. Migrasi ini sebenarnya menggoyang pemahaman kita sebagai keluarga ‘normal’ yang tinggal dalam satu atap atau ada unsur kedekatan fisik. Namun penelitian ini lebih ingin mengetahui bagaimana pemikiran anak-anak dengan definisi keluarga. Sebagian besar jawabannya adalah ayah dan ibu adalah keluarga inti.
   
Bagaimana sebuah keluarga selalu tetap bersatu sebagai keluarga walau berjauhan, adalah teknologi. Mereka saling berkomunikasi untuk pengasuhan jarak jauh. Akibat lain anak jadi manja. Kebutuhan pertama gadget, computer. Dan ibu selalu berusaha memenuhi keinginan anak-anaknya sebagai perwujudan kasih sayang.

Nenek mempunyai peran penting dalam proses pengasuhan, karena menjalankan fungsi sebagai orang ibu. Saat memilih mau diasuh oleh ayah atau nenek, anak-anak tetap memilih untuk diasuh oleh ayahnya. Nenek jadi pilihan bila kedua orang tua mereka bermigrasi.

Dalam banyak kajian internasional terkait para ayah yg menjadi ortu tunggal karena ibunya menjadi buruh migran, para lelaki cenderung terasa ada maskulinitas dia yang terusik. Tetapi di Kulon Progo mereka tidak merasa terusik. Jadi mereka terbiasa memasak, mencuci, dan pekerjaan rumah tangga lainnya tanpa merasa meninggalkan maskulinitasnya. Hal ini disebabkan karena para ayah tersebut tidak hanya berpangku tangan dan tergantung pada income yang dikirim oleh istri, tetapi juga punya penghasilan sendiri, sehingga menggantikan pekerjaan perempuan/istri hanya dipandang sebagai masalah pembagian peran.

Masalah terjadi ketika anak-anak dilatih dari kecil untuk ditekan emosinya dengan jalan tidak menceritakan masalah atau hal-hal buruk yang menimpanya kepada ibu atau orang tuanya yang jauh di negeri orang, dengan alasan orang tuanya sudah lelah, sehingga mereka menjadi pribadi yang tertutup, pendiam dan tidak terbiasa mengeluarkan emosi.

Masalah lainnya adalah, berkurangnya kedekatan emosional antara ibu dan anak. Anak-anak tidak pernah merasa dekat dengan ibunya. Contohnya, saat ibunya pulang kampung, sang anak tetap ingin tidur dengan bapaknya, bukan ibunya.

Presentasi oleh Ibu Mustaghfiroh Rahayu, MA
Dari presentasi tersebut, moderator merangkum bahwa ada 3 masalah yang muncul dalam keluarga migran yaitu::
1.      Pengasuhan jarak jauh
2.      Pengasuhan terjadi dalam lintas generasi
3.     Dalam keluarga transnasional, terjadi pergeseran peran gender, ayah dan ibu bertukar posisi.

Ada 6,5 juta TKI di luar negeri. Dan pasti ada ratusan ribu sampai jutaan keluarga yang terpengaruh atau situasi hidupnya berubah karena proses migrasi. Bagaimana masyarakat, keluarga dan negara dapat melakukan perlindungan terhadap anak-anak transnasional semacam ini, dibahas oleh narasumber selanjutnya, yaitu Bapak Hadi Utomo, Pemerhati Anak, Ketua Yayasan Bahtera (Bina Sejahtera Indonesia), Mitra Kerja KPPPA, yang mengambil tema: Konvensi Hak-hak Anak, yang membahas hukum dan kebijakan yang perlu menjadi prioritas saat membahas tentang anak migran, dan satu konvensi yang telah disahkan, yaitu migran workers.

Presentasi oleh Bapak Hadi Utomo
Pertama, Indonesia meratifikasi yang disebut Prof Muladi sebagai induknya HAM Kovenan Ekosob (yang banyak membahas buruh migran) melalui UU no 11 tahun 2005 dan Kovenan Sipol melalui UU no 12 tahun 2005. Dengan meratifikasi ini Indonesia mengambil resiko besar karena harus merombak hak-hak ekonomi, sosial budaya, termasuk di dalamnya hak buruh migran yang sudah tercantum dalam UU Ketenagakerjaan no 13 tahun 2003 yang harus diubah dan disesuaikan dengan Kovenan.  Turunannya ada di Komisi Hak Anak.

Di Komisi Hak Anak (KHA), terdapat delapan klaster atau kelompok, yaitu:
  1. Langkah-langkah Umum Implementasi
  2. Definisi Anak
  3. Prinsip-prinsip Umum KHA
  4. Hak Sipil dan Kebebasan
  5. Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan Alternatif.
  6. Kesehatan dan Kesejahteraan Dasar
  7. Langkah-langkah Perlindungan Khusus
  8. Pendidikan, Waktu Luang dan Kegiatan Budaya.
Anak migran termasuk dalam kelompok V. Ibu atau bapaknya migran otomatis anaknya terlantar. Ini satu-satunya isu yang dianggap dan harus masuk dalam perlindungan khusus, di luar kluster perlindungan khusus, yang diperuntukkan bagi anak-anak dalam situasi darurat, anak yang berkonflik dengan hukum, anak yang berada dalam situasi eksploitasi (eksploitasi ekonomi, eksploitasi sebagai pengguna atau pengedar narkoba, eksploitasi seksual dan kekerasan seksual termasuk di dalamnya pornografi anak, serta penculikan, perdagangan dan trafiking, dan eksploitasi bentuk lainnya), dan kelompok minoritas dan suku terasing.

Di dalam kelompok V secara spesifik disebutkan bahwa, anak yang tercabut secara temporer dan permanen dari lingkungan keluarganya, harus diberikan perlindungan khusus (special protection and assistance) yang disediakan oleh negara. Kategorinya adalah orang tua yang tidak ada di rumah dalam kurun waktu tertentu, baik di dalam negeri atau luar negeri. Probemnya adalah negara tidak membantu, padahal negara mengambil untung 1 tahun 110 trilyun yang masuk ke keluarga-keluarga migran sehingga negara tidak perlu repot-repot mengentaskan kemiskinan, plus devisa 35 Trilyun yang masuk APBN. Tetapi negara lupa menyatakan bahwa itu bagian dari special protection dan butuh bantuan negara. Bantuannya adalah dia harus mengatakan bahwa anak harus masuk kategori pengasuhan alternatif. Statement ini tidak ada di UU Ketenagakerjaan. Jika ortu bekerja jauh, maka anak harus diselamatkan, diberikan pengasuhan alternatif. Jika diasuh kakek neneknya, maka dibantu untuk konseling.

Tantangan kita ke depan adalah, memasukkan ini dalam UU Perlindungan Anak. Selama ini sudah ada 3 UU yang mengandung undur pengasuhan dan perlindungan anak. Yang pertama UU nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Dalam UU ini dinyatakan bahwa jika orang tua berkelakuan buruk sekali, dan dipandang tidak cakap mengasuh, maka hak asuhnya dicabut. Norma hukum dalam UU ini tidak diikuti oleh struktur (siapa yang akan melakukan) dan proses sehingga pasal itu mati. Yang kedua UU nomor 4 tahun 79 tentang Kesejahteraan Anak, yang menyatakan kuasa asuh orang tua dapat dicabut jika diduga melakukan tindakan yang tidak pantas kepada anaknya. Namun norma hukum dan struktur juga tidak jelas.  UU Perlindungan Anak ketiga adalah UU nomor  23 tahun 2002, yang sebagian pasal diamanemen dalam UU nomor 35 tahun 2014 dan UU nomor  17 tahun  2016.  Semua mengatur tentang pengasuhan dan perlindungan yang tidak mengatur special protection and assistance provided by the state. (negara tidak turut serta dalam program perlindungan anak).  Malah disebutkan untuk menghukum orang tua yang melakukan pelanggaran pidana terhadap anak, maka hukuman diperberat 1/3. KHA menghendaki langkah perdata, orang tua dicabut hak asuhnya untuk beberapa waktu tertentu, bukan dihukum. Anak diselamatkan dulu, dan orang tua wajib ikut kursus parenting skills dan konseling untuk menyelamatkan jiwa dan perbaikan diri sampai mampu mengasuh anak dengan baik.

Kekerasan bukan hanya secara fisik dan mental. Ada yang dampaknya lebih dahsyat daripada itu. Pada pendampingan di daerah-daerah TKW di Cianjur, Bandung Barat, Purwakarta, dan Brebes, anak yang bermasalah dengan narkoba dan perilaku menyimpang, 70% berasal dari anak TKW. Jika negara berhasil menghasilkan pemasukan 35 trilyun dari hasil jerih payah, penderitaan batin dan penderitaan fisik orang tua yang bekerja di luar negeri, negara tidak menyatakan program assistant providing dan protection.

Bantuan yang harus dilakukan adalah memasukkan hal-hal dibawah ini dalam UU Perlindungan Anak:
  1. Pengasuhan alternatif dan perlindungan dari kekerasan, penelantaran (terlantar jiwa harus dimasukkan dalam UU. Anak TKW sudah pasti terlantar jiwa), eksploitasi, tersedia parenting, konseling gratis dan mudah diakses.
  2. Tanggung jawab orang tua/pengasuh dalam mengasuh dan melindungi anak dan menghormati padangan dan pendapat anak.   
Saat ini ada kekosongan hukum, tidak ada lembaga negara yang memiliki kewenangan untuk melakukan deteksi dini terhadap anak yang mengalami kekerasan dan penelantaran di dalam keluarga.

Jika hal tersebut tidak ada, maka anak akan rentan penelantaran (fisik, mental/psikologis, pendidikan, kesehatan), kekerasan fisik, psikis, seksual, eksploitasi dan trafiking, narkoba/napza serta anak berkonflik dengan hukum.

Kumpulan rindu adalah kecewa. Kumpulan kecewa adalah tidak adanya keterikatan batin antara ibu dan anaknya dan rentan dengan perilaku-perilaku di atas.

Negara harus menjamin pengasuhan alternatif untuk anak-anak yang tercabut secara temporer atau permanen melalui undang-undangnya, dalam bentuk antara lain keluarga asuh, rumah perlindungan sementara, kafalah (satu keluarga mengasuh anak tetangga), foster placement, adopsi, atau panti sebagai alternatif terakhir.

Kita telah mengesahkan UU no nomor 6 Tahun 2012 tentang Pengesahan International Convention On The Protection Of The Rights Of All Migrant Workers And Members Of Their Families (Konvensi Internasional Mengenai Perlindungan Hak-Hak Seluruh Pekerja Migran Dan Anggota Keluarganya), namun UU ini belum masuk dalam UU Ketenagakerjaan, atau harus memiliki undang-undang pekerja migran, dengan memasukkan hak anak atas pengasuhan alternatif.

Substansi/Materi Pokok Konvensi Pekerja Migran
Setiap pekerja migran dan anggota keluarganya memiliki hak atas :
  1. Kebebasan untuk meninggalkan, masuk dan menetap di negara manapun,
  2. Hak hidup, hak untuk bebas dari penyiksaan,
  3. Hak untuk bebas dari perbudakan,
  4. Hak atas kebebasan berpikir, berkeyakinan dan beragama,
  5. Hak atas kebebasan berekspresi, hak atas privasi,
  6. Hak untuk bebas dari penangkapan yang sewenang-wenang,
  7. Hak diperlakukan sama di muka hukum,
  8. Hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam hak terkait kontrak/hubungan kerja,
  9. Hak untuk berserikat dan berkumpul,
  10. Hak mendapatkan perawatan kesehatan,
  11. Hak atas akses pendidikan bagi anak pekerja migran,
  12. Hak untuk dihormati identitas budayanya,
  13. Hak atas kebebasan bergerak,
  14. Hak membentuk perkumpulan,
  15. Hak berpartisipasi dalam urusan pemerintahan di negara asalnya,
  16. Hak untuk transfer pendapatan.
  17. Termasuk hak-hak tambahan bagi para pekerja migran yang tercakup dalam kategori-kategori pekerjaan tertentu :
1)       pekerja lintas batas,
2)       pekerja musiman,
3)       pekerja keliling,
4)      pekerja proyek, dan
5)       pekerja mandiri.

Perlindungan khusus merupakan dampak dari gagal perlindungan anak seperti kekerasan fisik, mental, penelantaran, perlakuan menelantarkan, perlakuan ceroboh, eksploitasi anak, dll.  Rumusan di UU harus dipertajam. Satu lagi, bagian dari kekosongan hukum adalah, anak tidak dijadikan korban saat orang tua berkonflik / bercerai. Mereka harus dinyatakan sebagai korban dan punya hak akses untuk konseling.   

Pemukulan berdampak buruk pada perkembangan jiwa dan kepribadian anak, tetapi dampaknya lebih buruk. Mengabaikan setingkat dengan membentak. Saat ini semua orang memiliki alat untuk mengabaikan, yaitu gadget. Dampak pukulan, bentakan, ancaman, hinaan, makian kepada anak adalah rentan gagal asuh dan gagal didik, serta anak menderita batin.


Rangkuman moderator atas presentasi tersebut adalah:
1.   Pak Hadi memetakan dimana sebenarnya ruang proteksi yang bisa diperbaiki untuk anak-anak migran dan anak yang memiliki keretanan tertentu secara umum. Khususnya anak migran adalah tidak memiliki perhatian dari orang tua. Dan perlindungan dalam konteks negara bentuknya adalah UU. Pak Hadi menunjukkan ada lubang besar yang harus digarap untuk perlindungan khusus anak.


2.   Fenomena yang lebih besar adalah persoalan masyarakat yang sedang berubah, misalnya migrasi, dan ada perubahan lain yang khas untuk negara berkembang seperti Indonesia. Pada diri anak, itu menimbulkan kebutuhan batin tertentu. Apakah peran yang harus dilakukan oleh negara dan masyarakat untuk meminimalisir resiko dan memberikan perlindungan kepada anak di hadapan kerentanan baru tersebut?  Kita sedang mencari perubahan-perubahan yang sedang kita tanggapi.


Menyudahi diskusi hari tersebut, moderator mengatakan bahwa  kalau boleh memilih, kita ingin kembali ke masa ketika unia masih tenteram, ketika keluarga belum mengalami gonjang ganjing seperti sekarang ini. Namun hal itu tidak mungkin terjadi. Keluarga dan masyarakat kita sedang mengalami perubahan besar-besaran yang terjadi sangat cepat. Oleh karena itu, bukannya kita mau mempertahankan masa lalu, namun kita mau mencari cara bagaimana kita tidak dilindas oleh perubahan-perubahan ini, agar kita tidak kewalahan menghadapi perubahan. Itu adalah semangat yang kita bangun bersama dalam kesempatan diskusi ini.

Pada kesempatan terakhir, Romo Benny menginformasikan sebuah buku yang telah dibagikan kepada semua peserta pada saat registrasi, yaitu buku hasil kerjasama beberapa lembaga di Asia Pasifik yang melakukan penelitian tentang pola pengasuhan yang terjadi di keluarga-keluarga migran dalam konteks yang berbeda-beda. Ada Indonesia dan Filipina sebagai negara pengirim buruh migran, serta negara Jepang, Taiwan dan Vietnam. Jepang dan Korea adalah negara yang menerima buruh migran, sedangkan Vietnam sebenarnya sama dengan Indonesia sebagai pengirim buruh migran, namun mereka sedang mengalami proses urbanisasi besar-besaran, sehingga banyak keluarga yang mengalami perubahan yang sangat massif. Buku tersebut berbahasa Inggris, karena harus mengakomodir kebutuhan negara-negara tersebut di atas. Tetapi untuk kasus di Indonesia dan Filipina ada terjemahannya, dan bisa dijadikan bahan diskusi lanjutan.


Friday, November 25, 2016

Lari Untuk KaMu

Tanggal 20 November 2016, sebanyak 16 pelari Sahabat Insan berpartisipasi untuk membantu pembangunan SD Kanisius Murukan - Klaten yang mengalami kerusakan bangunan ruang kelas dalam ajang "Lari Untuk KaMu" (SD Kanisius Murukan)  lewat Borobudur Marathon. Borobudur Marathon sendiri merupakan ajang lari yang diselenggarakan dengan tujuan untuk pembinaan dan pengembangan olah raga atletik di Jawa Tengah, serta mempromosikan destinasi wisata Candi Borobudur serta budaya Jawa Tengah kepada turis dalam maupun luar negeri melalui "Sport Tourism".

Sahabat Insan sendiri menunjukkan kepeduliannya untuk turut serta membangun SD Kanisius Murukan karena melihat banyaknya jumlah pekerja migran yang cenderung meningkat dari waktu ke waktu, khususnya mereka yang tidak memiliki pendidikan dan ketrampilan yang cukup untuk bekerja di negeri orang, disertai dengan minimnya perlindungan negara. Dengan turut serta membantu pembangunan sekolah, terutama di daerah-daerah, diharapkan agar tingkat pendidikan generasi berikutnya akan semakin meningkat dan memiliki kesempatan untuk memiliki mata pencaharian yang lebih baik, sehingga dapat mengurangi jumlah pekerja migran, terutama migran yang menderita dan bernasib kurang baik.



Seperti termuat dalam web Asosiasi Alumni Jesuit Indonesia <Lari Untuk KaMu>,  Lari Untuk KaMu atau Lari Untuk SD Kanisius Murukan merupakan kegiatan penggalangan dana untuk membantu renovasi SD Kanisius Murukan, Wedi, Klaten Jawa Tengah yang sejak awal tahun 2016 mengalami kerusakan bangunan kelas. Salah satu atap ruang kelas sekolah ini tiba-tiba roboh, sehingga mengakibatkan murid-murid kelas tersebut harus belajar di tempat parkir, seperti termuat dalam http://berita.suaramerdeka.com/atap-runtuh-siswa-sd-kanisius-murukan-belajar-di-tempat-parkir/ .

Sampai tulisan ini dibuat (25 November 2016), ajang pencarian dana ini telah menghasilkan total pledges sebesar Rp, 660.868.330, atau 132% dari target awal. Semoga proses perbaikan sekolah berjalan dengan lancar dan murid-murid bisa menimba ilmu kembali dengan tenang.