Monday, June 12, 2017

Peluncuran Buku "Miqat Kebinekaan"

Pada hari Jumat, 9 Juni 2017 pukul 15.00 WIB di Gedung PBNU diadakan peluncuran buku "Miqat Kebinekaan: Sebuah Renungan Meramu Pancasila, Nasionalisme, dan NU sebagai Titik Pijak Perjuangan" yang ditulis oleh A. Helmy Faisal Zaini. Peluncuran ini dihadiri oleh para pemuka lintas agama di Indonesia, yaitu Romo Agus Ulahayanan (Komisi HAK KWI), Pendeta Andreas Anangguru Yewangoe (PGI),  Bhiksu Wiraduta (Budha), Romo Daniel Bambang Dwi Byantoro (Gereja Ortodoks Indonesia)  dengan keynote speaker Ketua PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj.  Buku ini merupakan kumpulan naskah dari penulis dalam merespons berbagai persoalan nasionalisme kebinekaan Indonesia dari sudut pandang Nahdlatul Ulama.

Acara diawali dengan penandatangan giant cover, dilanjutkan dengan penyerahan buku secara simbolis dari penulis kepada nara sumber, sambutan-sambutan, serta diskusi oleh para nara sumber yang ditutup dengan buka puasa bersama.


Sambutan diawali oleh Direktur Penerbit Erlangga Bapak Marulam Hutahuruk. Beliau mengatakan bahwa buku ini lahir oleh jiwa yang rindu akan kedamaian dalam kebinekaan, di tengah konflik SARA yang saat ini sangat kental di Indonesia. Buku ini kaya rasa karena membahas dari sisi ekonomi, sosial, budaya, dan politik.

Penulis sendiri menjelaskan, bahwa judul buku ini menggunakan kata miqat, yang dalam bahasa Arab artinya 'batas'. Miqat Kebinekaan menggabungkan antara miqat zamani (waktu) dan miqat makani (ruang). Dimensi ruang dan waktu yang bertemu menjadi kebersamaan itulah yang disebut Miqat Kebinekaan. Lebih jauh penulis mengatakan, bahwa motivasinya menulis buku ini adalah karena banyaknya gerakan yang jauh dari nilai keislaman. Di buku ini ia ingin menampilkan Islam yang ramah, merangkul dan cinta damai.

Sebagai keynote speaker, Ketua PBNU Prof. Dr. KH. Said Agil Siroj dalam kesempatan ini menegaskan bahwa keragaman agama dan budaya di Indonesia merupakan penghargaan dari Tuhan. Lahir di Indonesia, artinya sudah sengaja didesain dan disiapkan oleh Tuhan sebagai bangsa yang bineka dan ini tidak bisa ditawar. Fakta ini sudah diungkap oleh KH Hasyim Ashari, bahwa Islam dan nasionalisme harus saling memperkuat. Nasionalisme adalah bagian dari iman, karena keimanan belum sempurna kalau belum ada semangat nasionalisme. Sejak jaman dulu, NU adalah pembentuk karakter dan jati diri bangsa yang kuat dan solid, akur, gotong royong, cinta damai, tidak menebar fitnah dan kebencian. Para Ulama bergerak di akar rumput dengan menggunakan acara Tahlilan sebagai media rekonsiliasi. Terciptanya kebinekaan salah satunya karena karena para pendiri bangsa punya empati yang besar terhadap minoritas, dan kebinekaan harus dirawat agar tetap dapat dinikmati oleh generasi-generasi mendatang.

Selanjutnya, dalam sesi diskusi dan bedah buku, Pdt Andreas dari PGI mengatakan bahwa dalam buku ini penulis dengan sangat tegas dan berani menyatakan bahwa Pancasila sudah final dan tidak boleh diotak-atik lagi. Hanya perlu dipikirkan bagaimana mengimplementasikan dan mengaktualkan nilai-nilai Pancasila tersebut dalam hidup sehari-hari sehingga tidak hanya berhenti sebagai hafalan. Penulis juga menegaskan bahwa iman Islam bisa difahami secara konkrit dalam ranah nasionalisme. Ini juga memberi ruang kepada agama lain bahwa iman hidup dalam nasionalisme dari perspektif agama masing-masing. NKRI konsep final bangsa indonesia dalam bertata negara. Islam Nusantara dididik dalam Pesantren, sehingga Pesantren memainkan peranan yg penting dalam bernegara. Sekretaris Komisi HAK KWI, Romo Agus Uluhayana menambahkan bahwa Pancasila berhasil mengemas semangat Ketuhanan dan kemanusiaan tersebut secara apik menjadi dasar ideologi bangsa. Apabila kelompok yang berbeda saling menghujat, maka mereka tidak lagi menghayati nilai Pancasila, dan di saat yang sama menentang hasil ciptaan Yang Maha Kuasa. Bhiksu Wirayuda kemudian menegaskan agar masyarakat kembali mengingat semangat Sumpah Pemuda, yaitu satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, dan didalamnya tidak ada kata-kata satu etnis ataupun satu agama. Romo Daniel dari Gereja Ortodoks Indonesia  punya kegalauan sendiri dengan situasi sekarang yang didominasi dengan ancaman dan penuh kebencian.tanpa ada perlawanan. Beliau berharap bahwa akan ada yang dengan kencang menyuarakan pesan damai, seperti yang dilakukan dengan peluncuran buku ini.  Perbedaan yang sudah ada sejak dahulu kala harusnya diwadahi agar tidak terjadi konflik.

Sebagai kata penutup, seluruh perserta sepakat bahwa untuk mengatasi kondisi saat ini, yang diharapkan bukanlah bagaimana mengubah orang yang intoleran menjadi toleran, namun bagaimana orang toleran dapat menjadi agen toleransi. Narasi dalam bentuk tagline/pesan singkat juga sedang dikembangkan agar hal-hal yang disampaikan dapat ditangkap dengan mudah oleh masyarakat. Agar masyarakat tahu, bahwa Pancasila adalah sebuah perkawinan antara local wisdom dan ajaran agama sebagai sesuatu yg indah dan tidak bertentangan . Yang tidak kalah penting adalah mengingatkan bahwa Pancasila digali dari nilai-nilai bangsa, sehingga sebenarnya sudah hidup mengakar di masyarakat kita dan hanya disarikan oleh para pendiri bangsa. Negara hanya bisa mengatur secara kebijakan agar nilai-nilai tersebut selaras dengan kesepakatan kita dalam Pancasila. Oleh sebab itu, cara paling tepat untuk menghidupkan kembali Pancasila di masyarakat adalah dengan pendekatan bottom up, bukan top down. Akhir kata, semua pihak bersyukur dengan adanya NU yang sejak jaman dahulu sampai hari ini dengan gigih memperjuangkan kebinekaan. Diharapkan lembaga-lembaga keagamaan lain pun memiliki semangat yang sama sehingga dapat saling memperkuat dan membentengi diri terhadap semua pengaruh buruk yang dapat merusak kedamaian NKRI.

Friday, June 2, 2017

Seminar Success Story Penyembuhan Kusta - Sebuah Pelajaran dari Kabupaten Lembata NTT

Pada hari Kamis, 27 April 2017, relawan Sahabat Insan (Marsia) yang sedang menjalani program magang di Migrant Care, diundang untuk mengikuti Seminar Nasional Kusta 2017 dengan tema Success Story Penyembuhan Kusta di Lembata, NTT. Seminar diadakan oleh Komisi Keadilan dan Perdamaian - Migran dan Perantau KWI (KKP-KP KWI) bekerja sama dengan Lembaga Psikologi Terapan Kupang (LPT-K). LPT-K sendiri merupakan lembaga riset yang berdiri sejak tahun 2007 dan membawa paradigma baru untuk penyembuhan yang berbasis pada pendekatan holistik, yaitu secara fisik, psiko-sosial dan spiritual. Seminar diadakan di kantor KWI, Jalan Cut Mutia No. 10 Jakarta Pusat pada jam 8 pagi hingga kurang lebih sampai jam 2 siang, dan dihadiri kurang lebih sekitar 120 undangan.




Seminar ini sendiri diadakan dengan tujuan menginformasikan kepada khalayak mengenai metode terkini penyembuhan kusta yang telah terbukti berhasil dilakukan di Lembata, NTT, serta menggalang kerja sama dengan berbagai pihak agar metode ini dapat berkembang dan berguna bagi pihak atau komunitas yang membutuhkannya. Metode tersebut dikenal dengan nama A New Holistik Intervention, sebuah metode pengobatan alternatif yang dikembangkan oleh Drs. Porat Antonius M.A. selama 10 tahun terakhir ini, dan telah menyembuhkan banyak orang di berbagai tempat. 

Acara ini dibuka dengan pemutaran film singkat tentang perjalanan penyembuhan kusta di Lembata NTT, yang dilanjutkan dengan testimoni penyembuhan kusta oleh Ibu Theresia Peni, mantan penderita kusta yang didampingi oleh LPT-K dan sekarang telah dinyatakan sembuh / negatif kusta baik secara medis maupun penelitian laboratorium. Ibu Theresia Peni didiagnosa menderita kusta sejak pertengahan Mei 2015, dan sejak bulan Juni 2016 berada di bawah pendampingan LPT-K untuk melakukan penyembuhan kusta secara holistik.

Drs Porat Antonius, M.A selaku Direktur LPT-K kemudian menjelaskan lebih lanjut tentang metode tersebut. Menurutnya, butuh intervensi menyeluruh bagi penderita kusta agar dapat mengalami kesembuhan secara total. Seperti telah disebutkan di atas, penyembuhan harus dilakukan dari berbagai sisi. Pola pendekatan spiritual, dilakukan dengan memberikan semangat kepada para pasien untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah sesuai dengan agama masing-masing. Selain itu, perlu juga dikembangkan relasi dengan orang lain dan lingkungan sekitar sehingga pasien bisa berdamai dengan diri sendiri dan juga lingkungan sekitarnya. Kondisi psikologis seperti ini akan sangat mendukung kesembuhan pasien kusta. 

Pada seminar ini, hadir pula para perawat yang menceritakan kisahnya selama mendampingi pasien kusta. Pada penelitian awal, di Kabupaten terdapat 76 orang yang terindikasi memiliki penyakit kusta. Dari jumlah tersebut, sebanyak 33 orang setuju untuk ditangani oleh LPT-K, dan akhirnya tersisa 20 orang yang ditangani oleh para perawat sampai mendapatkan kesembuhan totalnya. Langkah pertama yang dilakukan oleh para perawat adalah mengembalikan kepercayaan diri pasien, karena pada umumnya penderita kusta merasa rendah diri serta menutup diri terhadap lingkungan sekitar, serta mengalami penghakiman dari masyarakat. Dengan dukungan semangat dari para perawat, pasien merasa dimanusiakan kembali dan memperoleh kepercayaan dirinya kembali serta memiliki semangat untuk sembuh. Tahap selanjutnya adalah dengan memberikan terapi makanan yang jenisnya berbeda-beda untuk tiap pasien karena setiap kasus adalah unik. 

Selanjutnya, juga dibahas penyembuhan kusta dalam perspektif iman (Katolik, Islam, Kristen, Hindu, Buddha dan Konghucu) juga dalam perspektif ilmu pengetahuan yang dibawakan oleh Dr. Rufus Patty Wutun (Pendekatan secara Psiko-Sosial dan Kesehatan), pendekatan nutrisi dan kesehatan oleh Elisa Rinihapsari, M.Si. Med, temuan hasil penelitian di Kabupaten Lembata oleh Dr. Pius Werawan serta kesehatan, kusta dan persoalan lingkungan hidup oleh Budiman Sitepu

Pada akhirnya, agar dapat mengalami kesembuhan total, diperlukan kerjasama yang konsisten antara pasien, keluarga pasien serta tim perawat dari LPT-K yang mendampingi proses penyembuhan pasien. Serta tidak kalah pentingnya,  melibatkan Allah di setiap tahap yang dilalui sehingga seluruh pihak yang terlibat mendapatkan kekuatan dan harapan akan keberhasilan perjuangan yang sedang mereka lakukan.

Semua materi seminar dapat diunduh melalui link https://seminarkusta.org/

Wednesday, May 3, 2017

Rangkaian Kegiatan Pertemuan JCAP Migration Network di Jepang

Catatan Sr. Laurentina, PI dalam Pertemuan Jaringan Migran - JCAP (Jesuit Conference of Asia Pacific’s Migration Network) di Jepang (http://sjapc.net/content/charting-new-course-migration-network



Syukur pada Allah Penyelenggara, yang karena Kasih-Nya memberikan kepercayaan pada saya untuk menghadiri pertemuan tahunan Jesuit Conference of Asia Pacific’s - JCAP yang diselenggarakan pada tanggal 22 - 26 Maret 2017 di Yesuit Social Center, Sophia University, Tokyo Jepang. Pengalaman pertama bagi saya mengikuti pertemuan ini, dengan keterbatasan bahasa yang sangat minim namun saya tetap bersyukur pada Allah bahwa saya tidak sendirian. Ibu Astuti yang setia dan sabar membantu saya dalam memberikan informasi saat pertemuan tersebut. Saya juga sangat terkesan dalam penyambutan tuan rumah yang sangat ramah dan sangat baik. Kami dijemput oleh Ibu Jessie Tayama yang sangat peka melihat saya kedinginan dan meminjamkan jaket dan syal pada saya. Setelah itu kami diantar ke Tokyo Inn Hotel untuk meletakkan barang-barang kami. Peserta wanita, yaitu Sr. Wei-Wei dan Ibu Chia-Ling dari Taiwan, Sr. Dennis Coghlan dari Kamboja, Ibu Astuti dan saya sendiri, bermalam di hotel tersebut. Untuk peserta yang laki-laki bermalam di rumah Yesuit. Setelah dari hotel, kami langsung menuju kompleks rumah Yesuit, tepatnya di kantor pusat karya Sosial Yesuit Tokyo. Perkenalan singkat dan sangat sederhana serta keramahan tuan rumah,membuat kami merasa diterima dengan baik. Dalam pertemuan yang singkat itu kami membicarakan tentang beberapa hal praktis untuk persiapan pembukaan yang akan dilaksanakan pagi harinya.

Pada tanggal 23 Maret, acara dibuka oleh Provinsial Jesuit Jepang. Dalam sambutannya, beliau mengatakan sangat gembira sekali dapat bertemu dengan para peserta dari berbagai negara, yaitu Indonesia, Jepang, Korea, Thailand, Vietnam, Philipina, dan Taiwan. Jumlah keseluruhan yang hadir aktif ada 17 orang sedang yang 6 orang frater Yesuit Jepang tidak hadir secara penuh karena mereka kuliah dan ada acara yang lain. Sedangkan peran dari perwakilan dari masing-masing negara sesuai dengan tugasnya di organisasi masing-masing antara lain Romo Benny Juliawan sebagai koordinator pertemuan, Pater Ando sebagai Ketua Panitia, dibantu dengan Ms Jessie Tayama serta beberapa frater dari Scholastic Jepang dalam membantu kelancaran acara tersebut. 

Pertemuan tahunan ini intinya adalah evaluasi program yang telah disusun pada tahun yang lalu.  Maka kami mendengarkan sharing dari para peserta tentang apa yang telah dilaksanakan dalam program yang telah dibuat sesuai dengan situasi negara masing-masing. Sebelum datang ke Jepang kami diberi beberapa pertanyaan, sehingga kami langsung sharing. Pertanyaan tersebut sebagai acuan untuk membuat perencanaan strategi jaringan ini dengan analisa SWOT, melihat kekuatan dan kelemahan lembaga kita masing-masing: berapa tenaga permanen yang dimiliki, berapa tenaga yang profesional yang dimiliki, bekerjasama / berjejaring dengan siapa saja lembaga kita ini, kebijakan pemerintah yang bagaimana dapat mendukung program kita terutama persoalan buruh migrant ini. Setelah sharing kami pun memperoleh hasil yang akan dijadikan pegangan untuk program yang akan datang, antara lain: pergantian koordinator jaringan ini yang tadinya dipegang oleh Romo Benny Juliawan sekarang diganti oleh Romo Kim Min SJ dari Korea. Koordinator Rorum Novarum Taiwan yang awalnya dipegang oleh Sr.Wei-Wei mulai tahun ini dipegang oleh Ms. Chia-Ling Chung. Pertemuan yang akan datang yang akan bertindak sebagai tuan rumah adalah Negara Philipina, yang rencananya akan diadakan pada tanggal 18-21 April 2018. Disamping itu semua sepakat untuk meningkatkan kerja sama yang lebih baik lagi, dalam jaringan ini.

Kami juga diberi kesempatan untuk mengunjungi karya-karya sosial Yesuit provinsi Jepang dan relasi yang bekerja sama dalam pelayanan sosial, antara lain ke pendampingan migran, AIA (pendampingan keluarga dan anak-anak), mengunjungi Biara Misionaris Cinta Kasih Suster Theresia Calcuta yang di Jepang sekalian perayaan ekaristi di Biara MC, dan kunjungan juga ke Scholastics Yesuit. Saya sangat terkesan pada saat mengunjungi karya yang dikelola oleh Yesuit provinsi Jepang untuk para migrant dari berbagai profesi yang ditampung dalam wadah CTIC (Catholik Tokyo International Center), khususnya karya sosial dalam pendampingan para migran yang bekerja maupun mahasiswa dari berbagai negara, antara lain Afrika, Rusia, Filipina, Taiwan, Vietnam dan Cina. Mereka memberikan pelayanan yang tulus dan sangat berguna bagi para migran yang mau belajar yang sebagian kaum muda yang ingin maju. Pelayanan tersebut antara lain Refugees Café hari Selasa dan Kamis, Japanese Class hari Selasa, Rabu dan Kamis, Food and Clothing Support hari Senin dan Jumat, Consultation Senin dan Jumat dan Medical Consultation. Dalam pelayanan, mereka tidak memandang suku, ras dan agama, semua dilayani dengan baik.






Acara yang terakhir adalah Symposium yang dihadiri oleh para romo Yesuit yang berada di Tokyo dan beberapa mahasiswa serta para suster dan ibu-ibu relasi para romo, dengan nara sumber perwakilan dari 8 negara. Moderator dalam pertemuan tersebut adalah Romo Benny Juliawan, SJ. Acara dimulai jam 15.00 - 17.00 waktu setempat. Symposium tersebut berjalan sangat lancar dan beberapa yang hadir mengungkapkan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan migran dan trafficking. Selesai acara symposium kami diajak makan bersama dengan Romo Provinsial Jepang di sebuah restoran dekat Yotsuya. Kami mengakhiri acara kebersamaan selama di Jepang dengan penuh keakraban dan sukacita.


Terimakasih yang berlimpah pada Sahabat Insan yang memberikan kesempatan yang sangat berguna bagi saya secara pribadi, terlebih untuk perkembangan karya pastoral human trafficking di Timor dan sekitarnya. Salam Kasih dan Persaudaraaan dari kota Karang (Kupang NTT).





Salam
Sr. Laurentina PI

Wednesday, April 26, 2017

“Buy Our Bodies and Our Land That We May Live” Story of the faceless migrant laborers.

Sebuah tulisan singkat dari makalah M.P Joseph (School of Theology Chang Jung Christian University Tainan, Taiwan)

Seri Catatan dari “The International Seminar On Service – Learning Among Migrant Laborers”, UKDW – Yogyakarta, 27 Februari  - 02 Maret 2017

Cerita tentang Joseph di Sekolah Minggu, sering menyembunyikan 2 (dua) hal. Pertama, tanggung jawab Yusuf dalam perbudakan dan orang Mesir dikondisikan dalam penciptaan perbudakan. Dua, orang Mesir yang pertama kali diperbudak sebagaimana ikon Ibrani kebijaksanaan Joseph. Suku Ibrani datang mencari makanan ke tanah Mesir untuk mengatasi kelaparan, tetapi mereka berakhir sebagai budak.
Akar krisis buruh migran saat ini tidak berbeda dari cerita Yusuf dalam Kejadian 43 - 47. Yusuf belum menggunakan kebijaksanaannya untuk membantu orang-orang di Mesir dalam mengatasi kelaparan. Sebaliknya ia menggunakan bencana alam sebagai sarana untuk memperbudak orang-orang, proses dipekerjakan oleh monopoli kapitalisme pada saat itu, yang digambarkan Naomi Klein sebagai “Kapitalisme Bencana”.
Joseph melakukan empat inisiatif ekonomi :
1.      Membuat langka bahan pokok. Selama tujuh tahun dari panen yang melimpah, Joseph mengisi lumbung negara dengan gandum dan mengosongkan lumbung penduduk, lumbung komunal mereka dan rumah. Kelangkaan dalam hal ekonomi tidak untuk menunjukkan kekurangan pasokan sumber daya, tetapi juga tidak cukup berarti bagi orang untuk mendapatkannya. Kelimpahan dan kelangkaan adalah istilah relatif. Dengan tindakan penimbunan gandum, Joseph menciptakan kelangkaan.
2.      De-monitzation masyarakat. Selama tahun-tahun kelangkaan (kelaparan), Joseph tidak memberikan makanan gratis kepada orang-orang yang dalam kesusahan, tapi dia menjual gabah sampai “mengumpulkan semua uang” (Kejadian 47: 13 - 14) dan kemudian membawa semua itu “ke dalam rumah Firaun”. Logika ekonomi yang Joseph gunakan adalah menarik semua mata uang (pada saat itu: perak dan syikal) dari peredaran yang dengan demikian mencabut kemampuan beli rakyat. Tindakan ini memperburuk kelaparan dan mendorong perekonomian Mesir menuju depresi ekonomi. Jika mata uang tidak beredar untuk membeli makanan dari tempat-tempat lain termasuk Kanaan, rakyat harus berupaya mengatasi kelaparan. Ketika Yakub menyuruh anak-anaknya membeli makanan, ia mengisi tas mereka dengan kacang yang baik, buah-buahan dan bahan makanan lainnya. Kenyataan tidak memiliki makanan dan tidak ada uang (daya beli), ekonomi runtuh dan akhirnya terjebak dalam lingkar kelaparan, kemiskinan dan menjadi benar-benar tergantung pada penguasa yang menimbun modal dan sumber daya.
3.      Ketiga, Joseph menghilangkan subjektivitas ekonomi. Setelah memegang kontrol atas uang (ekonomi tunai), Joseph mengalihkan perhatiannya untuk mengambil infrastruktur. Joseph menjebak orang melakukan barter atas ternak mereka untuk mendapatkan makanan. Selama hampir satu tahun, Joseph mengumpulkan kuda, domba, kambing, sapi, keledai dan semua suplemen yang diperlukan rakyat untuk menjalankan pertanian.
4.      Peruntukan lahan, sumber daya dan “tubuh”. Tahap akhir dari perbudakan adalah konsekuensi alami. Setelah tidak memiliki uang dan tidak dapat berproduksi karena tidak memiliki alat, suku Mesir menjadi takut mati kelaparan, lalu menjual tanah mereka dan “tubuh mereka” kepada penguasa.
Logika ekonomi yang Joseph gunakan, sering terjadi dalam sejarah manusia. Cerita ini diulang beberapa kali dengan berbagai variasi. Fenomena tenaga kerja migran juga demikian.
Menurut perkiraan ILO tahun 2013, ada 150.300.000 pekerja migran di dunia dari jumlah perkiraan 232.000.000 pekerja migran. Dari jumlah 150.300.000 pekerja migrant, 44,3% adalah perempuan dan 55,7% adalah laki-laki. Dari negara-negara tertentu, keseimbangan antara laki – laki dan perempuan berbeda. Misalnya pada tahun 2015, 186.243 orang laki-laki Indonesia bermigrasi ke negara-negara lain dan jumlah perempuan di tahun yang sama dari Indonesia adalah 243.629 orang. Dalam kasus Filipina, dari 2.400.000 pekerja Filipina migran, 1.250.000 orang adalah perempuan. Perempuan telah direnggut dari keluarga mereka, dirampas sehingga keluarga kehilangan lingkungan yang sehat, cinta dan pengasuhan serta keluarga menuju masa depan yang suram.
Pertumbuhan fenomenal ini bertambah dengan adanya agenda neo-liberal “perdagangan bebas”, “pasar bebas”, dan kebijakan liberal untuk gerakan investasi dan modal.
Argumen berikut didasarkan pada tiga asumsi :
1.    Migrasi tenaga kerja tidak keluar dari kehendak pribadi dari pekerja (dipaksa) untuk bermigrasi, tetapi kebutuhan untuk Pemodal. Migran awal dari Indonesia yakni Rezim kolonial Belanda yang mengirim ribuan orang Jawa ke Suriname di Amerika Latin sebagai tenaga kerja murah, bekerja sebagai kuli di perkebunan. Mereka mengungsi dari zona ekonomi relatif nyaman dan dikonversi sebagai modal manusia yang murah. Selain itu, migrasi tidak ditujukan untuk menguntungkan tenaga kerja, tetapi untuk memenuhi dogma “menumpuk dan menumpuk lebih banyak dan lebih”.
Belajar dari masa lampau, penciptaan banyaknya (cadangan) tenaga kerja membantu “pemodal” untuk menjaga biaya produksi turun dan membuat margin keuntungan yang relatif tinggi. Dan penciptaan kelebihan tenaga kerja membutuhkan kondisi yang menjaga pekerja dalam posisi jinak.
2.      Akhir – akhir ini pekerja migran dijadikan “alat politik” oleh pemerintah untuk keuntungan “komoditas ekspor”. Dalam kasus Indonesia, Kementerian aktif mempromosikan dan memfasilitasi ekspor pekerja. Pada tahun 1983, ekspor manusia sebagai komoditas diprivatisasi dengan memberikan lisensi kepada badan-badan swasta untuk merekrut pekerja migran yang menyebabkan pertumbuhan migran yang luar biasa. Pendapatan yang dihasilkan melalui ekspor tubuh manusia mendorong kepemimpinan politik untuk mendirikan Pusat Overseas Employment di Kementerian Tenaga Kerja pada tahun 1984 [diganti sebagai Direktorat Jasa Tenaga Kerja Luar Negeri pada tahun 1994] dengan mandat untuk meningkatkan jumlah ekspor tenaga kerja setiap tahun, baik dengan negosiasi negara penerima dan memberikan pelatihan khusus bagi calon pekerja migran. Kisah ini berulang di hampir semua "negara pengirim".
3.      Konsekuensi pekerja migran adalah ketidak stabilan hubungan keluarga dan masyarakat. Hal ini tidak membantu pembangunan masyarakat manusia yang sehat di mana nilai-nilai kemanusiaan dibayang - bayangi kepentingan pemodal. Kenyataannya, masyarakat kemudian akan diatur oleh para Pemodal.
Gerakan buruh muncul pertama oleh budak dan kuli kontrak di seluruh dunia. Gerakan buruh ini dipicu sebuah teori sederhana: bahwa buruh pengungsi lebih produktif, jinak dan akan tetap tergantung pada majikannya. Oleh karena itu bukan fenomena aneh bila tenaga kerja migran didahului dengan meminggirkan penduduk asli.
Karena hampir 90% dari ruang tanah di dunia berada di bawah kolonialisme Eropa, gerakan buruh juga diasumsikan lintas universal. Pengamatan Arundhati Roy yang telah mejadi umum bahwa negara-negara yang telah berkembang [AS, Eropa, Australia] memiliki masa lalu dalam tanda kutip - masa lalu dengan peminggiran penduduk asli, perbudakan dan penyamarataan. Ini menginformasikan jika negara hendak menuju masa depan yang makmur, “masa lalu tertentu” perlu dilakukan.
Berkaitan kisah Joseph di Mesir, kegiatan ekonomi difokuskan pada akumulasi modal utama; emas, perak dan barang berharga lainnya di Eropa. Enrique Dussel, seorang sejarawan gereja dari Meksiko melaporkan bahwa dalam jangka waktu sepuluh tahun, 1551-1561, jumlah emas dan perak ditransfer dari pulau-pulau Karibia dan Amerika Selatan ke Spanyol sebanyak tiga kali lebih banyak dari akumulasi emas dan perak dari seluruh kawasan Eropa. Hal tersebut terulang dari Asia dan Afrika.
Sejak itu, Pembangunan ekonomi dunia diarahkan oleh kekuatan besar ekonomi Eropa yang diperoleh melalui pengendalian sumber daya. Tidak tercatatnya pekerja migran menyebabkan mereka menjadi pion dalam segala bentuk migrasi. Seperti orang-orang di Mesir meminta kepada Joseph, orang-orang di koloni Eropa juga memohon: "belilah tubuh kami", sehingga kami bisa hidup. Seperti potongan-potongan di papan catur, orang-orang tercerabut dari domisili mereka dan bergerak di seluruh dunia. Tidak ada usaha yang dibuat untuk menciptakan peluang kerja bagi masyarakat di negara masing-masing guna mencegah migrasi skala besar.
Pembatasan impor, ekspor dan pergerakan modal muncul sebagai Negara ketiga untuk menjamin perlindungan industri dan ekonomi masyarakat. Salah satu tujuan adalah penciptaan kesempatan kerja di Negara ketiga dan untuk melengkapi buruh dengan keterampilan baru dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagian besar negara-negara ini memperkuat sistem kesejahteraan mereka seperti juga sistem pendidikan publik sebagai investasi pada kehidupan masyarakat. Inisiatif Negara yang baru merdeka beresonansi dengan pengamatan Amartya Sen bahwa 'kemiskinan' adalah konsekuensi dari kekurangan kemampuan menjalani kehidupan yang baik, kemampuan keterampilan masyarakat, maka tujuan utama adalah ekonomi yang terencana.
Perubahan di Negara ketiga mengakibatkan lambatnya pertumbuhan kapitalisme secara global. Terutama tekad membangun kemampuan dan ekonomi Negara ketiga mengakibatkan stagnasi pertumbuhan ekonomi di negara-negara kaya. Kurang berjalannya investasi baru dan tidak adanya pasar tenaga kerja global mulai menekan upah buruh di negara-negara Barat, dan kelebihan modal terakumulasi sehingga terancam terjadi stagnasi. Untuk mencegah stagnasi dan untuk memperkuat pertumbuhan, pemodal memiliki kebutuhan mendesak untuk menemukan cara-cara ekspansi baru bagi usaha dan kontrol tenaga kerja.
Terlepas dari kontrol atas sumber primer dan akses terbatas kepada pasar, pertumbuhan kapitalis secara struktural tergantung pada penciptaan kondisi yang menjamin kelebihan pasokan tenaga kerja. Massa besar orang harus masuk dan meninggalkan pasar tenaga kerja sesuai kebutuhan modal. Surplus 'tenaga kerja tidak identik dengan surplus orang. Kelebihan Buruh terjadi ketika ekonomi diatur oleh keuntungan yang menciptakan kelebihan pasokan buatan sebagai aturan untuk akumulasi demi akumulasi.
Metode yang lebih kohesif digunakan oleh kapitalis untuk membangun kembali otonomi modal lebih dari hubungan produksi yang mendorong pertumbuhan pengangguran serta realitas migrasi. Dua kekuatan yang mengancaman otonomi pemodal adalah pemerintah nasional dan pekerja serikat. Kebijakan IMP diawasi dan dibatasi secara efektif, atau untuk menghilangkan kekuasaan negara mengatur variabel ekonomi. Selanjutnya IMF dan struktur ekonomi global yang dibuat oleh kapitalis mengancam tingkat kesejahteraan. Akibatnya, individu tanpa modal berharga menawarkan tubuh mereka untuk dibeli sebagai komoditas untuk mempertahankan hidup.
Untuk memastikan kontrol kapital atas semua hubungan produksi sebagai sarana guna mempercepat akumulasi, kapitalisme global memiliki dua strategi: (i) menciptakan kondisi internasional yang menjamin mobilitas modal dari segala penjuru dunia; dan (ii) dengan mempromosikan (non unionizable) alien berduyun-duyun ke pasar tenaga kerja nasional. Ketika kolam tenaga kerja besar, harga tenaga kerja tetap sangat murah dan sebagai hasilnya tingkat akumulasi akan mencapai kisaran tertinggi. Proses yang dikenal sebagai globalisasi, pasar bebas dan semua suku kata lain dengan istilah “bebas” adalah tipuan yang digunakan oleh kapitalis global untuk membuat kolam tenaga kerja yang cukup besar guna menjamin pertumbuhan modal. Ekonomi Barat dengan bantuan Multi-Nasional Corporations, secara sistematis menghancurkan struktur ekonomi Negara ketiga dan mempromosikan proses ekspor tenaga kerja. Mereka memindahkan modal dan tenaga kerja ke satu tempat untuk mempercepat produksi, tetapi di bawah kontrol yang ketat dari pemodal. Langkah-langkah ini juga melemahkan kekuatan serikat pekerja dan otonomi diberikan kepada pemodal atas proses ekonomi keseluruhan. Cerita dari kekalahan perjuangan buruh, menggema dari Detroit ke Seoul, dan dari Bombay ke Sao Paulo menegaskan fakta ini.
Gerakan buruh migran yang dipromosikan; mereka murah, tetapi yang lebih penting, status mereka sebagai alien atau kurangnya kedekatan dengan warga menghalangi mereka untuk mengklaim otonomi dan hak-hak dasar. Sejak kewarganegaraan sejalan dengan hak istimewa tertentu dalam sistem politik modern, potensi bahaya yang melekat. Jika terorganisir, gerakan rakyat dan serikat pekerja bisa mengklaim otonomi atas modal. Revolusi sosialis adalah salah satu contoh dari potensi itu. Dengan mempromosikan migrasi tenaga kerja, modal menang dan menggagalkan setiap potensi bahaya yang mungkin timbul dari serikat pekerja.
Dari sejarah perbudakan, kapitalis belajar bahwa bila kerentanan tenaga kerja meningkat, kekuatan dan otonomi modal juga meningkat. Meskipun tenaga kerja lokal yang tersedia lebih dari cukup untuk mempertahankan hubungan produksi yang kompetitif, logika impor tenaga kerja dari negara lain berguna untuk mengacaukan tenaga kerja lokal dan untuk mendorong pemodal membangun otonominya. Pada saat ini, tidak adanya kerangka hukum yang melindungi para migran, membantu kapitalis menciptakan dan mempertahankan ketergantungan pekerja migran pada mereka; dengan asumsi hidup pekerja migran bergantung pada niat baik dan kemurahan hati majikan. Aturan dalam permainan bertahan hidup membuat mereka bersaing satu dengan yang lain guna mengekspresikan loyalitas total dan gigih demi mengambil hati majikan mereka.
Pada kenyataannya dan sayangnya, tenaga kerja migran telah menjadi tentara bayaran pemodal untuk mengalahkan semangat serikat pekerja di kalangan para pekerja. Meskipun tidak disengaja, untuk kelangsungan hidupnya, pekerja migran menerima peran menjadi tentara bayaran. Kurangnya solidaritas antara pekerja migran dan pekerja lokal adalah hasil alam dari reaksi atas kehadiran para migran.
Tujuan keuntungan dan akumulasi modal akan menjaga tenaga kerja tetap sebagai komoditas pakai. Namun, tindakan produksi harus menjadi tindakan kebebasan; mengalir dalam waktu dan ruang. Perjanjian kebebasan yang dibuat antara Allah dan manusia pertama seperti yang digambarkan dalam Kitab Kejadian mengulangi kekhawatiran pokok kebebasan yakni merealisasikan kemampuan saya, kebenaran saya, nilai dan keindahan dalam hal-hal dan alam untuk memenuhi kebutuhan sosial orang lain. Dengan demikian, produksi menjadi perpanjangan dari diri saya dalam ruang dan waktu; sebuah proses yang memungkinkan subjektivitas saya terungkap; untuk membantu diri sendiri dan orang lain menemukan identitas saya yang sebenarnya. Produksi memperkuat subjektivitas dan tetap sebagai tindakan memanusiakan karena melalui produksi, saya dapat mengidentifikasi diri dan komunitas sosial saya dan rasa saya ada didalam komunitas.. Dalam arti sebenarnya, saya ada karena saya menghasilkan.
Bekerja adalah ibadah. Ketika pekerjaan merupakan bagian dari proses menurunkan derajat manusia, ibadah menjadi setan, tindakan mengundang kejahatan. 

R. Astuti Sitanggang