Monday, October 16, 2017

Tujuh Bulan Berkarya di Perkumpulan Sahabat Insan

Catatan Marsiana Inggita D.A - relawan Sahabat Insan
Perasaan galau dan resah ketika mengetahui bahwa kantor tempat aku bekerja akan gulung tikar. Atasanku berkata bahwa beliau tidak dapat lagi meng-handle perusahaan jasa konsultan arsitek dan beliau tidak tahu lagi mau dibawa ke arah mana perusahaan tersebut. Dengan sangat terpaksa, aku pun harus mengajukan pengunduran diri lantaran perusahaan sudah tidak akan beroperasi lagi per 2 – 4 bulan lagi. Bingung dan sempat memikirkan nasibku kedepannya. Bahkan aku sempat berpikir bagaimana aku bisa menabung untuk masa depanku? Tapi aku berusaha untuk lepas bebas dan percaya bahwa akan ada yang lebih baik datang kepadaku tanpa harus khawatir. Percaya bahwa Tuhan pasti memelihara aku selama aku mencari pekerjaan lain dengan diimbangi perasaan bersyukur.
IMG20170929171533

Piagam penghargaan dari Sahabat Insan
Setelah mengajukan resign, aku bertemu salah satu temanku, yang sedang mencari pekerjaan juga. Dia menceritakan bahwa dirinya direkrut oleh salah seorang Romo kenalan kami berdua untuk menjadi relawati di Perkumpulan Sahabat Insan. Nama Romo kami adalah Romo Ignatius Ismartono, SJ. Romo Is begitu panggilannya, mengajak kami berdua untuk membantu beliau menjadi para relawati beliau di yayasan tempat beliau berkarya. Beliau mengetahui bahwa kami berdua adalah orang-orang yang berjuang mencari pekerjaan tetap lalu mengajak kami untuk aktif terlebih dahulu sebagai relawati di Sahabat Insan sehingga kami benar-benar mempunyai suatu kegiatan produktif sembari mencari pekerjaan. Istilahnya seperti “gak nganggur bangetlah” hehehee… . Romo juga mengatakan bahwa selama kami menjadi relawati, kami akan tetap mendapatkan uang kehadiran.

IMG20170929111208
Ruangan Sahabat Insan

Sejak saat itulah aku mengenal Perkumpulan Sahabat Insan. Aku sendiri bingung sebetulnya Sahabat Insan ini sendiri bergerak di bidang apa. Tetapi ketika Romo Is menjelaskan, ya aku menjadi sedikit tahu. Penanggung jawab dari Perkumpulan Sahabat Insan ini adalah Romo Is sendiri. Sahabat Insan merupakan sebuah komunitas para relawan dimana selanjutnya dikelola oleh Pelayanan Krisis dan Rekonsiliasi KWI untuk melanjutkan semangat memberi perhatian kepada mereka yang memerlukan pertolongan dalam mempertahankan hidupnya. Setelah PKR KWI ditutup oleh Presidium KWI pada tanggal 12 Agustus 2010 berdasarkan Surat Keputusan No 161/Pres/K/VIII/2010, Sahabat Insan tetap melanjutkan pekerjaannya secara mandiri sebagai komunitas relawan.
Banyak hal yang aku alami sebagai relawati di Sahabat Insan. Dari yang mulai membantu Romo dalam hal copywriter artikel, magang di Migrant Care hingga membantu Romo dalam hal pelaksanaan diskusi atau seminar. Oya, aku dan temanku pernah diutus Romo untuk magang di Migrant Care loh! Disana kami diajak berpartisipasi dalam hal penanganan masalah-masalah yang terjadi pada Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Seperti misalnya ada kasus mengenai perjanjian kerja antara agen A dengan negara Malaysia, nah kami diajak untuk mengikuti rapat di Kementrian Ketenagakerjaan agar kami tahu bagaimana cara kerja Migrant Care sendiri dalam menangani bentuk permasalah yang terjadi pada Tenaga Kerja Indonesia. Setelah itu kami diharuskan membuat jurnal perjalanan kerja kami di Migrant Care dan di posting ke web Sahabat Insan.

IMG20170929111226
Meja, tempatku berkarya selama di Sahabat Insan

Kami magang di Migrant Care hanya berjalan 3 bulan, selanjutnya kami mengabadikan diri untuk tetap membantu Romo di Sahabat Insan yang kantornya terletak di Sanggar Prathivi Building Lt. 2 Jl. Pasar Baru Selatan No. 23 Jakarta Pusat 10710. Kurang lebih sekitar 2 bulanan, temanku meninggalkanku karena beliau sudah diterima kerja di sebuah perusahaan. Mendadak aku galau lagi karena lama sekali aku belum juga dipanggil oleh perusahaan – perusahaan tempat aku melamar. Tapi dari kegalauan itu aku mempunyai keyakinan bahwa suatu saat aku akan mendapatkan kerja yang jauh lebih baik, penghasilan tetap dan percaya jika aku bersabar, Tuhan akan memberikan segala sesuatunya baik sesuai kehendakNya dan Tuhan masih memelihara aku walaupun penghasilanku tidak banyak.
Selain pernah magang di Migrant Care, aku pun pernah membantu Romo dalam menyiapkan segala hal yang berkaitan dengan diskusi / bedah buku maupun seminar yang Romo dan rekan-rekan relawan sering adakan. Biasanya diadakan setiap sebulan sekali. Senang sekali bisa ikut berpartisipasi dalam menyiapkan acara tersebut apalagi aku bisa mengenal banyak orang yang sebelumnya aku tidak tahu.

IMG20170929170016
Bersama Romo Ignatius Ismartono SJ, Penanggung Jawab Perkumpulan Sahabat Insan

Pada akhirnya, pekerjaan baru pun kunjung datang. Aku diterima di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Property Management sebagai Administrative Assistant. Kurang  lebih tujuh bulan selama di Sahabat  Insan bagiku cukup berarti. Karena sebelum aku merasakan rutinitas, aku bisa merasakan pengalaman-pengalaman yang sungguh luar biasa yang pernah aku alami. Aku bersyukur Tuhan memelihara hidupku lewat pengalaman di Sahabat Insan dan rasa syukurku juga untuk dapat berkenalan dengan orang-orang hebat yang aku temui selama menjadi relawan di Sahabat Insan.
Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk Romo Ignatius Ismartono SJ, Mbak Vincentia Hertanti Kistiorini, Pak Felix Aryunianto dan semua kerabat yang tak bisa kusebutkan satu persatu yang sudah banyak memberikan pelajaran dan pengalaman berharga selama aku berkarya di Sahabat Insan. Semoga kalian semua senantiasa diberikan kesehatan semangat dalam berkarya dan juga semoga Sahabat Insan dapat sukses kedepannya dan menjadi komunitas yang dapat menginspirasi banyak orang, khususnya kaum muda untuk lebih berani dalam melayani sesama sebagai relawan sejati.
Sampai bertemu di kesempatan selanjutnya ~ 😀





Wednesday, October 11, 2017

Towards No End And Yet Still Beginning

The morning started differently. A tram and bus ride into town found me looking at newspapers lining a park bench, someone's bed for a drizzly night. An old person tried to speak Mandarin to me. Persons getting on the bus and saying, “I've no money,”or using whatever change they have, and being allowed onboard. A very tired, worn, homeless person looking for shelter, asking for a prayer. Another person looking longingly at a basketball game they would probably love to be playing. And it isn't even winter yet.

Going to a brief workshop organised by A Faith That Does Justice(http://www.faith-justice.org/)on the Spiritual Exercises of St Ignatius of Loyola,seemingly includeda God-sized welcoming party. Surprises surfaced, including getting lost, yetgetting to know other people of goodwill, of old souls and big love. Of speaking truth to power, and of speaking to be less lonely and build community - two unnecessarily different activities that morning.

If we look closely, we can see many people of goodwill. Yet we are not always good at being good to ourselves –how can we be good for others? By being as good as we can, and not as we cannot. Like the person who gave up salt, pepper and butter twenty years ago, and is working on giving up hard drinking (but loves milk a lot). Like the poor who may be bent by circumstances, but not their smiles. Unlike the rich who make money unjustly, burden the downtrodden unnecessarily, and refute with legal arguments that there was no crime. What unfolded then and later, with or without reflection or intervention, was still up to them.

It is human to think of survival. Being people of goodwillbecomes apparent when we reach out, and does not stop until we have stopped for good ourselves.Better still, remember that this journey is a journey of countless steps, but any start requires just one step, over and over again.

Take some time. Rest and reflect. A little reflection helps, because our intentions do not limit our horizons, an easy and frequent misunderstanding.  Try, for we can and should ask that of ourselves, and be generous with our failures and ourselves as others had been, and even then, always be ready to begin again.



Michael Phung, SJ 

Sunday, September 24, 2017

Kisah Suster Penjemput Jenazah



"Suster, mau menjemput jenazah ya?"

Sapaan itu selalu terdengar dari petugas kargo Bandara El Tari, Kupang Nusa Tenggara Timur saat Suster Laurentina, PI, salah satu relawan Sahabat Insan yang saat ini bertugas di Kupang, tiba di sana. Tampaknya petugas tersebut telah hafal karena seringkali suster datang ke tempat tersebut untuk menjemput jenazah TKI asal NTT yang dikirim dari Malaysia. Pemulangan jenazah memang menjadi salah satu pelayanan utama suster bersama Koalisi Peduli Migran NTT karena banyaknya jenazah yang dikirimkan ke daerah ini setiap tahunnya. Tahun ini saja, menurut catatan jaringan tersebut, sudah 94 jenazah yang telah dikirimkan dari Malaysia. Sedangkan menurut BP3TKI, sampai pertengahan bulan September 2017 ini, data jenazah yang mereka terima adalah 51. Perbedaan data yang cukup besar ini disebabkan karena berbagai macam alasan, menyangkut prosedur pemulangan jenazah.


Sebenarnya prosedur  pemulangan jenazah ke tanah air saat ini tidak serumit dulu. Pihak KBRI akan langsung memproses laporan yang masuk jika jenazah tersebut memiliki identitas jelas, nama sebenarnya (bukan nama samaran), surat keterangan dari desa yang menyatakan bahwa jenazah adalah warga desa tersebut, dan siapa yang akan menerima jenazah di kampung. Namun, kebanyakan buruh migran maupun keluarga tidak berani untuk melaporkan secara langsung, karena kurangnya informasi ditambah lagi kondisi mereka yang penuh dengan ketakutan karena pergi merantau secara non-prosedural. Beberapa keluarga korban yang sempat ditemui oleh suster mengatakan bahwa untuk memulangkan jenazah, mereka menggunakan biaya sendiri, bahkan terkadang harus dengan cara berhutang ke PT yang bersangkutan, kemudian keluarga tersebut bersama-sama mengumpulkan iuran untuk membayarnya. Ada juga jenazah yang biaya pemulangannya ditanggung oleh  PT, namun identitas jenazah tidak dituliskan dalam peti, dan hanya mencantumkan nama penerima jenasah saja karena PT yang bersangkutan tidak mau diketahui oleh pemerintah karena khawatir akan diusut jika terjadi masalah dalam kematian korban tersebut. Banyaknya kasus – kasus seperti inilah yang membuat adanya perbedaan antara data administratif dan data di lapangan. Namun demi kemanusiaan, baik jenazah yang berstatus tenaga kerja prosedural maupun non-prosedural tetap dilayani dengan hati yang tulus dan ikhlas oleh Koalisi Peduli Migran NTT dan BP3TKI.

Dalam melaksanakan karya pelayanannya di Kupang, Sr Laurentina, PI menghadapi tantangan dan perjuangan tersendiri. Hampir tiap minggu beliau selalu menerima kabar duka dan mendapatkan permintaan baik dari jaringan koalisi yang ada di NTT maupun dari BP3TKI untuk pergi ke bagian kargo Bandara El-Tari menjemput dan mengantar jenazah jam berapa pun mereka tiba. Untunglah letak bagian kargo Bandara El Tari tidak terlalu jauh dari biara tempat suster bertugas sehingga beliau bisa bertindak dengan sigap. Pernah pada suatu malam suster menerima pemberitahuan bahwa akan ada jenazah yang datang dengan jadwal kedatangan pukul 22.55 WITa sehingga beliau segera berangkat menuju bandara. Namun sampai di sana petugas kargo mengatakan bahwa pesawat mengalami keterlambatan dan baru akan mendarat pukul 00.00. Akhirnya suster pun pulang ke biara dan kembali lagi berangkat menuju bandara pada pukul 23.30 WITa. 


Setelah menerima jenazah dari bagian kargo, suster akan melihat identitas jenazah tersebut. Di provinsi NTT ini, seseorang bisa ditentukan asal sukunya dari nama marganya. Kalau KTP tak dipalsukan, maka keluarga gampang dicari. Bahkan agama jenazah tersebut bisa diidentifikasi berdasarkan nama kota tempat dia berasal. Misalnya jika jenazah berasal dari daerah Kupang, Soe, Rote dan Sumba maka besar kemungkinan ia beragama Kristen Protestan. Sedangkan jika jenazah berasal dari TTU, Belu, Malaka dan dataran Flores, maka kemungkinan besar jenazah beragama Katolik. Identifikasi agama ini digunakan untuk menentukan apakah suster akan menghubungi pastor atau pendeta untuk mendoakan jenazah tersebut. Jika beragama Katolik, maka doa akan dipimpin oleh seorang pastor dan dilakukan baik saat jenazah berada di kargo maupun saat disemayamkan di Rumah Sakit Umum Kupang. Jika jenazah beragama Kristen Protestan, maka pendeta dan teman-teman dari Sinode yang akan berdoa . Jika pastor atau pendeta tidak bisa dihubungi, maka suster akan berdoa sendiri.  




Bagian paling menyedihkan tentu saja mengabarkan dan menyerahkan jenazah kepada keluarga. Bagaimana tidak. Mereka berharap anggota keluarga mereka pergi merantau jauh ke negeri orang agar dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga besarnya, namun kenyataan yang harus diterima adalah ia harus pulang dalam keadaan tak bernyawa. Bagaikan jatuh tertimpa tangga, saat harapan untuk masa depan yang lebih baik pupus, dan harus kehilangan anggota keluarga. 




Entah sampai kapan suster akan terus menerima jenazah-jenazah tersebut. Persoalan yang penyelesaiannya bagaikan mengurai benang kusut ditambah lagi dengan budaya lokal yang sudah berjalan bertahun-tahun dan oknum-oknum yang memanfaatkan keadaan memang tidak mudah untuk diselesaikan dalam sekejap mata. Namun Sr. Laurentina, PI tentu tidak patah semangat untuk terus berkarya. Banyak usaha yang telah dilakukan untuk sedikit demi sedikit memperbaiki keadaan di sana. Selain menjemput jenazah, sehari-hari suster juga melakukan kunjungan dan sosialisasi trafiking ke berbagai daerah di NTT, serta mendampingi korban yang mengalami kekerasan baik fisik maupun psikis. Semoga segala upaya tersebut dapat menjadi jalan pembuka untuk kehidupan yang lebih baik bagi saudara-saudara kita di NTT.

Monday, July 3, 2017

Pendampingan Sr Laurentina Untuk Pekerja Migran di NTT

Sejak awal April 2017, salah satu relawan Sahabat Insan, Sr. Laurentina, PI, diberi penugasan baru untuk memimpin sebuah wisma  di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah beliau menyelesaikan pendidikannya di Kampus Widuri, Jakarta Timur. Penugasan ini menjadi sangat relevan dengan kegiatan Sr. Laurentina yang selama ini aktif memperjuangkan hak-hak buruh migran Indonesia (BMI), terutama yang berasal dari NTT. Seperti kita ketahui bersama, NTT merupakan salah satu daerah penyumbang BMI terbanyak di Indonesia, dan selama ini cukup banyak masalah yang terjadi di daerah tersebut. Diharapkan kehadiran Sr. Laurentina di sana dapat menjadi penghubung antara BMI dan pemerhati migran di NTT dengan para pemerhati migran di Jakarta sehingga penyelesaian masalah dapat dilakukan dengan lebih efektif.

Sampai hari ini, sudah beberapa kasus yang ditangani oleh Sr. Laurentina. Misalnya pada akhir bulan April 2017 Ibu Atik dari RPTC meminta bantuan untuk cari alamat korban yang bermasalah di Biboki Utara. Suster langsung bergerilya untuk mencari alamat tersebut dan menemukan keluarga yang dicari. Korban merupakan pekerja migran perempuan berusia 23 tahun.  Ia bekerja merawat lansia sejak 2 tahun yang lalu di Malaysia. Awalnya ia diberitahu bahwa pada tiga bulan pertama gajinya akan dipotong untuk biaya administrasi, namun kenyataannya sampai 9 bulan kemudian ia tetap tidak menerima gaji. Pada suatu hari, tiba-tiba ia dijemput agen dan tinggal di kantor agen selama kurang lebih satu minggu. Setelah itu, bukannya dikembalikan kepada majikan, ia malah dibawa ke kantor polisi Malaysia dan dipenjara selama 2 bulan. Keluar dari penjara, ia dikirim ke KBRI dan dideportasi ke Indonesia melalui RPTC. Dari RPTC, korban bersama rombongan yang terdiri dari 12 orang dipulangkan ke Kupang naik kapal laut. Sesampainya di Kupang, korban untuk sementara waktu akan tinggal di biara terlebih dahulu sebelum diserahkan ke keluarga angkatnya. Bapak dan ibu kandungnya sendiri sudah meninggal sejak ia berusia 4 tahun.

Pengalaman lainnya adalah saat Sr. Laurentina bergabung dengan Tim Koalisi Peduli NTT untuk mengantar - jemput jenasah pekerja migran yang dikirimkan dari Malaysia. Menurut data dari BP3TKI, ini adalah jenasah yg ke-33 yang dikirimkan ke NTT selama tahun 2017. Namun data dari tim koalisi sendiri menyebutkan ini adalah jenazah ke-44 yang diterima sepanjang tahun ini.




Koalisi Insan Peduli Migran sendiri merupakan sebuah perkumpulan yang dibentuk pada tahun 2016, untuk membantu para migran khususnya di NTT terutama dalam hal advokasi, pelayanan pastoral dan pemberdayaan ekonomi. Tim ini memiliki prosedur untuk penanganan jenazah. Saat menerima informasi dari BP3TKI bahwa ada jenazah yang dipulangkan, maka tim akan menghubungi keluarga untuk memberikan informasi tentang kematian anggota keluarga mereka dan melakukan persiapan yang perlu dilakukan. Sr. Laurentina sendiri pada tanggal 14 Juni 2017 ikut menjemput jenazah di bandara El-Tari Kupang yang tiba pada pukul 10.30 Wita, dan kemudian disemayamkan d RSU Kupang. Keesokan harinya pada pagi hari jenazah tersebut diantarkan kembali ke bandara, kemudian dilakukan doa bersama dan pada pukul 13.30 Wita jenazah tersebut diterbangkan ke tujuannya masing-masing, satu jenazah ke Maumere dan satu jenazah lagi ke Larantuka. Di tempat tujuan, mereka akan dijemput oleh keluarga masing-masing untuk dimakamkan.

 Pada awal Juni 2017, Sr. Laurentina juga ikut mendampingi seorang pekerja migran yang dipulangkan dari Malaysia dalam keadaan sakit. Menurut yang bersangkutan, YP (24 tahun) direkrut pada bulan Juli 2014 dan dijanjikan untuk bekerja di kota Kupang. Namun ternyata dalam perjalanannya, ia dibawa untuk bekerja di Malaysia, dan selama 3 tahun bekerja di sana ia mengalami penyiksaan oleh majikan, tidak menerima gaji, dan makan hanya 1x sehari sehingga ia mengalami kekurangan gizi dan kondisi fisik menurun drastis. Saat dikunjungi oleh Sr. Laurentina, kondisinya sudah sangat lemah karena terserang TBC sehingga harus menjalani perawatan secara intensif di rumah sakit setempat.

Semoga dengan penugasan Sr. Laurentina di Nusa Tenggara Timur, dapat semakin memperhatikan dan membantu nasib pekerja migran di sana, karena masih banyak sekali pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dan diperjuangkan. Selamat bertugas Suster..

Monday, June 12, 2017

Peluncuran Buku "Miqat Kebinekaan"

Pada hari Jumat, 9 Juni 2017 pukul 15.00 WIB di Gedung PBNU diadakan peluncuran buku "Miqat Kebinekaan: Sebuah Renungan Meramu Pancasila, Nasionalisme, dan NU sebagai Titik Pijak Perjuangan" yang ditulis oleh A. Helmy Faisal Zaini. Peluncuran ini dihadiri oleh para pemuka lintas agama di Indonesia, yaitu Romo Agus Ulahayanan (Komisi HAK KWI), Pendeta Andreas Anangguru Yewangoe (PGI),  Bhiksu Wiraduta (Budha), Romo Daniel Bambang Dwi Byantoro (Gereja Ortodoks Indonesia)  dengan keynote speaker Ketua PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj.  Buku ini merupakan kumpulan naskah dari penulis dalam merespons berbagai persoalan nasionalisme kebinekaan Indonesia dari sudut pandang Nahdlatul Ulama.

Acara diawali dengan penandatangan giant cover, dilanjutkan dengan penyerahan buku secara simbolis dari penulis kepada nara sumber, sambutan-sambutan, serta diskusi oleh para nara sumber yang ditutup dengan buka puasa bersama.


Sambutan diawali oleh Direktur Penerbit Erlangga Bapak Marulam Hutahuruk. Beliau mengatakan bahwa buku ini lahir oleh jiwa yang rindu akan kedamaian dalam kebinekaan, di tengah konflik SARA yang saat ini sangat kental di Indonesia. Buku ini kaya rasa karena membahas dari sisi ekonomi, sosial, budaya, dan politik.

Penulis sendiri menjelaskan, bahwa judul buku ini menggunakan kata miqat, yang dalam bahasa Arab artinya 'batas'. Miqat Kebinekaan menggabungkan antara miqat zamani (waktu) dan miqat makani (ruang). Dimensi ruang dan waktu yang bertemu menjadi kebersamaan itulah yang disebut Miqat Kebinekaan. Lebih jauh penulis mengatakan, bahwa motivasinya menulis buku ini adalah karena banyaknya gerakan yang jauh dari nilai keislaman. Di buku ini ia ingin menampilkan Islam yang ramah, merangkul dan cinta damai.

Sebagai keynote speaker, Ketua PBNU Prof. Dr. KH. Said Agil Siroj dalam kesempatan ini menegaskan bahwa keragaman agama dan budaya di Indonesia merupakan penghargaan dari Tuhan. Lahir di Indonesia, artinya sudah sengaja didesain dan disiapkan oleh Tuhan sebagai bangsa yang bineka dan ini tidak bisa ditawar. Fakta ini sudah diungkap oleh KH Hasyim Ashari, bahwa Islam dan nasionalisme harus saling memperkuat. Nasionalisme adalah bagian dari iman, karena keimanan belum sempurna kalau belum ada semangat nasionalisme. Sejak jaman dulu, NU adalah pembentuk karakter dan jati diri bangsa yang kuat dan solid, akur, gotong royong, cinta damai, tidak menebar fitnah dan kebencian. Para Ulama bergerak di akar rumput dengan menggunakan acara Tahlilan sebagai media rekonsiliasi. Terciptanya kebinekaan salah satunya karena karena para pendiri bangsa punya empati yang besar terhadap minoritas, dan kebinekaan harus dirawat agar tetap dapat dinikmati oleh generasi-generasi mendatang.

Selanjutnya, dalam sesi diskusi dan bedah buku, Pdt Andreas dari PGI mengatakan bahwa dalam buku ini penulis dengan sangat tegas dan berani menyatakan bahwa Pancasila sudah final dan tidak boleh diotak-atik lagi. Hanya perlu dipikirkan bagaimana mengimplementasikan dan mengaktualkan nilai-nilai Pancasila tersebut dalam hidup sehari-hari sehingga tidak hanya berhenti sebagai hafalan. Penulis juga menegaskan bahwa iman Islam bisa difahami secara konkrit dalam ranah nasionalisme. Ini juga memberi ruang kepada agama lain bahwa iman hidup dalam nasionalisme dari perspektif agama masing-masing. NKRI konsep final bangsa indonesia dalam bertata negara. Islam Nusantara dididik dalam Pesantren, sehingga Pesantren memainkan peranan yg penting dalam bernegara. Sekretaris Komisi HAK KWI, Romo Agus Uluhayana menambahkan bahwa Pancasila berhasil mengemas semangat Ketuhanan dan kemanusiaan tersebut secara apik menjadi dasar ideologi bangsa. Apabila kelompok yang berbeda saling menghujat, maka mereka tidak lagi menghayati nilai Pancasila, dan di saat yang sama menentang hasil ciptaan Yang Maha Kuasa. Bhiksu Wirayuda kemudian menegaskan agar masyarakat kembali mengingat semangat Sumpah Pemuda, yaitu satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, dan didalamnya tidak ada kata-kata satu etnis ataupun satu agama. Romo Daniel dari Gereja Ortodoks Indonesia  punya kegalauan sendiri dengan situasi sekarang yang didominasi dengan ancaman dan penuh kebencian.tanpa ada perlawanan. Beliau berharap bahwa akan ada yang dengan kencang menyuarakan pesan damai, seperti yang dilakukan dengan peluncuran buku ini.  Perbedaan yang sudah ada sejak dahulu kala harusnya diwadahi agar tidak terjadi konflik.

Sebagai kata penutup, seluruh perserta sepakat bahwa untuk mengatasi kondisi saat ini, yang diharapkan bukanlah bagaimana mengubah orang yang intoleran menjadi toleran, namun bagaimana orang toleran dapat menjadi agen toleransi. Narasi dalam bentuk tagline/pesan singkat juga sedang dikembangkan agar hal-hal yang disampaikan dapat ditangkap dengan mudah oleh masyarakat. Agar masyarakat tahu, bahwa Pancasila adalah sebuah perkawinan antara local wisdom dan ajaran agama sebagai sesuatu yg indah dan tidak bertentangan . Yang tidak kalah penting adalah mengingatkan bahwa Pancasila digali dari nilai-nilai bangsa, sehingga sebenarnya sudah hidup mengakar di masyarakat kita dan hanya disarikan oleh para pendiri bangsa. Negara hanya bisa mengatur secara kebijakan agar nilai-nilai tersebut selaras dengan kesepakatan kita dalam Pancasila. Oleh sebab itu, cara paling tepat untuk menghidupkan kembali Pancasila di masyarakat adalah dengan pendekatan bottom up, bukan top down. Akhir kata, semua pihak bersyukur dengan adanya NU yang sejak jaman dahulu sampai hari ini dengan gigih memperjuangkan kebinekaan. Diharapkan lembaga-lembaga keagamaan lain pun memiliki semangat yang sama sehingga dapat saling memperkuat dan membentengi diri terhadap semua pengaruh buruk yang dapat merusak kedamaian NKRI.