Tuesday, February 21, 2017

Refleksi Film: Tak Ada Manusia Ilegal

Melanjutkan kegiatan relawan yang sudah dituliskan di artikel sebelumnya, kali ini Gone dan Marsia diminta untuk menonton film: "Tak Ada Manusia Yang illegal" produksi The Institute for Ecosoc Rights dan Yayasan TIFA. Seperti yang tercantum dalam sinopsisnya, buruh migran Indonesia di Malaysia yang menyandang status illegal dan jadi target deportasi, bukan hanya telah bekerja tetapi juga telah menggadai nyawa mereka di Malaysia. Bahkan kemakmuran Malaysia tidak lepas dari peran buruh migran Indonesia. Apa jasa mereka yang tidak resmi ini perlu dihujat? Dideportasi? Kita perlu menggugat istilah "ilegal" yang ditempelkan pada buruh migran Indonesia yang tidak berdokumen. Sebab tidak ada manusia ilegal. Fenomena buruh migran ilegal adalah fenomena ketidakadilan, fenomena eksploitasi tenaga kerja manusia yang berakar pada kebijakan migrasi dan ketenagakerjaan yang membiarkan dan bahkan melegalkan perbudakan. 

Berikut refleksi dari Gone dan Marsia 



Tidak Ada Manusia Ilegal
Giasinta Angguni

Film kedua yang saya tonton terkait buruh migran berjudul ‘Tak Ada Manusia Ilegal’. Film ini menambah wawasan saya bahwa ada banyak sekali ketidakadilan bagi para TKI di luar negeri. Para pelaku ketidakadilan tersebut mulai dari agen/penyalur tenaga kerja dari Indonesia, agen di negara tempat bekerja, majikan, hingga hukum yang tidak berpihak pada para buruh migran. Pertama, sebelum berangkat para buruh migran harus membayar sejumlah uang yan cukup besar kepada agen sebagai administrasi untuk mengurus surat-surat sekaligus untuk biaya pelatihan. Bahkan buruh migran harus menanggung sendiri biaya perjalanan dari tempat tinggalnya menuju tempat penampungan TKI maupun menuju negara tujuan bekerja. Tak jarang agen penyalur berbuat curang dengan memberikan paspor palsu maupun ijin kerja palsu. Belum lagi ketika 6 bulan pertama bekerja, gaji buruh migran harus dipotong untuk membayar hutang kepada agen penyalur.

Saat tiba di negara tempat bekerja, paspor buruh migran ditahan entah oleh agen maupun oleh majikan. Hal ini membuat buruh migran tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak bisa berpindah pekerjaan atau bahkan sekedar jalan-jalan karena tidak memegang paspor. Kehidupan buruh migran bergantung sepenuhnya pada majikan.

Bila buruh migran mengalami penyiksaan, ia hanya bisa pasrah menerima. Mau kabur atau minta pulang ke Indonesia pun tidak mungkin karena paspor yang masih ditahan. Mereka pun akhirnya menjadi manusia ilegal tanpa identitas. Buruh migran dianggap sebagai ‘komoditi’, bukan sebagai manusia.

Buruh migran juga seperti tidak mendapat perlindungan hukum. Ketika terjadi tindak kriminal di negara tempat bekerja yang melibatkan buruh migran, hanya buruh migran saja yang mendapat hukuman berat tanpa memiliki kesempatan membela diri. Sedangkan majikannya seperti tidak tersentuh hukum. Semua kondisi ini yang membuat buruh migran sering sekali mengalami ketidakadilan.

Film ini mengingatkan saya akan mantan asisten rumah tangga – Mbak Etty namanya - yang suatu hari minta ijin kepada ibu saya untuk tidak lagi bekerja pada keluarga kami. Alasannya karena ia ingin menjadi TKW di Malaysia. Dengan berat hati, keluarga kami melepasnya dan mendoakan agar Mbak Etty mendapatkan majikan yang baik di sana. Sudah sekitar lima tahun ia bekerja di Malaysia. Setiap kali Lebaran, Mbak Etty selalu mudik menengok keluarganya dan mampir ke rumah kami. Ia mendapatkan majikan yang baik dan upahnya cukup untuk membiayai keluarganya di Indonesia. Nasib Mbak Etty jauh lebih beruntung ketimbang para TKW yang diwawancara di film.

Setelah menonton film, ada banyak pertanyaan yang muncul di kepala saya. Mengapa pemerintah Indonesia tidak berbuat sesuatu untuk melindungi warganya? Apakah karena pemerintah Indonesia tidak ingin merusak hubungan baik dengan negara lain? Bisakah praktek-praktek korupsi yang dilakukan oleh para agen penyalur diberantas? Apakah tidak ada cara untuk memanusiakan para buruh migran?


Tak Ada Manusia Ilegal
Marsiana Inggita

Sepintas dibenak saya setelah melihat tulisan tersebut maksudnya apa ya? Setahu saya manusia memang tidak ada yang ilegal, kenapa ada judul seperti itu? Ya, ini adalah film dokumenter yang saya tonton siang hari ini masih mengacu kepada buruh migran Indonesia dan kali ini buruh migran untuk Malaysia.

Menurut Kamus Bahasa Indonesia,legal/le·gal/ /légal/ berarti sesuai dengan peraturan perundang-undangan atau hukum, sedangkan Ilegal/ile·gal/ /ilégal/ , berarti tidak legal; tidak menurut hukum; tidak sah.[1] Dari apa yang saya lihat pada film dokumenter ini, ada sekitar 2,5 juta bahkan lebih buruh migran yang bekerja di Malaysia. Tidak hanya di Arab Saudi, buruh migran di Malaysia pun juga mengalami kekerasan, tidak adanya perlindungan hukum bahkan mencapai tingkat kematian paling tinggi.

Legal dan Ilegal menjadi status buruh migran di Malaysia. Legal, jika mereka memiliki pesyaratan sebagai berikut:
1. Berusia sekurang-kurangnya 18 tahun, kecuali bagi calon TKI yang dipekerjakan padapengguna perorangan/rumah tangga sekurang-kurangnya 21 tahun.
2. Sehat jasmani dan rohani.
3. Memiliki keterampilan.
4. Tidak dalam keadaan hamil.
5. Berpendidikan minimal SMP.
6. Calon TKI terdaftar di Dinas Tenaga Kerja di daerah tempat tinggalnya.
7. Mendapat izin dari suami/istri/orang tua/wali dengan diketahui oleh Desa/Kelurahan.
8. Memiliki dokumen lengkap 9. memiliki KTKLN dan KPA[2]

     Sedangkan diluar persyaratan tersebut, TKI dinyatakan ilegal. Tidak hanya itu saja, ilegal pun dinyatakan jika dokumen TKI tersebut ditahan oleh agency atau majikannya sehingga ia memilih untuk bekerja tanpa dokumen dan perlindungan hukum demi mendapatkan upah. Agency palsu pun juga dapat menjadikan para TKI yang ingin bekerja menjadi ilegal. Kasus seperti ini sudah banyak terjadi dan sudah melibatkan banyak TKI untuk ditangkap dan dimasukkan ke penjara bahkan banyak yang dipulangkan ke Indonesia.

Kasus seperti ini menurut saya sama saja dengan halnya korupsi HAM. Manusia mempunyai hak untuk mendapatkan perlindungan bahkan hak untuk hidup. Mengapa pemerintah masih diam saja dalam menegakkan hukum HAM untuk para TKI yang bekerja di luar Indonesia. Selain tidak mendapatkan upah, mereka pun juga mengalami tindak kekerasan, pemerkosaan, bahkan harus mengalami sebagai korban kecelakaan kerja. Pemerintah terlalu lamban dan tidak tegas dalam menangani permasalahan seperti ini.


[1]Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),”Legal/Ilegal”,diakses dari http://kbbi.web.id/legal&http://kbbi.web.id/Ilegal,pada tanggal 14 Februari 2017 jam 15.10
[2]Alan Budiman,”TKI Malaysia (Legal dan Ilegal Menurut Hukum)”,diakses dari http://www.kompasiana.com/alanizecson/tki-malaysia-legal-dan-ilegal-menurut-hukum_551f56d4813311b77f9df656,pada tanggal 14 Februari 2017,jam 17.00

Tuesday, February 14, 2017

Refleksi Film: "Minah Tetap Dipancung"

Mulai awal bulan Februari 2017, dua orang relawan bergabung dengan Sahabat Insan: Giasinta Angguni atau yang akrab disapa dengan Gone serta Marsiana Inggita atau Marsia. Keduanya selama ini aktif di MaGis dan saat ini memiliki waktu untuk membantu kegiatan-kegiatan Sahabat Insan.


Seperti relawan-relawan lainnya, Gone dan Marsia pada tahap awal diminta untuk membaca buku "Pengetahuan Dasar Relawan Sahabat Insan" yang berisi tentang istilah-istilah dan informasi yang berkaitan dengan dunia migran. Seperti diketahui, selama ini Sahabat Insan memang memberikan perhatiannya kepada nasib para TKI, sehingga saat para relawan sudah familiar dengan dunia tersebut, mereka akan dengan mudah masuk untuk terlibat dengan kegiatan-kegiatan Sahabat Insan.

Selanjutnya, mereka berdua diminta untuk menonton beberapa film yang berkisah tentang penderitaan yang dialami oleh para migran, dan setelah itu merefleksikannya. Kali ini, film yang ditonton adalah: MINAH TETAP DIPANCUNG, sebuah film karya Denny JA - Hanung Bramantyo yang kisahnya diadopsi dari www.puisi-esai.com. Film ini mengisahkan seorang TKW yang memiliki mimpi untuk meningkatkan taraf hidup keluarga dengan mencari nafkah di negeri orang. Mimpinya kemudian hancur saat tiba di sana dan mendapati kenyataan demi kenyataan yang malah membuatnya kehilangan nyawa. Berikut refleksi dari Gone dan Marsia tentang film tersebut:


Minah, Potret Ketidakadilan TKW
Giasinta Angguni

“Mas, ijinkan aku menjadi TKW ke Arab supaya anak kita bisa sekolah”. Saya lupa kalimat persisnya, namun kira-kira alasan itulah yang membuat tokoh Aminah dalam film Minah Tetap Dipancung nekat pergi untuk mengais rejeki di negeri orang.

Meski sudah sering melihat berita tentang penyiksaan TKW melalui TV atau koran, saya sering menganggapnya sebagai sebuah persoalan yang tidak berkaitan langsung dengan diri saya. “Ah, itu kan terjadi di tempat yang jauh. Sudah tahu banyak sekali yang disiksa, kok masih ada yang mau jadi TKW di luar negeri?” Begitu pikir saya tiap kali membaca atau menonton berita penyiksaan TKW Indonesia.

Hari ini Romo Is meminta saya menonton film Minah Tetap Dipancung. Karena alasan ekonomi, Aminah atau Minah pun pergi ke Arab Saudi melalui agen penyalur tenaga kerja. Ia harus mengeluarkan dana empat juta rupiah untuk biaya pelatihan, mengurus surat-surat, dan lain-lain. Sawah orang tua pun digadaikan untuk modal Minah pergi ke Arab. Ia berharap gajinya nanti dapat dikirimkan untuk mengganti biaya modal yang telah dikeluarkan. Tekadnya hanya satu, ia ingin membahagiakan keluarganya, terutama anak perempuannya yang ingin bersekolah.

Diiringi isak tangis dari anak serta keluarganya, Minah pun berangkat ke Arab. Ia bekerja sebagai pembantu di sebuah keluarga. Awalnya semua berjalan lancar. Namun, Minah tak kunjung mendapat gaji pertamanya. Ia tak bisa mengirimkan uang kepada keluarganya di kampung. Minah juga tak memiliki hari libur untuk sekedar keluar rumah dan berjalan-jalan.

Majikan pria sering menggoda Minah hingga akhirnya ia diperkosa. Minah diancam untuk tidak mengadukan perbuatannya. Kejadian tersebut dilakukan berulang kali. Minah pun melapor pada istri sang majikan. Bukannya perlindungan yang ia dapatkan, justru istri majikan malah menyiksa Minah karena dianggap telah menggoda suaminya. Minah dipukul, dijambak, bahkan tidak diberi makan.

Suatu ketika, sang majikan berusaha memperkosa Minah lagi. Untuk membela diri, Minah pun menikam majikannya dengan gunting hingga majikannya tewas. Minah pun ditahan dan tidak mendapat bantuan hukum. Di Arab Saudi, nyawa harus dibalas nyawa. Minah pun dihukum pancung tanpa mendapat kesempatan membela diri dan perlindungan hukum.

Ada perasaan tidak enak yang muncul di hati saya setelah selesai menonton film tersebut. Miris. Sedih. Kecewa. Kasus Minah ini pasti sering dialami oleh para TKW Indonesia di luar negeri. Meskipun demikian, setiap tahun Indonesia selalu mengirimkan setidaknya 6,5 juta tenaga kerja ke luar negeri. Mereka pergi tanpa ada perlindungan, mengorbankan banyak hal dengan harapan bisa membawa pulang banyak uang.

Terselip juga perasaan marah karena melihat bagaimana Minah (dan mungkin juga para TKW) diperlakukan. Oleh para majikan, para TKW dianggap barang miliknya yang bebas diperlakukan sesukanya. Sedangkan oleh para penyalur tenaga kerja, para TKW adalah mesin pencetak uang yang dapat mereka peras sesukanya dengan menarik bayaran tinggi sebelum berangkat.

Perasaan-perasaan tidak enak ini terus membayangi saya yang sebelumnya merasa bahwa persoalan para TKW adalah bukan urusan saya. Film Minah Tetap Dipancung berhasil mengetuk rasa kemanusiaan saya. Saya masih belum tahu apa langkah konkret yang bisa saya lakukan untuk membantu nasib para TKW. Namun, sekarang mulai muncul kesadaran dalam diri saya untuk ikut memikirkan nasib mereka.



Minah Tetap Dipancung
Marsia Inggita

Siapakah Minah? Mengapa tulisan ini berjudul “Minah Tetap Dipancung?”. Film yang baru pertama kali saya tonton ini mengisahkan tentang seorang TKI asal Cirebon bernama Minah yang mengais rejeki ke Negeri Saudi Arabia demi bisa menyekolahkan anaknya. Berawal dari melihat keinginan anaknya untuk sekolah dan dikarenakan kondisi perekonomian keluarganya yang sangat tidak mampu dan tidak memungkinkan untuk menyekolahkan anaknya, Minah mengurungkan niatnya untuk terbang ke Negeri Saudi Arabia untuk bekerja sebagai TKW agar bisa mendapatkan penghasilan lebih dan membawa pulang hasilnya tersebut untuk segera diberikan kepada suami dan anaknya.

Akan tetapi, mimpi tetaplah mimpi. Harapan Minah untuk bisa pulang, kembali ke kampung halamannya, bertemu dengan suami, anak dan keluarganya dan membawa hasilnya itu hanyalah sebuah ekspetasi. Disana ia malah diperlakukan buruk oleh majikannya. Berawal dari ketika masakan Minah dipuji lalu Minah tersenyum. Suami majikannya merasa Minah menggodanya, karena pada dasarnya Minah tidak tahu aturan dan budaya senyum disana diartikan sebagai “godaan”. Lalu Minah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dimana Minah diperksa berkali - kali oleh suami Majikannya. Minah berusaha membela dirinya dengan cara salah satunya mengadu kepada istri Majikannya. Ternyata yang diterima Minah malah perlakuan kejam, dipukul dan dicambuk bahkan diseret oleh istri Majikannya.

Sampai pada akhirnya, Minah mencoba untuk membela dirinya ketika suami majikannya berniat untuk memperkosanya lagi, Minah membela dirinya dengan cara membunuh suami majikannya itu. Setelah kejadian itu, Minah langsung mendapatkan tindakan hukum sebagai pembunuh. Di film ini menceritakan juga bagaimana pemerintah Indonesia lamban menangani kasus Minah ini sampai pada akhirnya nasib Minah tidak bisa ditolong lagi. Minah divonis hukuman mati dengan cara dipancung. Pemerintah Indonesia hanya berjanji agar proses hukum Minah segera selesai. Tetapi karena lambannya tindakan dan pemerintah hanya memikirkan egonya sendiri, Minah pun tetap dihukum pancung.

Jujur saja, perasaan saya setelah melihat film ini sangat terpukul sebagai warga negara Indonesia. Saya membayangkan bagaimana jika orang tua, saudara, kerabat dekat saya atau saya sendiri berada di posisi Minah. Kita, warga negara yang menjadi TKI di negara lain berjuang bekerja sebagai buruh migran demi kehidupan keluarga selanjutnya, demi memenuhi kebutuhan hidup dan perekonomian keluarga, agar bisa menyekolahkan anak dan sebagainya. Bagaimana mungkin kita bekerja tidak sama sekali mendapatkan perlindungan hukum dan ketenagakerjaan? Kita berhak! Pemerintah tidak boleh lamban dan diam saja. Apalagi ini menyangkut harga diri seseorang. Menurut saya tindakan pemerintah seperti di film tersebut merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia dan korupsi.

Kenapa saya bisa menghubungkan Korupsi dan Pelanggaran Hak Asasi Manusia? Karena hampir dalam semua kasus korupsi, secara langsung maupun tidak langsung akan diikuti oleh pelanggaran HAM. Perbuatan korupsi selalu berawal dari adanya penyalahgunaan kekuasaan, artinya pelaku korupsi biasanya dilakukan oleh para pemegang kekuasaan. Dengan kata lain, bahwa perbuatan menyimpang yang dilakukan oleh aparat birokrasi dalam bentuk korupsi, dapat membuat kesengsaraan bagi rakyat kecil disuatu negara. Itu artinya dengan perbuatan korupsi telah terjadi perampasan terhadap hak-hak masyarakat atas hak ekonomi, sosial dan budaya, itu berarti telah terjadi pelanggaran HAM.[1]




[1]Oktovianus Lawalatta, “Korupsi dan Pelanggaran Hak Asasi Manusia”,diakses dari http://fhukum.unpatti.ac.id/korupsi/254-korupsi-dan-pelanggaran-hak-asasi-manusia,pada tanggal 13 Februari 2017 pukul 16.31



Tuesday, January 31, 2017

Pemutaran Film "Erwiana - Keadilan Untuk Semua"

Tanggal 16 Januari 2017, Sahabat Insan menghadiri peluncuran dan diskusi film dokumenter "Erwiana - Keadilan Untuk Semua". Acara yang diselenggarakan atas kerja sama Kabar Bumi dan PGI tersebut diadakan di Grha Oikumene PGI dan dihadiri oleh sekitar 100 undangan dari berbagai lembaga, terutama lembaga pemerhati perempuan dan buruh migran. Dalam acara tersebut hadir juga Erwiana serta sutradara Gabriel Odaz. Gabriel Odaz mengatakan bahwa ia termotivasi untuk membuat film tersebut setelah melihat penderitaan para buruh migran, khususnya di Hongkong, dan ingin turut serta memperjuangkan perbaikan nasib buruh migran. Namun karena merasa tidak memiliki cukup pengalaman baik di LSM maupun sebagai aktifis, ia pun memilih menyuarakan permasalahan hak asasi manusia dan perdagangan nausia dengan cara membuat sebuah fim sesuai dengan latar belakangnya sebagai sutradara. Ia berharap bahwa dengan adanya film ini dapat meningkatkan kesadaran pihak-pihak terkait akan adanya perbuatan tidak manusiawi yang seringkali tidak terlihat di mata umum, namun ternyata banyak terjadi di sekitar kita, sehingga diharapkan akan dilaksanakan perbaikan demi perbaikan dan pada akhirnya kasus-kasus serupa tidak akan terjadi lagi.



Film yang berdurasi sekitar 90 menit itu menceritakan seputar kasus yang menimpa Erwiana serta proses advokasi yang dilakukan oleh para pegiat buruh migran Indonesia di Hongkong mengawal kasus tersebut, mulai dari pemulangan Erwiana ke Indonesia sampai akhirnya perjuangan mereka membuahkan hasil dengan hukuman penjara 6 tahun untuk majikan Erwiana. Kisah Erwiana sendiri sudah pernah dituliskan oleh Sahabat Insan dalam artikel Erwiana, Kisah Pahit Yang Berbuah Manis. Dalam film tersebut, dilakukan beberapa wawancara terhadap tim advokasi Hongkong, Chyntia Abdon Tellez (Direktur Mission for Migrants Workers) dan Eni Lestari (JBMI Hongkong), tim advokasi Indonesia: Riyanti dan Karsiweng (Kabar Bumi), beberapa pengamat buruh migran dari Hongkong antara lain Prof. Hans  Ladegaard dari The Hongkong Polytechnic University yang telah melakukan berbagai penelitian tentang buruh migran di Hongkong, Robert Godden, Director of Campaigns & Communications at Rights Exposure dan Eman Villanueva yang sering menyuarakan ketidakadilan terhadap migran di Hongkong, serta beberapa TKW yang sampai saat ini masih bekerja di Hongkong. 





Dalam wawancara-wawancara tersebut, terungkap banyaknya permasalahan migran di Hongkong. Permasalahan yang disoroti adalah besarnya biaya yang harus dibayarkan oleh migran dan dibayarkan tanpa bukti tanda terima/kuitansi, adanya pelecehan fisik dan verbal, perlakuan tidak manusiawi menyangkut jam kerja, jenis pekerjaan, tempat tidur/istirahat dan makan minum, penyitaan paspor oleh agen atau majikan dan masalah lainnya. Permasalahan tidak selalu terdekteksi karena keengganan migran untuk melaporkan kasus yang menimpa dirinya, karena merasa dilema antara merasa diperlakukan tidak adil namun takut kehilangan pekerjaan. Menurut para pengamat, kasus Erwiana yang muncul ini bukan merupakan sebuah kasus khusus, namun merupakan symptomps atau gejala bahwa ada yang tidak beres dalam sistem buruh migran di Hongkong yang perlu diperbaiki.



Pemutaran film dilanjutkan dengan diskusi. Dalam kesempatan ini Erwiana berharap bahwa setelah kasusnya, tidak ada lagi penyiksan-penyiksaan terhadap buruh migran. Namun nyatanya sampai saat ini kasus serupa masih tetap ada. Ia merasa beruntung karena selama di Hongkong banyak lembaga dan teman-teman yang mendukung, namun di negara lain keadaannya belum tentu sama. Walaupun hukuman penjara 6 tahun dirasa tidak maksimal, namun itu sudah hasil perjuangan yang besar serta menghabiskan biaya yang sangat besar oleh seluruh jaringan migran di Hongkong dan di Indonesia, sehingga ia cukup berterima kasih.. Sampai hari ini ia masih sulit untuk menghilangkan trauma atas penyiksaan-penyiksaan tersebut, namun ia berusaha ikhlas dan pasrah serta sampai sekarang masih mendapatkan konseling rutin dengan psikolog selama 2 tahun untuk trauma healing. Sekarang Erwiana juga bergabung dengan Kabar Bumi untuk memperjuangkan nasib teman-temannya yang mengalami ketidakadilan. Erwiana berharap semakin banyak pihak lain yang membantu dan memberikan perhatian kepada nasib buruh migran. 




Menutup diskusi ini, anggota Pokja Buruh Migran PGI Albert Bonasahat mengatakan bahwa pendokumentasian proses advokasi seperti ini menjadi hal yang sangat berguna untuk referensi bagi para pemerhati buruh migran. Film ini juga menekankan betapa pentingnya berjejaring karena dengan demikian semua masalah yang dihadapi akan bisa diselesaikan bersama-sama.

Hal-hal yang dikupas dalam film ini dan perlu mendapatkan perhatian adalah:

  1. Profil dari kebanyakan pekerja migran adalah perempuan karena mereka bekerja sebagai pekerja rumah tangga, berusia muda, dan terdesak akan kebutuhan ekonomi, sehingga mereka pergi keluar negeri bukan karena sebuah opsi tapi terdesak kebutuhan.
  2. Masalah yang biasa dihadapi oleh pekerja migran, terutama pekerja rumah tangga migran. antara lain adalah penganiayaan fisik, penahanan gaji, dan terjebak dalam jeratan hutang tanpa dia mengetahui hutang tersebut untuk apa. Padahal dia berangkat dengan mimpi untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
  3. Apa sebenarnya hak dari pekerja migran. Pekerja termasuk pekerja migran itu bukan komoditas. dia tidak boleh diperlakukan sebagai produk karena dia adalah manusia dengan segala kemanusiaannya. Sebelum berangkat, pekerja migran harus tahu apa saja hak-haknya yang dilindungi secara internasional, jejaring internasionalnya, dan pengenalan mekanisme-mekanisme internasional untuk kasus-kasus ini. Kasus-kasus yang terlihat di film itu sebenarnya terdokumentasi dengan baik dalam review yang dilakukan Committe of Expert of The Application of Convention and Recommendation of ILO. Sejak tahun 2002, dokumentasi dalam film tersebut sudah direkam dan dipertanyakan kepada Pemerintah Indonesia sejak 2002 bagaimana PPTKIS mengurung pekerja migran yang mau pergi dengan dalih pelatihan. Termasuk di dalamnya, bagaimana seorang korban bisa dikuatkan untuk menjalani proses seperti itu? Karena melapor saja itu adalah sebuah persoalan. Saat mengunjungi Hongkong di tahun 2009 dan bertemu dengan Department of Labour, salah satu pejabatnya mengatakan bahwa mereka punya banyak dokumen complain dari pekerja rumah tangga filipina, namun sedikit yang dari Indonesia.
  4. Isu perempuan, khususnya apa yg dialami oleh Erwiana. Dalam pengalaman berdiskusi dengan berbagai kelompok,biasanya kalau melihat apa yang terjadi pada pekerja rumah tangga migran indonesia, sentimen emosinya tinggi. tapi ketika bicara tentnag pekerja rumah tangga yang ada di rumah masing-masing, langsung diam. Ketika kita bicara tentang pekerja rumah tangga, maka bicara tentang perempuan-perempuanyang diperlakukan tidak layak karena keperempuannya. Apa yang mereka lakukan tidak dianggap sebagai pekerjaan karena mereka perempuan. dan mengubah paradigma ini jauh lebih sulit daripada bicara tentang standard gaji, standard kerja yang layak, Perjuangan untuk memintakan hak2 pekerja migran di luar negeri cukup berat, karena mereka akan melihat apakah di Indonesia sudah ada undang-undang yang mengaturnya?   
  5. Hal lain yang bisa dilihat di film tersebut, bagaimana menguatkan keluarga-keluarga yang terpisah minimal 2 tahun. dan untuk menyatukannya kembali. Reintegrasi dengan keluarga menjadi hal yang penting untuk dipikirkan. Film ini memperlihatkan salah satu tantangan bersama dan jadi ranah juang bersama dalam dunia migran. 

Semoga film ini bisa menjadi referensi bagi advokasi para pekerja migran terutama pekerja-pekerja rumah tangga agar ke depannya mereka memiliki nasib yang lebih baik dan diperlakukan secara adil dan manusiawi.









Tuesday, January 17, 2017

Pesan Paus Fransiskus pada Hari Migran dan Pengungsi Sedunia 2017

Pesan Paus Fransiskus pada Hari Migran dan Pengungsi Sedunia 2017
(15 Januari 2017)
“Migran Anak-Anak, yang Rentan dan Tak Punya Suara”
Saudara-Saudari yang terkasih,
"Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku" (Mrk 9:37; bdk. Mat 18:5, Luk 9:48, Yoh 13:20). Melalui untaian kata tersebut, para Penginjil mengingatkan komunitas Kristiani akan ajaran Yesus yang memberi inspirasi dan sekaligus menantang. Frase tersebut menelusuri jalan setapak sejati menuju kepada Allah, yaitu jalan yang dimulai dengan yang paling kecil, dan melalui rahmat Penebus kita, bertumbuh menjadi praktik untuk menyambut orang lain. Menyambut adalah syarat yang diperlukan untuk membuat perjalanan tersebut menjadi kenyataan; bahwa Allah telah menyatukan diri-Nya dengan kita. Dalam diri Yesus, Allah menjadi seorang anak, dan keterbukaan iman akan Allah yang menumbuhkan harapan, diungkapkan dalam kedekatan yang penuh kasih dengan yang paling kecil dan paling lemah. Kasih, iman, dan harapan secara aktif hadir dalam karya-karya belas kasih rohani dan jasmani, yang telah kita temukan kembali selama Tahun Yubileum Luar Biasa Belas Kasih Allah yang lalu.
Namun, para Penginjil juga berefleksi tentang tanggung jawab orang yang bertindak melawan belas kasih: “Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut” (Mat 18:6; bdk. Mrk 9:42, Luk 17:2). Bagaimana kita dapat mengabaikan peringatan keras ini ketika menyaksikan eksploitasi yang dilakukan oleh orang-orang yang jahat itu? Eksploitasi ini membahayakan hidup remaja perempuan dan laki-laki yang dijerumuskan ke dalam prostitusi atau terperosok dalam lumpur pornografi; yang diperbudak sebagai buruh atau tentara anak-anak; yang terperangkap dalam perdagangan obat bius dan bentuk kriminalitas lainnya; yang terpaksa mengungsi dari konflik dan persekusi, yang berisiko menjadi terasing dan terabaikan.
Karena alasan tersebut, pada kesempatan peringatan tahunan Hari Migran dan Pengungsi Sedunia, saya merasa terdorong untuk menarik perhatian kita semua pada kenyataan migran anak-anak, khususnya mereka yang pergi sendirian. Untuk itu, saya meminta setiap dari kita untuk memperhatikan migran anak-anak, yang rentan dalam tiga hal, yaitu bahwa mereka anak-anak, mereka orang asing, dan mereka tidak punya cara untuk melindungi diri mereka sendiri. Saya memohon setiap orang untuk membantu mereka, yang karena berbagai alasan, terpaksa hidup jauh dari tanah air mereka dan terpisah dari keluarga mereka.
Dewasa ini, migrasi bukan hanya fenomena yang terbatas pada kawasan tertentu di planet ini. Migrasi mempengaruhi seluruh benua dan berkembang menjadi situasi tragis dalam skala global. Situasi ini tidak hanya mengenai mereka yang sedang mencari pekerjaan yang layak atau kondisi hidup yang lebih baik, tetapi juga dialami oleh laki-laki dan perempuan, serta kaum lansia dan anak-anak, yang terpaksa meninggalkan rumah mereka dalam pengharapan akan keselamatan, kedamaian, dan keamanan. Anak-anaklah yang pertama-tama harus membayar mahal emigrasi, yang hampir selalu disebabkan oleh kekerasan, kemiskinan, kondisi lingkungan hidup, dan aspek-aspek negatif dari globalisasi. Kompetisi tak terkendali demi keuntungan yang diraup dengan mudah dan cepat, menyebabkan menjalarnya bencana yang jahat seperti perdagangan anak, eksploitasi dan pelecehan terhadap anak-anak, dan secara umum, perampasan hak yang secara intrinsik dimiliki oleh anak-anak sebagaimana dikukuhkan oleh Konvensi Hak Anak.
Masa anak-anak, mengingat sifatnya yang rentan, memiliki kebutuhan yang khas dan tidak dapat dicerabut. Di atas segalanya, anak-anak memiliki hak atas lingkungan keluarga yang sehat dan aman, tempat anak dapat bertumbuh dalam pendampingan serta teladan ayah dan ibunya. Kemudian, ada hak dan kewajiban untuk menerima pendidikan yang memadai, pertama-tama di dalam keluarga dan juga di sekolah, tempat anak dapat bertumbuh sebagai pribadi dan pelaku bagi masa depan mereka sendiri, dan masa depan negara mereka masing-masing. Sungguh, di banyak tempat di dunia ini, membaca, menulis, dan aritmatika dasar masih menjadi privilese bagi sedikit anak saja. Selain itu, semua anak memiliki hak untuk bermain. Singkatnya, mereka memiliki hak untuk menjadi anak-anak.
Di kalangan migran, anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan, karena selagi menatap masa depan, mereka tidak tampak dan tidak punya suara. Situasi darurat dan berbahaya yang mereka alami telah merampas mereka dari kesempatan untuk mendapatkan dokumen-dokumen identitas yang penting dan menyembunyikan mereka dari mata dunia. Karena terpaksa pergi tanpa orang dewasa yang mendampingi, suara mereka tidak terdengar. Karena itu, migran anak-anak dengan mudah terpuruk pada tingkat yang paling rendah dalam degradasi kemanusiaan, di mana ilegalitas dan kekerasan menghancurkan masa depan begitu banyak anak yang tidak berdosa ini, sementara jaringan kejahatan terhadap anak-anak sulit dihentikan.
Bagaimana seharusnya kita merespons kenyataan ini?
Pertama-tama, kita perlu menyadari bahwa fenomena migrasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah keselamatan. Salah satu perintah Allah berkaitan dengan migrasi: "Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir” (Keluaran 22:21); “Sebab itu haruslah kamu menunjukkan kasihmu kepada orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir” (Ulangan 10:19). Fenomena ini merupakan tanda-tanda zaman, yakni tanda yang berbicara tentang karya penyelenggaraan Ilahi dalam sejarah dan komunitas umat manusia, dengan pandangan yang terarah pada persaudaraan universal. Sementara memahami betapa bernilai fenomena migrasi, kendati menyadari penderitaan dan tragedi yang terjadi di dalamnya, serta kesulitan-kesulitan yang terkait dengan desakan untuk menawarkan sambutan yang bermartabat bagi para migran, Gereja mendorong kita untuk mengenali rencana Allah. Gereja mengundang kita untuk menyadarinya, persis di tengah fenomena ini, dengan kepastian bahwa tidak ada seorang pun akan terasing di tengah komunitas Kristiani, yang merangkul “segala bangsa, dan suku, dan kaum, dan bahasa” (Wahyu 7:9). Setiap pribadi berharga; pribadi lebih penting daripada benda, dan nilai sebuah institusi diukur dari caranya memperlakukan hidup dan martabat manusia, khususnya mereka yang rentan, dalam hal ini adalah migran anak-anak.
Selanjutnya, kita perlu mengupayakan perlindungan, integrasi, dan solusi jangka panjang.
Kita pertama-tama perlu menggunakan segala langkah yang mungkin untuk menjamin perlindungan dan keamanan migran anak-anak, karena “anak-anak laki-laki dan perempuan ini seringkali telantar di jalanan, terabaikan, dan menjadi mangsa bagi para pengeksploitasi yang kejam, yang sering menjadikan mereka sebagai objek kekerasan fisik, moral, dan seksual” (Benedictus XVI, Pesan pada Hari Migran dan Pengungsi Sedunia, 2008).
Garis pemisah antara migrasi dan perdagangan manusia kadang amat tipis. Ada banyak faktor yang membuat migran rentan, khususnya jika mereka anak-anak, yaitu kemiskinan dan terbatasnya sarana untuk bertahan hidup – ditambah dengan tuntutan tidak realistis terhadap migran yang diangkat oleh media; rendahnya tingkat melek huruf; ketidakpedulian tatanan hukum negara penerima, serta kesulitan yang terkait dengan budaya dan bahasa negara penerima. Semua ini menyebabkan migran anak-anak tergantung secara fisik dan psikologis. Namun daya yang paling kuat mendorong terjadinya eksploitasi dan kekejaman terhadap anak-anak adalah permintaan pasar. Jika tidak diambil tindakan yang lebih keras dan efektif untuk melawan mereka yang mengambil keuntungan dari kejahatan semacam itu, kita tidak akan mampu menghentikan berlipatgandanya bentuk perbudakan yang membuat anak-anak menjadi korban.
Oleh karena itu, para imigran perlu bekerja sama lebih erat dengan komunitas-komunitas yang menyambut mereka, demi kebaikan anak-anak mereka sendiri. Kita amat bersyukur atas organisasi dan institusi, baik gerejani maupun sipil, yang mencurahkan waktu dan sumber daya untuk melindungi migran anak-anak dari aneka bentuk kejahatan. Penting bahwa kerja sama berkelanjutan yang efektif dan tepat dilaksanakan, tidak hanya kerja sama yang berdasar pada pertukaran informasi, tetapi juga pada penguatan jaringan-jaringan yang mampu memastikan campur tangan yang tepat waktu dan khas. Ini dilakukan tanpa mengabaikan kekuatan komunitas-komunitas gerejani yang nampak, khususnya ketika mereka berpadu dalam doa dan ikatan persaudaraan.
Kedua, kita perlu bekerja bagi integrasi migran anak-anak dan remaja. Mereka tergantung sepenuhnya pada komunitas orang dewasa. Seringkali langkanya sumber daya finansial menghalangi penerapan kebijakan yang memadai bagi migran, yang dimaksudkan untuk membantu mereka dan menuntun mereka untuk masuk dalam komunitas masyarakat. Akibatnya, alih-alih memberlakukan integrasi sosial bagi migran anak atau program repatriasi yang aman dan terdampingi, yang ada hanyalah upaya untuk membatasi masuknya migran, yang pada gilirannya menyuburkan jaringan-jaringan ilegal; atau imigran dipulangkan ke negara asalnya tanpa sedikit pun memperhatikan asas “kepentingan terbaik” mereka.
Kondisi migran anak memburuk ketika status mereka tidak diakui secara resmi atau ketika mereka direkrut oleh organisasi kriminal. Dalam kasus semacam ini, mereka biasanya dimasukkan ke pusat-pusat penahanan (detensi). Bukan hal yang baru bahwa mereka ditangkap, dan karena tidak punya uang untuk membayar denda atau untuk perjalanan pulang, mereka dapat ditahan untuk jangka waktu yang lama, mengalami berbagai bentuk pelecehan dan kekerasan. Dalam kejadian semacam itu, hak negara untuk mengendalikan gerak migrasi dan melindungi kepentingan negara harus dilihat dalam kaitannya dengan tanggung jawab untuk menuntaskan masalah dan mengakui status migran anak, menghormati sepenuhnya martabat mereka, dan mengupayakan pemenuhan kebutuhan mereka saat mereka sendirian, tetapi juga kebutuhan orangtua mereka, demi kepentingan seluruh keluarga.
Yang penting dan mendasar adalah penerapan prosedur nasional yang memadai dan rencana-rencana kerja sama yang disetujui oleh negara asal dan negara tujuan migran, dengan tujuan untuk menghapuskan hal-hal yang menyebabkan anak-anak terpaksa meninggalkan negaranya.
Ketiga, saya menyampaikan seruan yang tulus kepada semua pihak untuk mencari dan menerapkan solusi jangka panjang. Karena merupakan fenomena yang kompleks, masalah migran anak-anak harus diatasi pada sumbernya. Perang, pelanggaran hak asasi manusia, korupsi, kemiskinan, ketidakseimbangan lingkungan hidup, dan bencana adalah penyebab masalah tersebut. Anak-anak adalah yang pertama-tama menderita, entah menderita akibat penganiayaan dan kekerasan fisik lainnya, atau menderita akibat agresi moral dan psikologis, yang hampir pasti meninggalkan bekas luka yang tak terhapuskan.
Oleh karena itu, mutlak perlu mengurai sebab-sebab yang memicu migrasi di negara-negara asal migran. Sebagai langkah pertama, diperlukan komitmen komunitas internasional seluruhnya untuk menghapuskan konflik dan kekerasan yang memaksa orang mengungsi. Selain itu, dibutuhkan perspektif jauh ke depan yang mampu menawarkan program yang memadai di daerah-daerah yang terkena dampak ketidakadilan dan ketidakstabilan yang amat parah, supaya akses terhadap pembangunan yang otentik dapat dijamin bagi semua pihak. Pembangunan ini seharusnya meningkatkan kepentingan anak-anak laki-laki dan perempuan, yang merupakan harapan umat manusia.
Akhirnya, saya ingin menyampaikan sepatah kata bagi Anda yang berjalan di samping migran anak-anak dan remaja: mereka membutuhkan bantuan Anda yang begitu berharga. Gereja pun membutuhkan Anda dan mendukung Anda dalam pelayanan murah hati yang Anda tawarkan. Jangan lelah menghidupi Kabar Gembira dengan jiwa besar, yakni Kabar Gembira yang mengundang Anda untuk mengenali dan menyambut Tuhan Yesus di antara mereka yang paling kecil dan rentan.
Saya mempercayakan semua migran anak-anak, keluarga mereka, komunitas mereka, dan Anda yang dekat dengan mereka, pada perlindungan Keluarga Kudus Nazaret; semoga Keluarga Kudus melindungi dan menemani setiap pribadi dalam perjalanan mereka. Dalam doa-doa saya, dengan senang hati saya memberikan Berkat Apostolik.
Dari Vatikan, 8 September 2016
Fransiskus

MESSAGE OF HIS HOLINESS POPE FRANCIS
FOR THE WORLD DAY OF MIGRANTS AND REFUGEES 2017
[15 January 2017]
“Child Migrants, the Vulnerable and the Voiceless”
Dear Brothers and Sisters,
“Whoever receives one such child in my name receives me; and whoever receives me, receives not me but him who sent me” (Mk 9:37; cf. Mt 18:5; Lk 9:48; Jn 13:20). With these words, the Evangelists remind the Christian community of Jesus’ teaching, which both inspires and challenges. This phrase traces the sure path which leads to God; it begins with the smallest and, through the grace of our Saviour, it grows into the practice of welcoming others. To be welcoming is a necessary condition for making this journey a concrete reality: God made himself one of us. In Jesus God became a child, and the openness of faith to God, which nourishes hope, is expressed in loving proximity to the smallest and the weakest. Charity, faith and hope are all actively present in the spiritual and corporal works of mercy, as we have rediscovered during the recent Extraordinary Jubilee.
But the Evangelists reflect also on the responsibility of the one who works against mercy: “Whoever causes one of these little ones who believe in me to sin: it is better for him to have a great millstone fastened round his neck and be drowned in the depth of the sea” (Mt 18:6; cf. Mk 9:42; Lk 17:2). How can we ignore this severe warning when we see the exploitation carried out by unscrupulous people? Such exploitation harms young girls and boys who are led into prostitution or into the mire of pornography; who are enslaved as child labourers or soldiers; who are caught up in drug trafficking and other forms of criminality; who are forced to flee from conflict and persecution, risking isolation and abandonment.
For this reason, on the occasion of the annual World Day of Migrants and Refugees, I feel compelled to draw attention to the reality of child migrants, especially the ones who are alone. In doing so I ask everyone to take care of the young, who in a threefold way are defenceless: they are children, they are foreigners, and they have no means to protect themselves. I ask everyone to help those who, for various reasons, are forced to live far from their homeland and are separated from their families.
Migration today is not a phenomenon limited to some areas of the planet. It affects all continents and is growing into a tragic situation of global proportions. Not only does this concern those looking for dignified work or better living conditions, but also men and women, the elderly and children, who are forced to leave their homes in the hope of finding safety, peace and security. Children are the first among those to pay the heavy toll of emigration, almost always caused by violence, poverty, environmental conditions, as well as the negative aspects of globalization. The unrestrained competition for quick and easy profit brings with it the cultivation of perverse scourges such as child trafficking, the exploitation and abuse of minors and, generally, the depriving of rights intrinsic to childhood as sanctioned by the International Convention on the Rights of the Child.
Childhood, given its fragile nature, has unique and inalienable needs. Above all else, there is the right to a healthy and secure family environment, where a child can grow under the guidance and example of a father and a mother; then there is the right and duty to receive adequate education, primarily in the family and also in the school, where children can grow as persons and agents of their own future and the future of their respective countries. Indeed, in many areas of the world, reading, writing and the most basic arithmetic is still the privilege of only a few. All children, furthermore, have the right to recreation; in a word, they have the right to be children.
And yet among migrants, children constitute the most vulnerable group, because as they face the life ahead of them, they are invisible and voiceless: their precarious situation deprives them of documentation, hiding them from the world’s eyes; the absence of adults to accompany them prevents their voices from being raised and heard. In this way, migrant children easily end up at the lowest levels of human degradation, where illegality and violence destroy the future of too many innocents, while the network of child abuse is difficult to break up.
How should we respond to this reality?
Firstly, we need to become aware that the phenomenon of migration is not unrelated to salvation history, but rather a part of that history. One of God’s commandments is connected to it: “You shall not wrong a stranger or oppress him, for you were strangers in the land of Egypt” (Ex 22:21); “Love the sojourner therefore; for you were sojourners in the land of Egypt” (Deut 10:19). This phenomenon constitutes a sign of the times, a sign which speaks of the providential work of God in history and in the human community, with a view to universal communion. While appreciating the issues, and often the suffering and tragedy of migration, as too the difficulties connected with the demands of offering a dignified welcome to these persons, the Church nevertheless encourages us to recognize God’s plan. She invites us to do this precisely amidst this phenomenon, with the certainty that no one is a stranger in the Christian community, which embraces “every nation, tribe, people and tongue” (Rev 7:9). Each person is precious; persons are more important than things, and the worth of an institution is measured by the way it treats the life and dignity of human beings, particularly when they are vulnerable, as in the case of child migrants.
Furthermore, we need to work towards protection, integration and long-term solutions.
We are primarily concerned with adopting every possible measure to guarantee the protection and safety of child migrants, because “these boys and girls often end up on the street abandoned to themselves and prey to unscrupulous exploiters who often transform them into the object of physical, moral and sexual violence” (Benedict XVI, Message for the World Day of Migrants and Refugees, 2008).
Moreover, the dividing line between migration and trafficking can at times be very subtle. There are many factors which contribute to making migrants vulnerable, especially if they are children: poverty and the lack of means to survive – to which are added unrealistic expectations generated by the media; the low level of literacy; ignorance of the law, of the culture and frequently of the language of host countries. All of this renders children physically and psychologically dependent. But the most powerful force driving the exploitation and abuse of children is demand. If more rigorous and effective action is not taken against those who profit from such abuse, we will not be able to stop the multiple forms of slavery where children are the victims.
It is necessary, therefore, for immigrants to cooperate ever more closely with the communities that welcome them, for the good of their own children. We are deeply grateful to organizations and institutions, both ecclesial and civil, that commit time and resources to protect minors from various forms of abuse. It is important that evermore effective and incisive cooperation be implemented, based not only on the exchange of information, but also on the reinforcement of networks capable of assuring timely and specific intervention; and this, without underestimating the strength that ecclesial communities reveal especially when they are united in prayer and fraternal communion.
Secondly, we need to work for the integration of children and youngsters who are migrants. They depend totally on the adult community. Very often the scarcity of financial resources prevents the adoption of adequate policies aimed at assistance and inclusion. As a result, instead of favouring the social integration of child migrants, or programmes for safe and assisted repatriation, there is simply an attempt to curb the entrance of migrants, which in turn fosters illegal networks; or else immigrants are repatriated to their country of origin without any concern for their “best interests”.
The condition of child migrants is worsened when their status is not regularized or when they are recruited by criminal organizations. In such cases they are usually sent to detention centres. It is not unusual for them to be arrested, and because they have no money to pay the fine or for the return journey, they can be incarcerated for long periods, exposed to various kinds of abuse and violence. In these instances, the right of states to control migratory movement and to protect the common good of the nation must be seen in conjunction with the duty to resolve and regularize the situation of child migrants, fully respecting their dignity and seeking to meet their needs when they are alone, but also the needs of their parents, for the good of the entire family.
Of fundamental importance is the adoption of adequate national procedures and mutually agreed plans of cooperation between countries of origin and of destination, with the intention of eliminating the causes of the forced emigration of minors.
Thirdly, to all I address a heartfelt appeal that long-term solutions be sought and adopted. Since this is a complex phenomenon, the question of child migrants must be tackled at its source. Wars, human rights violations, corruption, poverty, environmental imbalance and disasters, are all causes of this problem. Children are the first to suffer, at times suffering torture and other physical violence, in addition to moral and psychological aggression, which almost always leave indelible scars.
It is absolutely necessary, therefore, to deal with the causes which trigger migrations in the countries of origin. This requires, as a first step, the commitment of the whole international community to eliminate the conflicts and violence that force people to flee. Furthermore, far-sighted perspectives are called for, capable of offering adequate programmes for areas struck by the worst injustice and instability, in order that access to authentic development can be guaranteed for all. This development should promote the good of boys and girls, who are humanity’s hope.
Lastly, I wish to address a word to you, who walk alongside migrant children and young people: they need your precious help. The Church too needs you and supports you in the generous service you offer. Do not tire of courageously living the Gospel, which calls you to recognize and welcome the Lord Jesus among the smallest and most vulnerable.
I entrust all child migrants, their families, their communities, and you who are close to them, to the protection of the Holy Family of Nazareth; may they watch over and accompany each one on their journey. With my prayers, I gladly impart my Apostolic Blessing.
From the Vatican, 8 September 2016
FRANCIS

Friday, January 6, 2017

MEMBERI SAMBIL MENEMPA DIRI

Lari Marathon?   Untuk apa?
Bolehkah Sahabat Insan mendapat prosentase? Kita juga membutuhkan donasi.
Apa bisa?


Semua mengejutkan. Benar banyak Sekolah – sekolah Dasar yang nyaris ditutup, entah karena kurang peminat ataupun bangunan sekolah yang terancam rubuh. Suatu pemandangan yang biasa di daerah Jawa Tengah dan mungkin demikian juga di daerah lain di bumi pertiwi. Biasa dan lalu biasa saja.

Ketika kita berhadapan dengan korban trafficking, bergelut untuk mendapatkan hak – hak mereka, bersitatap dengan kemiskinan dan batin….. bertemu dengan kebodohan. Ketika mendesak Pemerintah  untuk perlindungan, maju berjuang untuk mendapatkan keadilan bagi mereka, badan terusik dengan anak yang berkeliaran di jalan dan anak yang berhadapan dengan hukum. Bagaikan mata rantai yang tak berpangkal dan tak berujung. Profesimu pun tak dapat memotong tuk mengangkat sebagian. Tinta penamu habis tak mencukupi menulisi berlembar-lembar kertas gugatan, permohonan bahkan himbauan. Suaramu serak meninggalkan telinga-telinga tertutup dan langkahmu terseok nyaris melewati wajah-wajah yang berpaling.

Setelah itu dan saat itu, Sekolah-sekolah Dasar yang biasa itu menarik perhatianmu, diam dan menunggu. Seandainya mereka pernah di sana, jumlah korban trafficking akan meluncur turun. Seandainya mereka di sana, peluh buruh migran kan bersinar bak permata. Dan seandainya mereka di sana, bangsa ini akan menjadi tuan di rumahnya sendiri dan melanglang sebagai ahli atau paling tidak tenaga professional.

Ya ….. ini perjuangan yang harus dan perlu diperjuangkan. Membuka dompet atau pergi ke sentra ATM sangat mudah, mengeluarkan kertas – kertas berwarna biru atau merah tidaklah susah. Namun tidak itu maksudnya; perjuangan membutuhkan usaha, juga mengolah hidup dan menempa diri. Aku bukan pelari dan aku tidak pernah atau sangat  - sangat jarang berlari. Namun untuk anak – anak itu, untuk pekerja – pekerja perempuan di masa datang itu, untuk peluh dan air mata perempuan – perempuan di masa lalu dan masa kini, aku kan berlari. Berencana dan berlatih, memusatkan perhatian dan menguatkan tekad hanya untuk berlari di saat itu nanti.

Sangat sadar akan kekuatan cosmis, tekad dan perjuangan akan menyebar mempengaruhi manusia lainnya. Entah untuk menyemangati atau tersentuh tujuan mulia, donasi pun mengalir mengisi pundi – pundi tuk merenovasi Sekolah Dasar Murukan. Memang ada pepatah, untuk apa dibuat susah bila dapat diselesaikan dengan gampang? Namun sepertinya masyarakat menjelang jenuh dengan bermacam – macam keperluan dan kepentingan, sehingga mungkin sudah saatnya untuk menempuh cara yang sulit demi menggapai tujuan mulia.


Kami sudah mencoba; apakah dirimu berminat?