Wednesday, May 3, 2017

Rangkaian Kegiatan Pertemuan JCAP Migration Network di Jepang

Catatan Sr. Laurentina, PI dalam Pertemuan Jaringan Migran - JCAP (Jesuit Conference of Asia Pacific’s Migration Network) di Jepang (http://sjapc.net/content/charting-new-course-migration-network



Syukur pada Allah Penyelenggara, yang karena Kasih-Nya memberikan kepercayaan pada saya untuk menghadiri pertemuan tahunan Jesuit Conference of Asia Pacific’s - JCAP yang diselenggarakan pada tanggal 22 - 26 Maret 2017 di Yesuit Social Center, Sophia University, Tokyo Jepang. Pengalaman pertama bagi saya mengikuti pertemuan ini, dengan keterbatasan bahasa yang sangat minim namun saya tetap bersyukur pada Allah bahwa saya tidak sendirian. Ibu Astuti yang setia dan sabar membantu saya dalam memberikan informasi saat pertemuan tersebut. Saya juga sangat terkesan dalam penyambutan tuan rumah yang sangat ramah dan sangat baik. Kami dijemput oleh Ibu Jessie Tayama yang sangat peka melihat saya kedinginan dan meminjamkan jaket dan syal pada saya. Setelah itu kami diantar ke Tokyo Inn Hotel untuk meletakkan barang-barang kami. Peserta wanita, yaitu Sr. Wei-Wei dan Ibu Chia-Ling dari Taiwan, Sr. Dennis Coghlan dari Kamboja, Ibu Astuti dan saya sendiri, bermalam di hotel tersebut. Untuk peserta yang laki-laki bermalam di rumah Yesuit. Setelah dari hotel, kami langsung menuju kompleks rumah Yesuit, tepatnya di kantor pusat karya Sosial Yesuit Tokyo. Perkenalan singkat dan sangat sederhana serta keramahan tuan rumah,membuat kami merasa diterima dengan baik. Dalam pertemuan yang singkat itu kami membicarakan tentang beberapa hal praktis untuk persiapan pembukaan yang akan dilaksanakan pagi harinya.

Pada tanggal 23 Maret, acara dibuka oleh Provinsial Jesuit Jepang. Dalam sambutannya, beliau mengatakan sangat gembira sekali dapat bertemu dengan para peserta dari berbagai negara, yaitu Indonesia, Jepang, Korea, Thailand, Vietnam, Philipina, dan Taiwan. Jumlah keseluruhan yang hadir aktif ada 17 orang sedang yang 6 orang frater Yesuit Jepang tidak hadir secara penuh karena mereka kuliah dan ada acara yang lain. Sedangkan peran dari perwakilan dari masing-masing negara sesuai dengan tugasnya di organisasi masing-masing antara lain Romo Benny Juliawan sebagai koordinator pertemuan, Pater Ando sebagai Ketua Panitia, dibantu dengan Ms Jessie Tayama serta beberapa frater dari Scholastic Jepang dalam membantu kelancaran acara tersebut. 

Pertemuan tahunan ini intinya adalah evaluasi program yang telah disusun pada tahun yang lalu.  Maka kami mendengarkan sharing dari para peserta tentang apa yang telah dilaksanakan dalam program yang telah dibuat sesuai dengan situasi negara masing-masing. Sebelum datang ke Jepang kami diberi beberapa pertanyaan, sehingga kami langsung sharing. Pertanyaan tersebut sebagai acuan untuk membuat perencanaan strategi jaringan ini dengan analisa SWOT, melihat kekuatan dan kelemahan lembaga kita masing-masing: berapa tenaga permanen yang dimiliki, berapa tenaga yang profesional yang dimiliki, bekerjasama / berjejaring dengan siapa saja lembaga kita ini, kebijakan pemerintah yang bagaimana dapat mendukung program kita terutama persoalan buruh migrant ini. Setelah sharing kami pun memperoleh hasil yang akan dijadikan pegangan untuk program yang akan datang, antara lain: pergantian koordinator jaringan ini yang tadinya dipegang oleh Romo Benny Juliawan sekarang diganti oleh Romo Kim Min SJ dari Korea. Koordinator Rorum Novarum Taiwan yang awalnya dipegang oleh Sr.Wei-Wei mulai tahun ini dipegang oleh Ms. Chia-Ling Chung. Pertemuan yang akan datang yang akan bertindak sebagai tuan rumah adalah Negara Philipina, yang rencananya akan diadakan pada tanggal 18-21 April 2018. Disamping itu semua sepakat untuk meningkatkan kerja sama yang lebih baik lagi, dalam jaringan ini.

Kami juga diberi kesempatan untuk mengunjungi karya-karya sosial Yesuit provinsi Jepang dan relasi yang bekerja sama dalam pelayanan sosial, antara lain ke pendampingan migran, AIA (pendampingan keluarga dan anak-anak), mengunjungi Biara Misionaris Cinta Kasih Suster Theresia Calcuta yang di Jepang sekalian perayaan ekaristi di Biara MC, dan kunjungan juga ke Scholastics Yesuit. Saya sangat terkesan pada saat mengunjungi karya yang dikelola oleh Yesuit provinsi Jepang untuk para migrant dari berbagai profesi yang ditampung dalam wadah CTIC (Catholik Tokyo International Center), khususnya karya sosial dalam pendampingan para migran yang bekerja maupun mahasiswa dari berbagai negara, antara lain Afrika, Rusia, Filipina, Taiwan, Vietnam dan Cina. Mereka memberikan pelayanan yang tulus dan sangat berguna bagi para migran yang mau belajar yang sebagian kaum muda yang ingin maju. Pelayanan tersebut antara lain Refugees Café hari Selasa dan Kamis, Japanese Class hari Selasa, Rabu dan Kamis, Food and Clothing Support hari Senin dan Jumat, Consultation Senin dan Jumat dan Medical Consultation. Dalam pelayanan, mereka tidak memandang suku, ras dan agama, semua dilayani dengan baik.






Acara yang terakhir adalah Symposium yang dihadiri oleh para romo Yesuit yang berada di Tokyo dan beberapa mahasiswa serta para suster dan ibu-ibu relasi para romo, dengan nara sumber perwakilan dari 8 negara. Moderator dalam pertemuan tersebut adalah Romo Benny Juliawan, SJ. Acara dimulai jam 15.00 - 17.00 waktu setempat. Symposium tersebut berjalan sangat lancar dan beberapa yang hadir mengungkapkan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan migran dan trafficking. Selesai acara symposium kami diajak makan bersama dengan Romo Provinsial Jepang di sebuah restoran dekat Yotsuya. Kami mengakhiri acara kebersamaan selama di Jepang dengan penuh keakraban dan sukacita.


Terimakasih yang berlimpah pada Sahabat Insan yang memberikan kesempatan yang sangat berguna bagi saya secara pribadi, terlebih untuk perkembangan karya pastoral human trafficking di Timor dan sekitarnya. Salam Kasih dan Persaudaraaan dari kota Karang (Kupang NTT).





Salam
Sr. Laurentina PI

Wednesday, April 26, 2017

“Buy Our Bodies and Our Land That We May Live” Story of the faceless migrant laborers.

Sebuah tulisan singkat dari makalah M.P Joseph (School of Theology Chang Jung Christian University Tainan, Taiwan)

Seri Catatan dari “The International Seminar On Service – Learning Among Migrant Laborers”, UKDW – Yogyakarta, 27 Februari  - 02 Maret 2017

Cerita tentang Joseph di Sekolah Minggu, sering menyembunyikan 2 (dua) hal. Pertama, tanggung jawab Yusuf dalam perbudakan dan orang Mesir dikondisikan dalam penciptaan perbudakan. Dua, orang Mesir yang pertama kali diperbudak sebagaimana ikon Ibrani kebijaksanaan Joseph. Suku Ibrani datang mencari makanan ke tanah Mesir untuk mengatasi kelaparan, tetapi mereka berakhir sebagai budak.
Akar krisis buruh migran saat ini tidak berbeda dari cerita Yusuf dalam Kejadian 43 - 47. Yusuf belum menggunakan kebijaksanaannya untuk membantu orang-orang di Mesir dalam mengatasi kelaparan. Sebaliknya ia menggunakan bencana alam sebagai sarana untuk memperbudak orang-orang, proses dipekerjakan oleh monopoli kapitalisme pada saat itu, yang digambarkan Naomi Klein sebagai “Kapitalisme Bencana”.
Joseph melakukan empat inisiatif ekonomi :
1.      Membuat langka bahan pokok. Selama tujuh tahun dari panen yang melimpah, Joseph mengisi lumbung negara dengan gandum dan mengosongkan lumbung penduduk, lumbung komunal mereka dan rumah. Kelangkaan dalam hal ekonomi tidak untuk menunjukkan kekurangan pasokan sumber daya, tetapi juga tidak cukup berarti bagi orang untuk mendapatkannya. Kelimpahan dan kelangkaan adalah istilah relatif. Dengan tindakan penimbunan gandum, Joseph menciptakan kelangkaan.
2.      De-monitzation masyarakat. Selama tahun-tahun kelangkaan (kelaparan), Joseph tidak memberikan makanan gratis kepada orang-orang yang dalam kesusahan, tapi dia menjual gabah sampai “mengumpulkan semua uang” (Kejadian 47: 13 - 14) dan kemudian membawa semua itu “ke dalam rumah Firaun”. Logika ekonomi yang Joseph gunakan adalah menarik semua mata uang (pada saat itu: perak dan syikal) dari peredaran yang dengan demikian mencabut kemampuan beli rakyat. Tindakan ini memperburuk kelaparan dan mendorong perekonomian Mesir menuju depresi ekonomi. Jika mata uang tidak beredar untuk membeli makanan dari tempat-tempat lain termasuk Kanaan, rakyat harus berupaya mengatasi kelaparan. Ketika Yakub menyuruh anak-anaknya membeli makanan, ia mengisi tas mereka dengan kacang yang baik, buah-buahan dan bahan makanan lainnya. Kenyataan tidak memiliki makanan dan tidak ada uang (daya beli), ekonomi runtuh dan akhirnya terjebak dalam lingkar kelaparan, kemiskinan dan menjadi benar-benar tergantung pada penguasa yang menimbun modal dan sumber daya.
3.      Ketiga, Joseph menghilangkan subjektivitas ekonomi. Setelah memegang kontrol atas uang (ekonomi tunai), Joseph mengalihkan perhatiannya untuk mengambil infrastruktur. Joseph menjebak orang melakukan barter atas ternak mereka untuk mendapatkan makanan. Selama hampir satu tahun, Joseph mengumpulkan kuda, domba, kambing, sapi, keledai dan semua suplemen yang diperlukan rakyat untuk menjalankan pertanian.
4.      Peruntukan lahan, sumber daya dan “tubuh”. Tahap akhir dari perbudakan adalah konsekuensi alami. Setelah tidak memiliki uang dan tidak dapat berproduksi karena tidak memiliki alat, suku Mesir menjadi takut mati kelaparan, lalu menjual tanah mereka dan “tubuh mereka” kepada penguasa.
Logika ekonomi yang Joseph gunakan, sering terjadi dalam sejarah manusia. Cerita ini diulang beberapa kali dengan berbagai variasi. Fenomena tenaga kerja migran juga demikian.
Menurut perkiraan ILO tahun 2013, ada 150.300.000 pekerja migran di dunia dari jumlah perkiraan 232.000.000 pekerja migran. Dari jumlah 150.300.000 pekerja migrant, 44,3% adalah perempuan dan 55,7% adalah laki-laki. Dari negara-negara tertentu, keseimbangan antara laki – laki dan perempuan berbeda. Misalnya pada tahun 2015, 186.243 orang laki-laki Indonesia bermigrasi ke negara-negara lain dan jumlah perempuan di tahun yang sama dari Indonesia adalah 243.629 orang. Dalam kasus Filipina, dari 2.400.000 pekerja Filipina migran, 1.250.000 orang adalah perempuan. Perempuan telah direnggut dari keluarga mereka, dirampas sehingga keluarga kehilangan lingkungan yang sehat, cinta dan pengasuhan serta keluarga menuju masa depan yang suram.
Pertumbuhan fenomenal ini bertambah dengan adanya agenda neo-liberal “perdagangan bebas”, “pasar bebas”, dan kebijakan liberal untuk gerakan investasi dan modal.
Argumen berikut didasarkan pada tiga asumsi :
1.    Migrasi tenaga kerja tidak keluar dari kehendak pribadi dari pekerja (dipaksa) untuk bermigrasi, tetapi kebutuhan untuk Pemodal. Migran awal dari Indonesia yakni Rezim kolonial Belanda yang mengirim ribuan orang Jawa ke Suriname di Amerika Latin sebagai tenaga kerja murah, bekerja sebagai kuli di perkebunan. Mereka mengungsi dari zona ekonomi relatif nyaman dan dikonversi sebagai modal manusia yang murah. Selain itu, migrasi tidak ditujukan untuk menguntungkan tenaga kerja, tetapi untuk memenuhi dogma “menumpuk dan menumpuk lebih banyak dan lebih”.
Belajar dari masa lampau, penciptaan banyaknya (cadangan) tenaga kerja membantu “pemodal” untuk menjaga biaya produksi turun dan membuat margin keuntungan yang relatif tinggi. Dan penciptaan kelebihan tenaga kerja membutuhkan kondisi yang menjaga pekerja dalam posisi jinak.
2.      Akhir – akhir ini pekerja migran dijadikan “alat politik” oleh pemerintah untuk keuntungan “komoditas ekspor”. Dalam kasus Indonesia, Kementerian aktif mempromosikan dan memfasilitasi ekspor pekerja. Pada tahun 1983, ekspor manusia sebagai komoditas diprivatisasi dengan memberikan lisensi kepada badan-badan swasta untuk merekrut pekerja migran yang menyebabkan pertumbuhan migran yang luar biasa. Pendapatan yang dihasilkan melalui ekspor tubuh manusia mendorong kepemimpinan politik untuk mendirikan Pusat Overseas Employment di Kementerian Tenaga Kerja pada tahun 1984 [diganti sebagai Direktorat Jasa Tenaga Kerja Luar Negeri pada tahun 1994] dengan mandat untuk meningkatkan jumlah ekspor tenaga kerja setiap tahun, baik dengan negosiasi negara penerima dan memberikan pelatihan khusus bagi calon pekerja migran. Kisah ini berulang di hampir semua "negara pengirim".
3.      Konsekuensi pekerja migran adalah ketidak stabilan hubungan keluarga dan masyarakat. Hal ini tidak membantu pembangunan masyarakat manusia yang sehat di mana nilai-nilai kemanusiaan dibayang - bayangi kepentingan pemodal. Kenyataannya, masyarakat kemudian akan diatur oleh para Pemodal.
Gerakan buruh muncul pertama oleh budak dan kuli kontrak di seluruh dunia. Gerakan buruh ini dipicu sebuah teori sederhana: bahwa buruh pengungsi lebih produktif, jinak dan akan tetap tergantung pada majikannya. Oleh karena itu bukan fenomena aneh bila tenaga kerja migran didahului dengan meminggirkan penduduk asli.
Karena hampir 90% dari ruang tanah di dunia berada di bawah kolonialisme Eropa, gerakan buruh juga diasumsikan lintas universal. Pengamatan Arundhati Roy yang telah mejadi umum bahwa negara-negara yang telah berkembang [AS, Eropa, Australia] memiliki masa lalu dalam tanda kutip - masa lalu dengan peminggiran penduduk asli, perbudakan dan penyamarataan. Ini menginformasikan jika negara hendak menuju masa depan yang makmur, “masa lalu tertentu” perlu dilakukan.
Berkaitan kisah Joseph di Mesir, kegiatan ekonomi difokuskan pada akumulasi modal utama; emas, perak dan barang berharga lainnya di Eropa. Enrique Dussel, seorang sejarawan gereja dari Meksiko melaporkan bahwa dalam jangka waktu sepuluh tahun, 1551-1561, jumlah emas dan perak ditransfer dari pulau-pulau Karibia dan Amerika Selatan ke Spanyol sebanyak tiga kali lebih banyak dari akumulasi emas dan perak dari seluruh kawasan Eropa. Hal tersebut terulang dari Asia dan Afrika.
Sejak itu, Pembangunan ekonomi dunia diarahkan oleh kekuatan besar ekonomi Eropa yang diperoleh melalui pengendalian sumber daya. Tidak tercatatnya pekerja migran menyebabkan mereka menjadi pion dalam segala bentuk migrasi. Seperti orang-orang di Mesir meminta kepada Joseph, orang-orang di koloni Eropa juga memohon: "belilah tubuh kami", sehingga kami bisa hidup. Seperti potongan-potongan di papan catur, orang-orang tercerabut dari domisili mereka dan bergerak di seluruh dunia. Tidak ada usaha yang dibuat untuk menciptakan peluang kerja bagi masyarakat di negara masing-masing guna mencegah migrasi skala besar.
Pembatasan impor, ekspor dan pergerakan modal muncul sebagai Negara ketiga untuk menjamin perlindungan industri dan ekonomi masyarakat. Salah satu tujuan adalah penciptaan kesempatan kerja di Negara ketiga dan untuk melengkapi buruh dengan keterampilan baru dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagian besar negara-negara ini memperkuat sistem kesejahteraan mereka seperti juga sistem pendidikan publik sebagai investasi pada kehidupan masyarakat. Inisiatif Negara yang baru merdeka beresonansi dengan pengamatan Amartya Sen bahwa 'kemiskinan' adalah konsekuensi dari kekurangan kemampuan menjalani kehidupan yang baik, kemampuan keterampilan masyarakat, maka tujuan utama adalah ekonomi yang terencana.
Perubahan di Negara ketiga mengakibatkan lambatnya pertumbuhan kapitalisme secara global. Terutama tekad membangun kemampuan dan ekonomi Negara ketiga mengakibatkan stagnasi pertumbuhan ekonomi di negara-negara kaya. Kurang berjalannya investasi baru dan tidak adanya pasar tenaga kerja global mulai menekan upah buruh di negara-negara Barat, dan kelebihan modal terakumulasi sehingga terancam terjadi stagnasi. Untuk mencegah stagnasi dan untuk memperkuat pertumbuhan, pemodal memiliki kebutuhan mendesak untuk menemukan cara-cara ekspansi baru bagi usaha dan kontrol tenaga kerja.
Terlepas dari kontrol atas sumber primer dan akses terbatas kepada pasar, pertumbuhan kapitalis secara struktural tergantung pada penciptaan kondisi yang menjamin kelebihan pasokan tenaga kerja. Massa besar orang harus masuk dan meninggalkan pasar tenaga kerja sesuai kebutuhan modal. Surplus 'tenaga kerja tidak identik dengan surplus orang. Kelebihan Buruh terjadi ketika ekonomi diatur oleh keuntungan yang menciptakan kelebihan pasokan buatan sebagai aturan untuk akumulasi demi akumulasi.
Metode yang lebih kohesif digunakan oleh kapitalis untuk membangun kembali otonomi modal lebih dari hubungan produksi yang mendorong pertumbuhan pengangguran serta realitas migrasi. Dua kekuatan yang mengancaman otonomi pemodal adalah pemerintah nasional dan pekerja serikat. Kebijakan IMP diawasi dan dibatasi secara efektif, atau untuk menghilangkan kekuasaan negara mengatur variabel ekonomi. Selanjutnya IMF dan struktur ekonomi global yang dibuat oleh kapitalis mengancam tingkat kesejahteraan. Akibatnya, individu tanpa modal berharga menawarkan tubuh mereka untuk dibeli sebagai komoditas untuk mempertahankan hidup.
Untuk memastikan kontrol kapital atas semua hubungan produksi sebagai sarana guna mempercepat akumulasi, kapitalisme global memiliki dua strategi: (i) menciptakan kondisi internasional yang menjamin mobilitas modal dari segala penjuru dunia; dan (ii) dengan mempromosikan (non unionizable) alien berduyun-duyun ke pasar tenaga kerja nasional. Ketika kolam tenaga kerja besar, harga tenaga kerja tetap sangat murah dan sebagai hasilnya tingkat akumulasi akan mencapai kisaran tertinggi. Proses yang dikenal sebagai globalisasi, pasar bebas dan semua suku kata lain dengan istilah “bebas” adalah tipuan yang digunakan oleh kapitalis global untuk membuat kolam tenaga kerja yang cukup besar guna menjamin pertumbuhan modal. Ekonomi Barat dengan bantuan Multi-Nasional Corporations, secara sistematis menghancurkan struktur ekonomi Negara ketiga dan mempromosikan proses ekspor tenaga kerja. Mereka memindahkan modal dan tenaga kerja ke satu tempat untuk mempercepat produksi, tetapi di bawah kontrol yang ketat dari pemodal. Langkah-langkah ini juga melemahkan kekuatan serikat pekerja dan otonomi diberikan kepada pemodal atas proses ekonomi keseluruhan. Cerita dari kekalahan perjuangan buruh, menggema dari Detroit ke Seoul, dan dari Bombay ke Sao Paulo menegaskan fakta ini.
Gerakan buruh migran yang dipromosikan; mereka murah, tetapi yang lebih penting, status mereka sebagai alien atau kurangnya kedekatan dengan warga menghalangi mereka untuk mengklaim otonomi dan hak-hak dasar. Sejak kewarganegaraan sejalan dengan hak istimewa tertentu dalam sistem politik modern, potensi bahaya yang melekat. Jika terorganisir, gerakan rakyat dan serikat pekerja bisa mengklaim otonomi atas modal. Revolusi sosialis adalah salah satu contoh dari potensi itu. Dengan mempromosikan migrasi tenaga kerja, modal menang dan menggagalkan setiap potensi bahaya yang mungkin timbul dari serikat pekerja.
Dari sejarah perbudakan, kapitalis belajar bahwa bila kerentanan tenaga kerja meningkat, kekuatan dan otonomi modal juga meningkat. Meskipun tenaga kerja lokal yang tersedia lebih dari cukup untuk mempertahankan hubungan produksi yang kompetitif, logika impor tenaga kerja dari negara lain berguna untuk mengacaukan tenaga kerja lokal dan untuk mendorong pemodal membangun otonominya. Pada saat ini, tidak adanya kerangka hukum yang melindungi para migran, membantu kapitalis menciptakan dan mempertahankan ketergantungan pekerja migran pada mereka; dengan asumsi hidup pekerja migran bergantung pada niat baik dan kemurahan hati majikan. Aturan dalam permainan bertahan hidup membuat mereka bersaing satu dengan yang lain guna mengekspresikan loyalitas total dan gigih demi mengambil hati majikan mereka.
Pada kenyataannya dan sayangnya, tenaga kerja migran telah menjadi tentara bayaran pemodal untuk mengalahkan semangat serikat pekerja di kalangan para pekerja. Meskipun tidak disengaja, untuk kelangsungan hidupnya, pekerja migran menerima peran menjadi tentara bayaran. Kurangnya solidaritas antara pekerja migran dan pekerja lokal adalah hasil alam dari reaksi atas kehadiran para migran.
Tujuan keuntungan dan akumulasi modal akan menjaga tenaga kerja tetap sebagai komoditas pakai. Namun, tindakan produksi harus menjadi tindakan kebebasan; mengalir dalam waktu dan ruang. Perjanjian kebebasan yang dibuat antara Allah dan manusia pertama seperti yang digambarkan dalam Kitab Kejadian mengulangi kekhawatiran pokok kebebasan yakni merealisasikan kemampuan saya, kebenaran saya, nilai dan keindahan dalam hal-hal dan alam untuk memenuhi kebutuhan sosial orang lain. Dengan demikian, produksi menjadi perpanjangan dari diri saya dalam ruang dan waktu; sebuah proses yang memungkinkan subjektivitas saya terungkap; untuk membantu diri sendiri dan orang lain menemukan identitas saya yang sebenarnya. Produksi memperkuat subjektivitas dan tetap sebagai tindakan memanusiakan karena melalui produksi, saya dapat mengidentifikasi diri dan komunitas sosial saya dan rasa saya ada didalam komunitas.. Dalam arti sebenarnya, saya ada karena saya menghasilkan.
Bekerja adalah ibadah. Ketika pekerjaan merupakan bagian dari proses menurunkan derajat manusia, ibadah menjadi setan, tindakan mengundang kejahatan. 

R. Astuti Sitanggang

Hagar’s Migration and Spirituality for Asian Women

Sebuah tulisan singkat dari makalah Hye Kyung Park (Assistant Prof. Chang Jung Christian University, Taiwan)

Seri Catatan dari “The International Seminar On Service – Learning Among Migrant Laborers”, UKDW – Yogyakarta, 27 Februari  - 02 Maret 2017

I.     Pendahuluan
Secara tradisional, kelahiran putra Hagar menjadi sumber konflik agama di seluruh dunia. Artikel ini membahas spiritualitas Hagar yang adalah seorang budak Mesir (orang luar) dan istri Abraham (orang dalam).
Meskipun Hagar telah diperlakukan sebagai ibu dari musuh dalam tradisi Kristen, Hagar adalah contoh inklusivitas karena utusan Allah mendatanginya dekat mata air di padang pasir dan memulai percakapan dengannya, menyatakan kelahiran Ismail. Dialog antara Allah dengan Hagar mengingatkan kita untuk memperluas fenomena agama kita terhadap percakapan agama. Percakapan agama bukanlah perspektif ekslusif satu agama, melainkan memerlukan pandangan inklusif rohani, menggabungkan perspektif dari beberapa agama ke dalam dialog.
Hagar mengakui Allah sebagai El-Roi (Allah yang melihat) dan sebuah sumur Lahar-Roi (sumur tempat yang hidup melihat saya) setelah Hagar melihat Allah disana. Hal ini menunjukkan bahwa pengakuan tersebut tidak dibatasi oleh tradisi etnis atau agama, dan bahwa Allah tidak dibatasi oleh batas-batas sektarian.
II.    Berkat Kehidupan
Perasaan masyarakat tentang milik membuat mereka nyaman dan percaya diri. Solidaritas dalam agama mereka sendiri memberi rasa afiliasi. Aspek negatif solidaritas ini adalah bahwa hal itu merusak penerimaan agama yang berbeda dan dengan demikian menjauhkan kenyamanan hidup berdampingan secara damai, rekonsiliasi dan kerjasama antar agama. Agama telah menyebabkan perang sepanjang sejarah manusia. Sifat eksklusif agama menarik garis tegas antara “kami” dan “mereka”. Secara khusus,  Abraham telah digambarkan sebagai bapak spiritual Kristen, Yahudi, dan Muslim. Tapi ironisnya, tiga agama ini terpisah dan tidak bersatu.
Hagar adalah wanita dengan status menengah dalam beberapa konteks: antara Mesir dan Israel, istri dan selir, pembantu dan adik, orang dalam dan orang luar; dan ketidakpastian ini memaksa Hagar untuk membangun identitasnya dalam situasi dimana dia bisa digambarkan sebagai ‘tidak subjek atau objek’.
Tubuh Hagar diposisikan hina yang tidak bisa digabungkan sebagai baik orang dalam maupun orang luar. Situasi hina dan tidak stabil ini adalah ancaman terhadap identitas dan keberadaannya. Allah menampakkan diri kepada Hagar yang mengembara sendirian di padang gurun saat melarikan diri dari Sarah. Utusan itu menyampaikan berkat generasi masa depan dari YHWH kepada Hagar. Hagar menerima janji keturunan seperti halnya Abraham. Identitas hina dan terpinggirkan mungkin membuat Hagar lebih mudah menerima pesan ini sebagai harapan, dan secara umum, keadaan terpinggirkan meniadakan hambatan eksklusif.
III.   Spiritualitas dan Mobilitas Hagar
Dalam kitab Kejadian, Hagar disebut sebagai sipha, issa atau ama. Hagar adalah sipha Mesir (pembantu sebagai milik wanita/nyonya) dalam Kejadian 16:1,3,5 dan 7. Sarah menyebut Hagar sebagai issa (wanita, istri) saat Sarah memberikan dia untuk Abraham dalam Kejadian 16:3. Dalam Kejadian 21:10 dan 13, Hagar digambarkan sebagai ama (pembantu, hamba, secara harfiah pembantu). Salah satu pertanyaan yang sering diajukan adalah apakah Hagar seorang selir atau budak?
Savina J. Teubal menunjukkan bahwa status Hagar rendah dalam narasi Alkitab, yakni :
1.  Hagar adalah shifhah (hamba, pembantu) dari Sarah;
2.  Hagar adalah istri kedua Abraham;
3.  Layanan seksual Hagar dikendalikan oleh majikannya, Sarah;
4.  Keturunan Hagar akan menjadi milik majikannya;
5.  Hagar dihukum karena tidak menurut perintah majikannya, Sarah;
6.  Hagar tidak dapat mengendalikan takdir sendiri;
7.  Hagar berubah dari pembantu Sarah menjadi istri Abraham;
8.  Akhirnya, Hagar hanya dianggap sebagai ibu dari seorang putra Abraham; diberkati Allah sebagai nenek moyang manusia karena garis Patriarch putra Hagar, meskipun salah satu orang tuanya adalah orang Mesir, yang adalah musuh dari Israel.
Sebutan kedua Hagar adalah issa (wanita, istri). Sarah mengambil Hagar dan memberikannya kepada suaminya Abraham sebagai issa dalam Kejadian 16:3. Sarah juga issa Abraham dalam ayat 1, sehingga Hagar adalah issa kedua Abraham karena ijin Sarah. Hagar menjadi seorang istri tetapi memiliki sedikit pengaruh kepada Abraham. Orang menterjemahkannya sebagai "istri sekunder".  Namun demikian, Hagar tidak pernah disebut sebagai pileges yang berarti selir dalam bahasa Ibrani. Hagar adalah "istri" Abraham seperti Sarah.
Sebutan ketiga Hagar ada dalam Kitab Kejadian 21, Hagar sebagai ama yang berarti pembantu atau hamba. Tidak mudah untuk menentukan perbedaan antara sipha dan ama. Ama dalam teks Kejadian, “Singkirkan hamba perempuan dan anaknya, untuk anak budak wanita tidak akan pernah berbagi dalam warisan dengan anak saya, Ishak (Kejadian 21: 10, NIV)”. Rendahnya status Hagar sebagai hamba perempuan diperluas ke Ismail dalam keluarga Abraham.
Setelah meninggalkan kota kelahirannya di Mesir, Hagar kehilangan harga diri karena menjadi ama. Namun, Allah (Elohim) berjanji kepada Abraham, “Aku akan membuat keturunan dari hambamu itu menjadi suatu bangsa juga, karena dia adalah keturunanmu” (Kejadian 21:11). Perjanjian Allah tentang masa depan Hagar digambarkan sebagai janji Allah.
Jika seseorang ingin mengenali arti yang lebih baik dari sipha, harus diingat bahwa Hagar adalah seorang Mesir dan dengan demikian, Hagar adalah perwakilan peradaban kontemporer terbesar. Ketika keluarga Abraham bermigrasi ke Kanaan dengan Hagar, mereka mengadakan usaha kolaboratif dengan dia.Hagar tidak melakukan, setiap pekerjaan kasar untuk melayani Sarah dalam narasi Kejadian 16 dan 21, meskipun Abraham meminta Sarah membuat roti bagi tiga tamu (Kejadian 18: 6). Selanjutnya, etimologi sipha tidak jelas. Menurut Teubal, sipha dari Sarah bisa berarti 'seseorang yang bergabung atau melekat’ dan ‘seseorang atau klan’. Sarah melakukan perjalanan dengan temannya, Hagar, ketika Sarah bermigrasi ke tanah Kanaan. Kemungkinan Hagar adalah putri Firaun jika seseorang percaya legenda rabi dari R. Simeon Yoahi tentang asal usul keluarga Hagar. Legenda ini tampaknya berusaha untuk mengangkat status Hagar sama dengan Sarah dan Abraham, yang menyiratkan pentingnya posisi Hagar sebagai putri Firaun bukan budak Sarah, dan menyiratkan bahwa Hagar orang Mesir yang memilih bermigrasi bersama Abraham dan Sarah.
IV.   Spiritualitas Hagar dan Kelangsungan Hidup
Tiga interpretasi tentang Hagar dalam tradisi Kristen. Pertama, Paulus menegaskan bahwa garis keturunan spiritualnya adalah melalui Sarah dengan mengatakan, “Karena itu, saudara, kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, tapi perempuan merdeka” dalam Galatia 4:31. Bagi Paulus, Hagar tidak bisa melahirkan anak yang dijanjikan, sementara Sarah bisa. Paulus mendorong orang-orang di Yerusalem untuk menganggap mereka keturunan bebas dari wanita bebas, Sarah. Dengan demikian, Paulus memfokuskan pada legitimasi dari status Sarah sebagai wanita benar;  pandangan sempit ini tidak mendukung dialog terbuka antar agama.
Kedua, Origenes, seorang teolog Kristen awal, menyarankan bahwa Kristen bisa belajar dari perjalanan spiritual Hagar. Baginya, Hagar adalah simbol Yahudi yang tidak dapat “minum air suci yang berada tepat di depan mereka”. Untuk saat ini orang-orang Yahudi berada di sekitar sumur itu sendiri, tapi mata mereka ditutup dan mereka tidak dapat minum dari sumur Hukum dan para nabi. Kehidupan Hagar diperlakukan sebagai kedagingan Yahudi (Synagoga) sementara kehidupan Sarah dipahami mewakili semangat Kristen (Ecclesia). Distorsi dari latar belakang etnis menyatakan Hagar mewakili orang Yahudi yang tidak mampu menerima air hidup Kristus, tanpa mempertimbangkan kehidupan nyata Hagar di padang gurun bersama keluarga Abraham, melainkan hanya menggunakan Hagar untuk melambangkan status non-beriman dalam doktrin Kristen kontemporer.
Ketiga, Jerome yang mengambil versi LXX dari Mazmur 5: 1, bukan teks Ibrani yang diterjemahkannya ke dalam bahasa Latin. Dalam tradisi Jerome, “dia” adalah Sarah yang menerima warisan dan berarti bahwa Hagar bukanlah orang yang tepat untuk menerima warisan. Perbedaan ekstrim ini terjadi antara teks Ibrani dan LXX karena penafsiran yang berbeda atas satu poin vokal ‘nhlt’ dari kata Ibrani, yang dapat diterjemahkan menjadi “instrumen” atau “warisan”. Tujuan dari penterjemah LXX ini mencerminkan penolakan Hagar dalam tradisi LXX. Wanita ini tidak diberi nama dalam Mazmur 5, dan warisan diberikan untuk anak Sarah dan bukan putra dari Hagar.
V.    Spiritualitas dan Lokalisasi Hagar
Kisah kelangsungan hidup Hagar berkaitan dengan janji generasi berikutnya. Hagar mendapat janji Allah tentang kelahiran Ismail setelah ia melarikan diri dari Sarah. Pemberitaan Ismail dalam ayat 11 menunjukkan kehendak dan berkat Allah. Kedua ayat 11 dan 12 memiliki struktur yang sangat khas pemberitaan: “pengumuman kelahiran seorang putra (v.11a), nama (11b), dan definisi dari takdirnya (12)”.
Struktur pemberitaan yang menjelaskan peran penting Hagar dalam kisah Abraham. Janji anak untuk Hagar telah dibandingkan dengan janji akan Yesus kepada Maria dalam Lukas 1: 28-32. Pemberitaan tentang kehadiran anak laki-laki adalah titik balik dari kehidupan ibu-ibu ini. Nama anak Hagar adalah Ismael, yang berarti “Tuhan mendengar”.Untuk Hagar, nama Ismael memberikan harapan bagi masa depannya karena Allah mendengar penderitaan Hagar. Pemberian nama ini memberikan harapan bagi Hagar dan Ismail, dan harapan bagi mereka yang akan tertindas oleh orang Mesir dan yang  menangis kepada Allah. Allah akan mendengar penderitaan orang Israel di Mesir. Arti dari pengharapan Hagar meluas kepada orang-orang Yahudi, yang akan mengalami keselamatan dan pembebasan. Spiritual Hagar tidak terbatas pada dirinya sendiri, tetapi merupakan bagian integral dari tradisi Yahudi.
Hagar mungkin frustrasi karena marjinal, status tunawisma-nya. Hagar mungkin tidak memiliki teman / pengikut karena status kehidupan yang menyakitkan.Namun, El-Roi memberi kekuatan untuk bertahan hidup antara menjadi orang dalam dan orang luar bagi Hagar. Nama yang diberikan juga menampilkan sumur Lahai-Roi (Kejadian 16:14). Sumur Lahai-Roi yang berarti “Sumur tempat yang hidup melihat saya” adalah tempat pemberitaan Hagar dan wahyu Allah. Nama sumur Lahai Roi “berdiri sebagai pengingat permanen lawatan penuh belas kasihan Tuhan.” Tuhan menunjukkan belas kasihan kepada Hagar yang tidak yakin akan  identitasnya sebagai orang luar yang hidup dengan orang Israel, tetapi di kemudian hari menjadi sepenuhnya terintegrasi sebagai leluhur yang dihormati. Tindakan dan percakapan Allah dengan Hagar menunjukkan bahwa Hagar bukanlah ibu dari musuh-musuh agama Kristen. Hagar tidak lagi diperlakukan sebagai orang luar, tetapi diperlakukan sebagai orang dalam di dekat sumur Lahai-Roi.
Apakah Ishak memiliki perseteruan terhadap Hagar dan Ismail? Teks-teks Alkitab tidak memberitahu kita tentang kehidupan sehari-hari dari karakter ini. Namun, sumur Lahai-Roi muncul dua kali dalam kisah Ishak. Pertama, Ishak bertemu istrinya Ribka setelah datang dari sumur Lahai-Roi dalam Kejadian 24:62. Kedua, setelah kematian Abraham, Allah memberkati Ishak dan Ishak berdiam dekat sumur Lahai-Roi (Kejadian 25:11). Keberadaan sumur Lahai-Roi adalah koneksi simbolik antara Hagar dan Ishak. Dengan demikian, sumur Lahai-Roi merupakan rekonsiliasi antara orang luar dan orang dalam, dan peringatan akan Hagar yang mewakili inklusifitas dari keluarga Abraham, kemarin dan hari ini.
VI.   Kesimpulan
Perjalanan spiritual Hagar dari keluarga Mesir ke keluarga Abraham mencerminkan proses pembicaraan agama. Meskipun ia adalah orang luar, dia menjadi orang dalam dengan proses spiritual inklusivisme: mobilitas, kelangsungan hidup, dan lokalisasi. Orang memilih apa yang perlu ditinggalkan dan apa yang patut dipertahankan, ketika mereka berhadapan dengan agama-agama lain. Pengalaman Hagar mewakili dinding antara orang luar dan orang dalam, tetapi Allah mendamaikannya dan memberikannya harapan untuk anaknya dan masa depan, dan mencurahkan belas kasihan dengan menjanjikan generasi masa depannya.
Pengakuan atas satu dasar antara Kristen, Yahudi, dan Islam karena garis keturunan spiritual dari Abraham; fakta bahwa orang percaya dari ketiga agama tersebut berbagi Abraham tidak berarti itu akan menjadi “landasan bersama untuk membawa perdamaian dan keadilan yang lebih besar ke dunia global pluralistik.” Namun, perjalanan spiritual Hagar menawarkan contoh penerimaan dan rekonsiliasi, yang bisa menginspirasi dialog agama. Kehidupan Hagar mencerminkan pertanyaan identitas terpinggirkan: “Apakah saya seorang hamba? Apakah saya istri Abraham? Apakah saya seorang Mesir atau Israel? Apakah saya salah satu dari mereka? Apakah saya baik? Apakah Ismail seorang Mesir atau Israel?”. “Batas” antara orang luar dan orang dalam dapat menjadi tempat yang menakutkan dan bermusuhan, tetapi juga tempat berbuah karena Allah melihat konflik Hagar dan memberinya masa depan. Tuhan juga melihat percakapan agama kita, hari ini.

R. ASTUTI SITANGGANG, SH., MH